26 June 2016

Mewujudkan Impian dengan Investasi yang Amanah



Mewujudkan Impian dengan Investasi yang Amanah  ― Umur segini masih bermimpi? Apa tidak terlalu tua?

Kalimat seperti ini pernah mampir di pendengaran saya. Bukan cuma satu kali melainkan beberapa kali. Namun, kalimat ini sering hanya mampir sebentar, kemudian menghilang.

Bagi saya, tidak ada kata terlalu tua untuk bermimpi. Lagi pula, bermimpi kan gratis. Tidak perlu bayar tiket, tidak perlu bayar pajak. Hehehe….

Saya beruntung karena dalam pekerjaan saya sebagai penulis dan editor lepas, saya banyak berhubungan dengan anak-anak muda. Dengan anak-anak SD yang memanggil saya “Kakak”, hingga teman-teman mahasiswa yang memanggil saya “Teteh”. Barangkali karena kebanyakan buku saya untuk anak-anak dan remaja.

Apa untungnya? Semangat muda mereka menular pada saya. Semangat untuk bermimpi dan semangat untuk mengejar mimpi.

Sukses di Usia Matang

Secara matematis, sepuluh tahun lagi saya sudah berkepala lima.  Pada satu dasawarsa yang akan datang, anak sulung saya sudah menyelesaikan S1 (mudah-mudahan sedang kuliah S2), sudah bekerja, dan mungkin juga sudah menikah. Sementara itu, si bungsu masih kuliah. Insya Allah.

Tuh, usia yang sudah sangat matang, kan? Hehehe …. Tapi bukan berarti tak perlu lagi bermimpi. Bukan berarti tak perlu lagi berkarya dan meraih mimpi. Sejarah sudah membuktikan banyak orang meraih sukses pada usia yang tak muda lagi.

Kolonel Sanders memulai bisnis restoran KFC yang sekarang mendunia itu pada usia 62 tahun. Taikichiro Mori yang pernah tercatat sebagai orang terkaya di dunia, memulai bisnisnya di bidang real estate pada usia 51 tahun. Ray Kroc yang pernah menjadi sopir ambulans, memulai bisnis restoran McDonald pada usia 52 tahun

Kita pun tahu bahwa Rasulullah saw., memulai tugas kenabian beliau pada usia yang matang, 40 tahun.

Jadi, saya pun bersemangat untuk terus bermimpi dan berusaha mewujudkannya.
                                

Impian 10 Tahun Lagi

Salah satu impian saya adalah memiliki rumah kos. Lebih spesifik lagi, rumah kos khusus mahasiswi yang beragama Islam. Tidak usah besar-besar. Sekitar sepuluh kamar kos saja. 

Dalam impian saya, di dinding setiap ruangan di rumah kos itu tergantung foto kaver buku-buku saya. Narsis? Iya, sih. Hehehe…. Tapi tunggu dulu. Ini bukan narsis sekadar narsis.

Foto diambil dari www.indograha.co.id
Di ruang tamu (atau ruang santai) ada rak-rak berisi buku-buku bacaan. Isinya bermacam-macam. Dari beragam novel, buku-buku agama, buku-buku motivasi, sampai buku-buku how-to. Tentu saja saya seleksi dulu. Novel-novel yang mengumbar nafsu syahwat dan sadisme tidak boleh masuk.

Bukan kebetulan saya penganut paham “belajar tak melulu dari ruang kelas”. Buku-buku bacaan bisa mencerahkan, membuka wawasan, dan memberikan pengetahuan lebih banyak daripada yang didapatkan di ruang kuliah.

Novel yang sering dianggap sebagai “bacaan kelas dua” pun bermanfaat untuk menumbuhkan empati dan melembutkan hati. Harapan saya, anak-anak kos itu nantinya tidak hanya pintar-pintar tetapi juga memiliki empati.

Saya berencana mengadakan pertemuan rutin dengan anak-anak kos. Brainstorming, membahas buku yang sudah mereka baca, dan melatih mereka menulis. Kelas menulis gratis, bonus spesial untuk anak-anak kos saya.

Nah, terlihat kan bahwa pemajangan foto-foto kaver buku saya bukan untuk narsis belaka? Boleh, dong, saya berharap anak-anak muda itu akan terpacu menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan setelah melihat karya-karya ibu kos mereka?
 

Kenapa Rumah Kos?

Bisnis kos-kosan adalah salah satu jenis investasi yang prospektif. Para perencana keuangan pun menganjurkan hal ini.

Safir Senduk, misalnya. Dalam sebuah acara bincang-bincang keuangan yang saya ikuti akhir tahun 2015, Safir Senduk menyebutkan bisnis rumah kos sebagai investasi yang menguntungkan.

Saya sepakat. Saya tidak pakai hitung-hitungan ekonomi yang rumit. Logika saya sederhana saja. Luas tanah tidak bertambah, sedangkan jumlah penduduk bertambah. Semua membutuhkan tempat tinggal.

Saya memilih segmen mahasiswa pun bukan tanpa alasan. Setiap tahun selalu ada mahasiswa baru yang membutuhkan kamar kos. Itu sudah pasar yang menjanjikan, kan?

Rumah kos itu bisa menjadi sumber penghasilan saya di masa depan. Masa ketika saya tak sanggup lagi bekerja dengan deadline ketat seperti sekarang. Masa ketika saya tak muda lagi namun tetap bisa mandiri secara finansial.

Rumah kos itu juga bisa menjadi bisnis keluarga. Ya, saya berencana melibatkan anak-anak saya dalam pengelolaan rumah kos tersebut. Sepuluh tahun lagi, kan, mereka sudah bukan kanak-kanak lagi.

Selain itu, sebagai seorang ibu saya juga membayangkan kalau anak-anak saya harus kos di kota lain. Pasti, dong, saya ingin kos-kosan yang biayanya terjangkau, aman, dan saya tenang melepaskan mereka kos di sana. Jadi, bukan karena zaman dulu sering menonton drama seri Losmen dan Pondokan di TVRI. Hehehe.…

Anak Tangga Untuk Meraih Mimpi

Meraih impian tak semudah membalikkan telapak tangan.  Ya, saya sadar itu. Kalau saya pegawai tetap di sebuah kantor, saya bisa relatif mudah mengajukan KPR pada bank.

Foto diambil dari www.psychiclibrary.com
Namun, saya seorang pekerja lepas. Freelancer. Dengan status seperti saya, mendapatkan KPR dari bank seperti mencari semut hitam di malam hari.

Beberapa kali saya mendatangi bank dan bertanya-tanya tentang kemungkinan mengambil KPR. Jawaban yang saya terima senada. Susah memberikan KPR kepada orang dengan pekerjaan tidak tetap seperti saya.
Saking susahnya, saya bahkan sempat berpikir bahwa hal itu mungkin cara Allah menjauhkan saya dari riba.
 
Bagaimana kalau membeli tunai saja? Maunya, sih, seperti itu. Masalahnya, uang dari mana? Apalagi harga jual terus naik. “Harga rumah terus digoreng,” komentar teman saya.

Dengan kondisi seperti itu, saya harus mencari jalan lain. Menabung? Duh. Meski sudah menabung mati-matian, tetap saja tak bisa mengejar laju kenaikan harga rumah di daerah kampus.

Beruntung, setengah tahun terakhir ini saya berkesempatan mengikuti beberapa acara tentang perencanaan keuangan dan investasi. Pikiran saya terbuka. 

Rupanya, menabung secara konvensional di bank bukan pilihan yang tepat. Nilai inflasi yang berada di kisaran 6% - 8% per tahun terlalu perkasa untuk dilawan oleh rupiah. Akibatnya, nilai tabungan saya tetap jauh dari harga rumah, bahkan semakin jauh.

Yang harus saya lakukan sekarang bukan lagi sekadar menabung melainkan berinvestasi. Investasi ini menjadi anak tangga yang harus saya lewati untuk mewujudkan impian saya.


Mewujudkan Impian dengan Investasi Syariah

Melakukan investasi keuangan berarti menanamkan sejumlah uang untuk dikelola oleh manajer investasi.

Dulu-dulu saya tidak pernah melirik investasi keuangan seperti ini. Pertama, karena dulu saya beranggapan bahwa menabung saja sudah cukup. Kedua, karena saya mengira investasi keuangan seperti reksa dana itu harus dengan uang yang banyak.

Yah, ternyata saya salah besar dengan kedua anggapan itu. Berinvestasi di reksa dana ternyata bisa dari seratus-dua ratus ribu rupiah saja.

Sekarang tinggal pilih-pilih mau investasi yang mana. Mau yang konvensional, atau mau yang syariah. Perbedaannya apa?

Foto diambil dari www.ekbis.sindonews.com

Dalam sebuah talkshow di Jakarta1), Safir Senduk menyebutkan bahwa perencanaan keuangan syariah pada dasarnya sama dengan yang konvensional. Perbedaannya, keuangan syariah didasarkan pada prinsip-prinsip syariat Islam.

Jadi, uang yang diinvestasikan dalam keuangan syariah itu hanya akan digunakan untuk bisnis-bisnis yang jelas kehalalannya. Bisnis-bisnis seperti perjudian, produksi alkohol, dan tempat-tempat hiburan malam tak akan disentuh oleh keuangan syariah. 

Bagi umat Islam, masalah halal haram ini bukan perkara main-main. Allah dan Rasulullah sudah memperingatkan umat Islam agar hanya mencari rezeki yang halal dan menafkahi keluarga dengan rezeki yang halal.

Investasi keuangan syariah ternyata tidak kalah keren dibandingkan yang konvensional. Salah satu investasi keuangan syariah yang bisa dijadikan pilihan adalah reksa dana syariah. Imbal hasil reksa dana bisa mencapai 15% per tahun. Jauh berada di atas inflasi.

Artinya, uang kita tidak akan keok dihantam inflasi. Uang yang kita investasikan akan bertumbuh dan mendatangkan keuntungan. Dengan catatan, manajer investasi yang kita pilih adalah yang amanah dan tepercaya. Jangan sampai terjebak investasi bodong seperti yang ramai diberitakan di media massa beberapa minggu lalu.

Di pasar modal syariah, tercatat ada 10 jenis reksa dana syariah. Dari reksa dana  syariah pasar uang yang memiliki risiko paling kecil, hingga reksa dana syariah saham yang risikonya paling besar. Besar kecilnya risiko ini sebanding dengan keuntungan (imbal balik) yang diperoleh. High risk, high return.

Menggiurkan sekali jika uang Rp 100 juta yang diinvestasikan dalam reksa dana syariah berkembang menjadi Rp 120 juta setahun atau Rp 619 juta dalam 10 tahun. Bandingkan dengan deposito Rp 100 juta yang dalam tempo 10 tahun memberikan hasil Rp 162 juta.2)

Jauh sekali, ya, perbedaannya.
 
Foto diambil dari www.republika.co.id
 
Saya? Saya memang tak punya dana sebesar Rp 100 juta (kecuali kalau boleh dicampur daun kering, hehehe….). Namun, ilustrasi tersebut membangkitkan semangat saya yang hampir padam. Semangat untuk memiliki rumah kos versus penolakan dari bank untuk pembiayaan KPR.

Dengan investasi syariah yang amanah, impian memiliki rumah kos menemukan titik terang. Dana yang ada akan terus bertumbuh dengan tetap berada dalam koridor agama. Insya Allah.


Bahan Bacaan

1)   Sugiarti, Sri. Aku Cinta Keuangan Syariah. 1 April 2016. “Perencanaan Keuangan Syariah Itu Simple”. http://akucintakeuangansyariah.com/21784/perencanaan-keuangan-syariah-itu-simple/ Diunduh tanggal 21 Mei 2016.

2)   Rezkisari, Indira. Republika. 13 April 2015. “Pilih Deposito Atau Reksa Dana Syariah, Ya?”. http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/konsultasi-kesehatan-gaya-hidup/15/04/13/nmqcx9-pilih-deposito-atau-reksadana-syariah-ya. Diunduh tanggal 24 Juni 2015.




Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...