03 November 2015

Icip-Icip Dessert di The 101 Hotel



Selama beberapa hari di akhir September hingga awal Oktober kemarin saya berkesempatan menginap di The 101 Hotel Jakarta Sedayu Dharmawangsa. 

Hotel yang terletak di Darmawangsa Square ini nyaman. Namun, saya tak bisa sepenuhnya menikmati kenyamanan itu karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Yup, saya menginap di sana memang dalam rangka bekerja.
Nggak usah jauh-jauh, deh. TV dengan puluhan saluran di kamar saja tak sempat dinyalakan. Pukul tujuh sudah turun ke ruang makan, lalu mendekam di ruang meeting sepanjang hari. Kembali sebentar ke kamar untuk shalat Zuhur, Ashar, dan Maghrib. Malam hari, masuk kamar pun sambil memeluk setumpuk berkas. 

Tempat Favorit

Hahaha…. Jujur saja, restoran dan lounge hotel ini menjadi tempat favorit saya. Karena saya hobi makan? Haduuuh… nggak juga. Bagi saya makan itu untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Lagi pula, tak semua makanan yang tersedia di sana bisa saya santap karena pertimbangan kesehatan. 


Jadi, meskipun makanan di hotel ini menggugah selera dan teman-teman saya sering mengiming-imingi “Ini enak banget, Noooo”, saya tak tergoda. Paling-paling hanya bisa nyengir melihat makanan berbahan udang atau cumi-cumi yang menguarkan aroma sedap.
Lantas, makan apa?
Wohoho… kalem. Banyak pilihan, kok. Tapi yang mau saya ceritakan di sini hanya dessert-nya.


Dessert di  The 101 Hotel
Seperti biasa, ini berarti "Eno was here". :D

Dari Dessert ke Dessert

Well, saya memang penggemar dessert. Mungkin karena saya memang lebih suka mengemil daripada menyantap makanan berat. Lagi pula di area dessert ini saya tak perlu bertemu dengan beraneka pantangan. Whuaaa… senangnya.
Beragam hidangan penutup saya nikmati di sana. Puding termasuk yang sering muncul. Favorit saya adalah puding yang berwarna cokelat dengan saus madu ini. Manis, lembut, dan sepintas ada rasa seperti biskuit marie, tapi dalam versi yang sangat lembut.


Puding, cheese cake, dan black forest. Dessert yang maknyus di The 101 Hotel.
Terganggu dengan penyajiannya yang sepiring bertiga dengan cheese cake dan black forest? Hehehe… itu karena saya males mondar-mandir mengambil dessert yang semuanya menggoda mata. Jadi, saya gabungkan saja dalam satu piring. Cheese cake-nya juga sedap menggoyang lidah. Tapi saya tetap menempatkan si puding ini di nomor satu karena rasanya lebih ringan dan segar.
Di lidah saya, puding-puding yang lain tak seenak puding yang satu ini. Vlanya juga terlalu terasa susunya. Bagi orang lain sih mungkin enak. Sayangnya, saya bukan penikmat susu.
Dessert di  The 101 Hotel
Serba puding di The 101 Hotel Jakarta Sedayu Darmawangsa.

Selain bermacam-macam puding, beraneka pastry juga tersedia di sana.
Dessert di  The 101 Hotel
Ada pie, camilan kesukaan saya. :)
Dessert di  The 101 Hotel
Beraneka pastry.
Bisa menebak mana favorit saya? Betuuuul…. Pai buah. Saya suka pai, makanya saya ambil dua. Hehehe…. Alhamdulillah, rasanya memuaskan. Kulit painya renyah (tapi tidak terlalu renyah sehingga belum-belum sudah hancur). Tekstur dan rasa vlanya juga pas di lidah saya. Terasa manis tapi tidak terlalu manis sehingga malah membuat saya ingin menambah beberapa potong pai lagi… kalau nggak malu. :D
Pizzanya juga enak. Tapi mungkin karena saya sudah lebih dulu kenyang sarapan nasi, kelezatannya jadi tidak terasa maksimal. Pastry lain yang sempat saya cicipi sih menurut saya tidak istimewa.

Jajan Pasar di Hotel Bintang 3.5

Kue-kue tradisional Indonesia juga hadir sebagai hidangan penutup di The 101 Hotel. Beraneka warna dan berukuran imut-imut. Dibandingkan dengan kue-kue tradisional yang biasa dijual di pasar atau toko kue di depan kompleks saya, yang di The 101 ini memang berukuran lebih imut. Ada bika ambon, kue lapis, apem, kue pukis, dan kue talam.
Dessert di  The 101 Hotel
Jajan pasar di hotel berbintang.
Keberadaan kue-kue jajan pasar di hotel sekelas The 101 Hotel Jakarta Sedayu Dharmawangsa ini patut diapresiasi. Iya, dong. Biar orang-orang asing yang nginep di sini juga kenal sama kue khas Indonesia. Selain kue jajan pasar, ada juga beberapa bubur manis khas Indonesia seperti bubur ketan hitam.
Itu yang kue-kue. Gimana dengan hidangan penutup berupa buah-buahan? Waaah… selalu tersedia kalau yang ini mah. Penikmat buah-buahan dimanjakan, deh, di sini. Tapi buat saya buah-buahan bukan hidangan penutup. Saya biasa memakan buah dulu, baru kemudian hidangan utama dan hidangan penutup. Menurut beberapa artikel yang pernah saya baca, urutan seperti ini lebih sehat bagi tubuh, sekaligus dapat menekan nafsu makan sehingga mengurangi risiko kegemukan.
Nah, kamu kira-kira suka dessert yang mana?
                                                     ***                                                        
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...