14 March 2016

Daur Ulang Sampah Plastik dan Komposting


Daur ulang sampah plastik
Sesi kedua workshop “Kelola Limbah Rumah Tangga” dimulai pukul 12.30. Materi di sesi kedua ini adalah praktik daur ulang sampah plastik dan komposting.

Acara ini dipandu oleh Mbak Olly Tasya dari InSWA.  Materi ini begitu padat dan tak memberi jeda bagi peserta (bagi saya, maksudnya :D) untuk memotret kegiatan dan mengunggahnya di Instagram.
 
Produk-produk keren yang dihasilkan dari sampah kemasan plastik, membuat mata saya langsung berbinar-binar.

Susahkah membuatnya? Menurut Mbak Olly, sih, no tapi menurut saya yes. Hihihi…

Mendaur Ulang Sampah Plastik

Kenapa kemasan plastik yang dipilih sebagai bahan? Seperti kita tahu, plastik merupakan sampah yang sulit terurai (non-degradable waste). Bayangkan betapa penuhnya bumi dengan sampah plastik. Dengan mendaur ulangnya menjadi produk yang fungsional berarti kita telah membantu mengurangi timbunan sampah dan masalah yang ditimbulkan olehnya.

Apa semua kemasan plastik bisa dipakai untuk membuat produk daur ulang? Ya. Namun, Mbak Olly mengingatkan agar kemasan plastik yang akan dipakai itu, dicuci sampai benar-benar bersih. Kemasan plastik kopi tidak berbau kopi lagi, kemasan detergen tidak berbau detergen lagi. Proses pencucian ini bisa berkali-kali, lho. Satu lagi yang mesti diingat. Dalam proses ini, plastik kemasan jangan  rusak (seperti bekas diremas kuat-kuat).

Setelah bersih (dan kering, tentunya), barulah plastik-plastik ini bisa digunakan sebagai bahan kerajinan tangan. Digunting, dilipat-lipat, dan dianyam. Melipat-lipatnya pun tak sembarang melipat, terutama jika kita ingin mengambil motifnya. Seperti yang di foto ini, nih. Motifnya beraturan dan indah dipandang, kan? 

Daur ulang sampah plastik
Keranjang dan tas dari kemasan plastik. Harganya puluhan sampai ratusan ribu rupiah.

Komposting

Materi terakhir adalah praktik membuat kompos. Ruangan workshop langsung ramai. Sepertinya ini acara yang ditunggu banyak peserta. Saya… kalau saya nunggu apa? Sebenernya saya berharap ada disinggung tentang pemasaran produk daur ulang dari sampah kemasan plastik. Sayangnya nggak ada. Mungkin karena fokusnya memang pada pengolahan sampah.

Namun, materi ini memang menarik. Bayangkan, dari sampah dapur dan halaman rumah sehari-hari kita bisa menghasilkan kompos. Kompos ini nantinya bisa kita gunakan untuk memupuk tanaman, bahkan bisa dijual juga.  *Tring! Tring!*

Bahan dan peralatan untuk komposting alias membuat kompos ini ternyata sederhana sekali. 


  • Tong yang berlubang-lubang di bagian bawahnya. Lubang-lubang ini berfungsi untuk sirkulasi udara.
  • Satu kantung (kantung jaring) styrofoam berbentuk kotak-kotak kecil. Styrofoam ini bisa diganti dengan sekam. Nggak masalah.
  • Dua lembar karpet tipis yang berlubang-lubang. Karpet tipis (seperti karpet di masjid itu, lho, tapi yang tipis) seukuran diameter tong ini berfungsi sebagai penghangat alias selimut.
  • Talenan kayu dan pisau untuk merajang daun-daunan, kulit buah, atau sisa sayuran dan buah.
  • Semprotan.
  • Cetok (sendok semen).
  • Kompos yang sudah jadi sebagai biang. Nggak pakai kompos biang juga nggak apa-apa, sih. Cuma komposting kita akan jadi agak lama.

Kantung styrofoam itu diletakkan di dasar tong, kemudian ditutup dengan selembar karpet tipis. Setelah itu masukkan sampah organik yang mudah terurai (degredable waste) seperti daun dan kulit buah. Masukkan kompos biang, lalu aduk rata. Setelah disemprot agar lembap, adonan ini diselimuti dengan karpet tipis yang kedua. Terakhir, tutup rapat.

Kalau keesokan harinya kita mau menambahkan degradable waste lagi, buka karpet yang paling atas lalu masukkan rajangan daun atau buah itu. Aduk rata, lalu tutup lagi karpet. 

Gampang, ya, ternyata. Tidak perlu pakai bahan-bahan kimia, cukup dilembapkan dengan air biasa. 
 
komposting
Mari masaaak ... eh merajang  sisa sayuran untuk diolah menjadi kompos.

Yang Perlu Diperhatikan

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam komposting ini.
  1. Jika mau memasukkan ampas kelapa, sisa nasi, atau sisa sayur yang bersantan, harus dibilas dulu sampai bersih, lalu diperas. Setelah itu, baru boleh dimasukkan ke tong komposting.
  2. Kulit durian dan bonggol jagung tidak boleh dimasukkan ke tong komposting.
  3. Tong bisa diletakkan di teras atau di tempat lain. Usahakan agar tidak kehujanan, apalagi kebanjiran.
  4. Gunakan batu bata untuk menyangga tong. Dengan begitu, sirkulasi udara melalui lubang-lubang di dasar tong tetap lancar.
  5. Adonan degradable waste + kompos biang itu disemprot dengan air agar tetap lembap. Catet, ya, disemprot. Bukan disiram. Disemprotnya pun pakai air, bukan pakai kata-kata pedas #ehhh. Kira-kira seperti menyemprot anggrek gitu, deh. Cukup sampai lembap, bukan sampai basah kuyup apalagi tergenang air.
  6. Untuk menyemprot, cukup menggunakan air biasa.
  7. Jika air terlalu banyak, proses komposting ini bisa gagal.
  8. Jika sampai muncul belatung, proses komposting pun gagal.
  9. Komposting yang sukses akan menghasilkan kompos berwarna hitam dan berbau tanah. Sama sekali tidak ada bau sampah busuk.

Sampahku, Tanggung Jawabku

Bu Enchi berkali-kali mengingatkan tentang hal ini: Sampahku adalah tanggung jawabku. Yup. Jangan cuma bisa nyampah tapi juga harus bisa bertanggung jawab atas sampah itu.

Bagaimana? Siap untuk bertanggung jawab atas sampah yang kita produksi sendiri setiap hari?


Errr... setelah "Retno"seharusnya tidak pakai tanda titik 
#nalurieditor :D

Baca Juga

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...