15 March 2016

Pupuk Cair Ini Gratis



Apa yang terbayang di benak Teman-teman tentang pupuk cair? Lebih tepatnya, pupuk cair yang dari sampah buah dan sayur?

“Hueks! Bau!”

“Pasti baunya busuk banget.”

Saya juga sempat berpikiran seperti itu. Yang terbayang adalah tumpukan sampah di TPS/TPA, plus air lindinya yang menggenang di mana-mana. Bau banget!

Pengolahan Sampah Sederhana
Ketika menunggu Mbak Gibthi menjemput, saya berkesempatan melihat tempat pengolahan sampah buah dan sayur di halaman belakang Superindo Ujungberung.

Tempat pengolahan sampah basah itu sederhana saja. Hanya berupa dua tong plastik besar berwarna biru tua. Bersih. Tidak ada yang berceceran di luar. Semua sampah basah masuk ke tong itu. Tong tersebut ditutup rapat, namun ada sebuah lubang udara di bagian atasnya.

Kang Herdiana dari Superindo Ujungberung mengatakan bahwa sampah buah dan sayur yang diolah dengan cara ini sama sekali (ditambah dengan EM4 untuk memfermentasikan sampah organik secara cepat)  tidak menimbulkan bau busuk. “Baunya seperti peuyeum, bau ragi,” ujarnya.

Saya nggak percaya, dong. Masa, sih, nggak ada bau busuk? Penasaran, akhirnya saya membuka tutup tong biru itu. Eh, iyaaa. Ternyata Kang Herdiana benar. Baunya seperti peuyeum atau tape. Wah, kalau nggak menimbulkan bau begini, layak banget dong buat diterapkan di rumah. 

Komposter di Superindo Ujungberung, Bandung.

Pupuk Cair Gratis
Sampah buah dan sayur yang diproses dengan cara tersebut menghasilkan dua macam produk: kompos dan pupuk cair. Itu sebabnya di bagian bawah tong ini ada keran. Fungsinya untuk mengalirkan pupuk cair.

“Trus, pupuk cair dan kompos itu dikemanain, Kang?” Benak saya menduga, pasti dijual.

Ternyata dugaan saya salah besar. Kompos dan pupuk cair hasil komposting itu tidak dijual. Warga sekitar yang membutuhkannya dapat memperolehnya secara gratis. Iya, gratis. Paling-paling bawa tempat sendiri dari rumah. Kalau untuk pupuk cair, bawa botol bekas kemasan air mineral.

Sayangnya, belum semua Superindo menerapkan hal ini. Semoga ke depannya semua cabang Superindo (bahkan semua sektor usaha dan rumah tangga) menerapkannya.

Ahaha… saya jadi teringat novel saya yang terbit tahun 2008 (ditulisnya sih tahun 2005), Kilau Satu Bintang. Alia, si mantan copywriter yang tak bisa diam di rumah, memutuskan mengolah sampah menjadi kompos. Tepatnya setelah TPA Leuwigajah longsor dan menewaskan kedua orangtua Eni, remaja yang bekerja sebagai ART di rumahnya.

Kilau Satu Bintang, novel saya yang mengangkat masalah lingkungan hidup.

Yang saya lihat sekarang bukan novel melainkan kenyataan. Senang rasanya bertemu orang-orang dan perusahaan yang berkomitmen pada masalah pengelolaan sampah.

***
  
Baca Juga

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...