13 February 2016

Jajan Pasar, Si Penyelamat Saat Morning Sickness



Jajan Pasar, Si Penyelamat Saat Morning Sickness -- Masih segar dalam ingatan rasa bangga ketika mengetahui rendang dinobatkan sebagai makanan paling enak nomor satu di dunia. Yang bangga bukan hanya suku Minang tempat makanan lezat ini berasal, tetapi bangsa Indonesia. Selain rendang, masih banyaaak lagi makanan sedap mantap di sekitar kita. Banyak pula yang bisa dibeli dengan harga terjangkau, salah satunya adalah kue-kue jajan pasar.

Jajan Pasar si Penyelamat

Saya penikmat kue-kue basah alias jajan pasar sejak… entahlah. Sudah lama sekali, sejak masih kanak-kanak. Waktu kecil di Banda Aceh, tentu saja favorit saya kue timpan. Sayangnya, di kota tempat saya tinggal sekarang, susah mendapatkan kue khas Aceh ini.
Ketika hamil anak pertama, kue-kue jajan pasar ini juga menjadi “penyelamat” saya.


Ceritanya, kala itu saya mengalami morning sickness berkepanjangan. Tidak hanya pada pagi hari, tetapi bisa sepanjang hari. Tidak hanya pada tiga bulan (trimester) pertama, tapi sampai di bulan ketujuh.
Urusan makan menjadi masalah besar bagi saya ketika itu. Jangankan makan nasi, mencium bau beras yang sedang berproses menjadi nasi saja saya sudah muntah. Melihat nasi juga langsung huek-huek. Memaksakan diri untuk makan nasi? Tak sampai setengah jam sudah keluar lagi semuanya.
Kan bisa mendapat asupan gizi dari sumber yang cair? Susu, misalnya.
Susu? Ya ampuuun! Nggak, deh. Makasih banyak. Baru melihat kotaknya berjejer cantik di rak minimarket saja isi perut saya sudah bergolak. Gagal total, deh, khayalan saya untuk menjadi seperti ibu-ibu hamil yang minum susu dengan gaya cantik dan elegan dalam iklan susu di TV dan majalah.
Pada masa-masa itu, saya hanya bisa mengonsumsi makanan utama dari sumber-sumber selain beras. Yang terutama saya konsumsi adalah kentang dan roti sandwich buatan sendiri (biasanya berisi telur dadar atau keju) dan kue-kue jajan pasar.

Bu Kokom

Alhamdulillah, di tempat tinggal saya yang sepi di pinggiran kota Bogor, ada seorang ibu setengah baya yang hampir setiap pagi berkeliling kompleks untuk menjajakan kue-kue buatannya. Donat bertabur gula halus, risoles, onde-onde, lemper, pastel, bolu kukus, dan panada. Bu Kokom namanya.
Tahu saya sedang hamil dan tak bisa makan nasi, setiap pagi Bu Kokom mampir ke rumah saya. Kue-kue buatannya pun segera memenuhi kotak bekal untuk saya bawa ke kantor. Iya, karena tak bisa makan nasi, saya membawa kue-kue basah untuk makan siang.
Biasanya, risoles, pastel, dan panada berisi sayuran yang menjadi pilihan saya. Untuk kue manisnya, saya suka bolu kukus. Kadang-kadang Bu Kokom memberi bonus 1-2 potong kue. Katanya, supaya saya bisa banyak makan dan janin saya sehat.
Duuuh, terharu banget. Saya tahu, Bu Kokom bukan orang mampu. Suaminya telah meninggal beberapa lampau, meninggalkan dirinya dan seorang anak perempuan.
Kadang-kadang Bu Kokom tak berjualan keliling kompleks. Biasanya jika sedang ada pesanan dalam jumlah besar untuk arisan atau sedang tak enak badan.
Dari Bu Kokom saya belajar banyak hal. Belajar sabar menghadapi masalah hidup (walaupun masih saja saya tak bisa sesabar dirinya). Belajar gigih mencari nafkah halal. Belajar membuat bolu kukus juga. Sayangnya, saya selalu menghasilkan bolu kukus yang bantat. Boro-boro deh bisa mekar seperti bunga. Hehehe…. Padahal saya sudah mengikuti tip dari Bu Kokom, lho. Kalau pakai minuman bersoda, begitu botol dibuka, airnya langsung dimasukkan ke adonan. Jangan dibuka lalu dibiarkan berlama-lama. Hm… mungkin tangan saya “kurang dingin” untuk bikin bolu kukus.
Tak apalah. Kalau semua orang mahir membuat bolu kukus, siapa atuh yang mau membeli bolu kukus? Ya, kan? Ya, kan? Hihihi….
Hari ini, sudah bertahun-tahun saya meninggalkan kota Bogor. Sudah bertahun-tahun juga saya tak mendengar kabar tentang Bu Kokom. Semoga Bu Kokom dan putrinya selalu dalam lindungan Allah.
Terima kasih, Bu Kokom, sudah membantu saya melewati masa-masa sulit makan di kehamilan pertama. Janin yang dulu bikin saya susah makan itu sekarang sudah ABG dan suka sekali makan kue jajan pasar. Berdua, kami rela mengantre untuk mendapatkan kue-kue jajan pasar kesukaan kami.


Memberdayakan

Ada jutaan orang seperti Bu Kokom. Para istri yang ditinggal suami (meninggal atau bercerai), pensiunan pegawai kecil, dan masyarakat prasejahtera. Pada kalangan ini penghasilan sering tak bisa memenuhi kebutuhan dasar ketika harga-harga terus melambung. Namun, berpangku tangan dan mengharapkan belas kasihan orang lain bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan oleh mereka yang memiliki harga diri.
Banyak dari mereka yang memilih jalan berwirusaha kecil-kecilan, menjual barang atau jasa. Misalnya menerima jahitan di rumah, membuka usaha servis jam atau televisi, membuka warung makan, atau berjualan kue seperti yang dilakukan Bu Kokom.
Modal terbatas, pengetahuan terbatas, keterampilan pun kadang terbatas. Yang penting, uang yang di tangan bisa diputar sehingga menghasilkan keuntungan untuk melanjutkan hidup.
Orang-orang seperti ini layak dibantu. Seperti nasihat bijak, jika ingin membantu seseorang, berikan kail dan bukan ikan. Dengan kail itu, ia dapat berusaha mendapat ikan lebih banyak. Ia tidak sekadar dapat memenuhi kebutuhan makan sehari-hari tetapi juga dapat menjual ikan-ikan tangkapannya untuk mendapatkan penghasilan.
Bagaimana cara membantu mereka? Bagaimana supaya bantuan kita tepat sasaran? Mungkin timbul pertanyaan seperti ini. Kita dapat memilih lembaga keuangan atau lembaga-lembaga lainnya yang tepercaya. Salah satu lembaga keuangan yang dapat membantu kita adalah BTPN.
Pada tahun 2011, BTPN meluncurkan program Daya dan brand Sinaya yang memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholder BTPN untuk berpartisipasi dalam memberdayakan jutaan mass market di Indonesia. Pemberdayaan itu tidak hanya dalam bentuk modal uang tetapi juga berupa akses, informasi, dan pelatihan.
Untuk mendapatkan gambaran lebih detail, kita bisa mengikuti simulasinya di sini.
Simulasi.

Dari simulasi itu kita bisa melihat bagaimana pertumbuhan dana yang kita simpan serta bagaimana dana itu turut memberdayakan masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM. 

Baca Juga: Awug, Kue Tradisional Khas Bandung


Hidup adalah Udunan

“Hidup adalah udunan,” begitu kalimat yang sering diucapkan oleh Kang Emil, Wali Kota Bandung. Memang begitulah adanya. Sebagai makhluk sosial, manusia harus saling menolongTak harus menjadi kaya raya lebih dulu untuk bisa membantu jutaan masyarakat prasejahtera akan bersama-sama menjadi masyarakat sejahtera.

***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...