14 June 2016

Buku yang Bergizi



Membaca buku yang bergizi

“Kereeen …! Ini buku isinya daging semua!”

Saya sering nyengir kalau membaca kalimat seperti ini. Terlintas komentar iseng di benak saya. “Berarti buku itu nggak cocok buat saya. Saya sudah mengurangi makan daging merah sejak dua tahun yang lalu.”

Saya pribadi lebih suka dengan istilah “buku yang bergizi” daripada “buku yang berdaging”. Well, itu masalah selera aja, ya. Tidak usah dijadikan bahan perdebatan :D

Seperti Apa Buku yang Bergizi?

Pernah bertanya-tanya nggak sebenarnya seperti apa, sih, buku yang disebut bergizi itu? Apa buku yang ditulis oleh pakar di bidangnya? Apa buku yang ditulis oleh motivator terkenal? Atau mungkin buku karya penulis bestseller?

Hernowo, seorang konseptor dan instruktur pelatihan yang membangkitkan potensi membaca dan menulis, menyebutkan dalam buku Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Membuat Buku bahwa:

  • Buku yang bergizi adalah buku yang dapat memberikan semangat kepada para pembacanya untuk bangkit membaca buku lagi dan lagi.
  • Buku yang bergizi adalah yang mampu mengubah diri pembacanya ke arah yang lebih baik.
  • Buku yang bergizi adalah buku yang merekam sebuah peristiwa secara apa adanya – tanpa “gincu” dan “bedak’.
  • Buku yang bergizi akan mendorong pembacanya menjadi penulis andal.
 
Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Membuat Buku.
Terbitan MLC tahun 2006. Sudah terjual. #TerasTeeraTokoBukuOnline



Ciri-Ciri Buku yang Bergizi

Dalam buku tersebut Hernowo juga memaparkan ciri-ciri buku yang bergizi.

1. Penulisnya mempunyai kemampuan membaca dan menulis yang oke banget. 

Siapa penulis buku tersebut dan bagaimana kompetensinya dalam materi yang dia tulis. Ini bisa diketahui dari biodata si penulis. 

 

Ehm, saya jadi teringat ketika bekerja sebagai acquisition editor (freelance) untuk naskah nonfiksi di Gramedia Pustaka Utama. Ada ide naskah yang menurut saya bagus untuk dikembangkan. Namun, editor in-house bertanya, “Siapa yang akan menulis tema ini? Dia expert nggak di bidangnya? Kalau nggak expert, nggak usah.” 

 

Towew!  Iya juga, sih. Kalau si penulis tidak menguasai materi yang ditulisnya, apa mungkin buku itu disebut bergizi?

 

2. Ada, sedikitnya, satu komponen buku yang merangsang selera untuk membaca buku tersebut. 

Unsur yang bisa memikat hati untuk membaca sebuah buku bisa terdapat di mana saja pada buku tersebut. Bisa tekstual, bisa visual. 

 

Hm … jadi ini sebabnya kaver dan blurb buku dibuat semenarik mungkin. Jadi, bukan sekadar buat gaya-gayaan. 

 

3. Ditemukan sederetan teks yang benar-benar memberdayakan pembacanya. 

Maksudnya, nih, dalam buku yang kita baca itu ada kalimat-kalimat yang mampu memberdayakan pikiran.


 
Kucing saja rajin membaca. Kamu gimana?:D

Bergizikah Novel?

Selama ini ada anggapan bahwa membaca novel tak ada gunanya, tak ada manfaat yang diperoleh. Boro-boro, deh, ada gizinya. *aih, periiih ... hati penulis novel :(* 

Namun, jika membaca paparan Pak Hernowo bahwa buku yang bergizi adalah yang mampu mengubah diri pembacanya ke arah yang lebih baik, novel pun bisa menjadi bacaan yang bergizi.

Sebaliknya, buku nonfiksi pun bisa saja tidak bergizi jika penulisnya tidak menguasai materi yang ditulisnya dan tidak membawa para pembacanya ke arah yang lebih baik.

Novel-novel saya? Saya selalu berusaha agar novel-novel saya ada “isinya”, termasuk novel teenlit yang paling sering dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan.


Respons paling banyak dari pembaca adalah novel The Boarding (teenlit) dan Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya. Banyak pembaca mengatakan bahwa kedua novel itu membuat mereka merenung dan termotivasi untuk menjadi lebih baik. Alhamdulillah.

Yuk, kita buat tulisan kita--fiksi dan nonfiksi--kaya dengan gizi.

*** 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...