13 March 2016

Sampahku, Tanggung Jawabku



Kalau biasanya saya ikut workshop tentang menulis, Kamis tanggal 10 Maret kemarin saya ikut workshop “Kelola Limbah Rumah Tangga”. Workshop ini diadakan oleh Superindo bekerja sama dengan Yayasan Perisai (Pusat Pengembangan Riset Sampah Indonesia) dan Indonesia Solid Waste Association (InSWA).

Aha! Pasti banyak ilmu baru yang bisa saya ambil dari acara itu.

Belajar dari Ahlinya

Pemateri pertama dalam workshop yang diadakan di Bumi Samami, Bandung, ini adalah Ir. Sri Bebassari, M.Si, Ketua Umum InSWA, sekaligus peraih Kalpataru tahun 2015 untuk kategori pengelolaan sampah.  

Wooow! Kalau sang ahli yang turun langsung, mesti siap-siapin karung buat menampung ilmunya, nih. Maklum, dong, beliau sudah 36 tahun belajar dan meneliti masalah sampah.

Ibu Sri Bebassari, Ratu Sampah Indonesia.

  

Ratu Sampah yang akrab disapa dengan Bu Enchi ini membuka paparan dengan memaparkan fakta tentang besarnya volume sampah yang kita produksi.

Bandung, misalnya. Dalam satu hari, ada 1.500 ton sampah di Kota Kembang ini. Repotnya, kota Bandung tak memiliki TPA (tempat pembuangan akhir) sampah  sendiri. TPA untuk sampah “produksi” warga Bandung ini berada di wilayah tetangga. Jakarta pun sama saja, bahkan lebih parah. Dalam satu hari, kota metropolitan ini menghasilkan 6.000 ton sampah yang kemudian "dikirim" ke wilayah tetangga. Tak ubahnya rumah mewah yang tak punya toilet.

Itu baru Bandung dan Jakarta. Bagaimana dengan Indonesia secara keseluruhan? Akumulasi yang sangat mengerikan. Dalam satu tahun, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 86 juta meter kubik (86 miliar liter). Jumlah ini kira-kira sebesar 22 kali candi Borobudur!


Bukan cuma Indonesia yang menghadapi masalah sampah. Negara-negara lain pun sama saja. Faktanya, kurang dari 1% penduduk dunia yang peduli sampah, padahal 100% penduduk dunia menghasilkan sampah.

Tapi kan ada negara-negara yang relatif bersih dari sampah? Misalnya aja Singapura atau Jepang. 

Iyes, betul. Singapura butuh waktu 40 tahun dan Jepang butuh waktu 100 tahun untuk melakukan sosialisasi dan mengubah mindset warganya agar mau disiplin hidup bersih. Indonesia butuh berapa tahun, ya? 


Pengelolaan Sampah yang Baik

Masalah sampah ternyata tidak bisa asal-asalan saja dikelola. Ini masalah serius yang juga berdampak serius. Menurut InSWA, pengelolaan sampah yang baik memenuhi lima aspek berikut ini.

  1. Aspek Hukum. Sebenarnya udah ada payung hukumnya, yaitu UU No. 18 Tahun 2008. Tinggal bagaimana menerapkan UU yang diperjuangkan kelahirannya selama delapan tahun ini.
  1. Aspek Kelembagaan. Prinsip kemitraan, saling mendukung dan menciptakan sistem pengelolaan terpadu.
  1. Aspek Pembiayaan.Tidak mungkin mengelola sampah dengan baik kalau tidak didukung dana. Dana kebersihan di Indonesia sekarang (kalau di RT saya mah Rp 5.000 / bulan / keluarga) masih jauh dari memadai. Akibatnya, pengelolaan sampah pun masih jauh dari memadai.
  1. Aspek Teknologi. Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah. Tentang aspek teknologi ini, Bu Enchi memberikan catatan khusus. Beliau pernah menolak program CSR dari sebuah bank swasta besar yang akan memberikan mesin pengolah sampah. Menurut beliau, mesin seperti itu nantinya justru akan membutuhkan biaya besar. Kalau modal itu tak ada, mesin  akan mangkrak, usaha pengolahan sampah pun bisa mandek. Beliau lebih menyarankan pengelolaan sampah dari skala rumah tangga yang tak butuh modal besar.
  1. Aspek Sosial Budaya. Mengubah mindset masyarakat tentang kebersihan dan pengelolaan sampah.

Registrasi dan langsung dapat goodie bag superspesial :))

Suasana sebelum workshop dimulai.
Duo multitasking: Mbak Olly Tasya dari InSWA
(kiri; sebagai fasilitator workshop sekaligus MC)
dan Mbak Gibthi dari Superindo
(kanan; sebagai pemandu, contact person, MC, fotografer, dll)
Ruang meeting Bumi Samami, Bandung, tempat workshop berlangsung.
 
Bersambung ke Sini, Ya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...