30 July 2016

Sepotong Kenangan dalam Kukis Lebaran



Sepotong Kenangan dalam Kukis Lebaran ―“Kita bikin kue lebaran kan nanti, Mi?”

Pertanyaan si sulung cuma saya balas dengan lirikan dari balik buku yang sedang saya baca.

“Pengin iiih … bikin kue-kue lebaran gitu. Kayaknya asyik, deh.”

“Uti kan udah pesen, Kak,” sahut saya singkat. Sudah dua tahun ini ibu saya selalu memesan kue-kue kering lebaran pada tetangga. Tetangga saya itu memang punya usaha musiman membuat beraneka kukis.Sebelumnya, saya lebih sering membeli yang sudah jadi.

“Tapi pengin bikin deh, Mi. Ya, Mi, ya? Kita bikin kue sendiri, ya?”

Kenangan dalam Kukis

Kue-kue kering seperti nastar dan kastengel sepertinya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidangan Lebaran di Indonesia, ya. Saya juga suka.

Lalu, kenapa saya sulit sekali mengabulkan permintaan si sulung yang ingin membuat kue kering sendiri?

Jawabannya adalah kenangan yang tersimpan dalam membuat kukis. Sayangnya, itu bukanlah kenangan manis.

Beberapa bulan sebelum hamil si bungsu, saya sempat menjadikan kue kering ini sebagai usaha. Yup, saya membuat kue kering untuk dijual sambil menunggu si sulung pulang sekolah.

Tidak macam-macam. Hanya kue kering standar. Yang membedakan mungkin  bentuk dan icing sugar yang menghias bagian atasnya. Tahun itu, setahu saya, belum banyak yang menjual kue kering imut seperti itu. Setidaknya di sekitar tempat tinggal saya.

Aroma kue yang sedang dioven tercium sangat harum. Aroma telur, terigu, gula, dan margarin. Aroma pandan dan nanas. Aroma stoberi dan cokelat.

Ketika hamil, harum kue yang sedang dipanggang itu berubah memuakkan. Jangankan membuat kue. Melihat bungkus margarin saja saya mual. Melihat botol-botol mungil food colour saja saya muntah.
Sampai bertahun-tahun kemudian, aroma kue yang sedang dipanggang dan terutama aroma yang menguar dari food colour terasa menyakitkan.

Baby blues syndrome yang berkepanjangan?

Bukan. Tapi karena beberapa bulan setelah melahirkan, saya dan bapaknya anak-anak pisah rumah. Persoalan yang semakin tajam itu akhirnya berujung di ruang pengadilan.

Aroma kue dan food colour selalu membawa kembali kenangan pahit yang ingin saya lupakan.
 
Kukis lebaran kreasi The Krucils. 

Mengalahkan Trauma

Tapi hidup terus berjalan. Anak-anak tumbuh besar. Tahun ini mereka berusia 9 dan 14 tahun. Mereka harus belajar banyak hal yang berhubungan dengan life skill. Salah satunya memasak.

Si sulung sudah mengungkapkan keinginannya untuk membuat kue-kue kering untuk Lebaran. Bukankah belajar karena keinginan sendiri akan lebih baik daripada dipaksa?

Saya tidak bisa terus-terusan tenggelam dalam rasa sakit itu. Saya memaksa diri untuk mengalahkan trauma saya. Harus.

Akhirnya, dua minggu sebelum Lebaran, kami ke minimarket untuk membeli bahan-bahan kue. Anak-anak langsung girang ketika tahu kami akan membuat kue lebaran. 

“Kalau bikin kue kering bagusnya pake terigu yang protein rendah, Kak,” ujar saya.

“Emangnya terigu ada macem-macem, ya, Mi?”

“Iya. Kalau yang protein tinggi itu hasilnya lebih kenyal. Bagusnya buat bikin mi atau yang sejenis itu. Kacau jadinya kalau dipakai bikin kue kering.”

“Oooh…kirain sama aja.”

Sambil mengobrol tentang macam-macam tepung, kami memilih foodcolour. Sekilas aromanya berusaha mendobrak benteng kenangan saya. No way! Pergi sana!

Kukis Itu Kembali Harum

Sabtu tanggal 25 Juni 2016 kami mulai membuat kue. Resepnya? Ah, saya pakai resep yang saya pakai bertahun-tahun lalu. Sekalian saja pecahkan gelas itu biar gaduh…. Eh, maksud saya sekalian saja pecahkan kenangan pahit itu.

Selanjutnya, semua berjalan di luar dugaan. Antusiasme anak-anak membuat kenangan pahit itu lenyap begitu saja.

The krucils asyik membuat kukis lebaran.

Si bungsu senang sekali dipakaikan celemek kotak-kotak. Si kakak yang bercelemek warna-warni serius mengaduk adonan.
 
“Aku mau ngaduk jugaaaa,” si bungsu merengek.

Si kakak cemberut, tapi akhirnya membiarkan si adik mengaduk adonan.

Yang paling seru adalah saat mencetak dan menghias kue. Mereka berkreasi sesuka mereka. Masing-masing mendapat satu loyang. Hiasannya memang banyak yang amburadul. Nggak jelas motifnya apa. Tapi antusiasme dan tawa ceria mereka lebih berharga daripada tampilan kue itu.

Kue berbentuk hati dengan icing sugar hijau, oranye, dan putih tumpuk-menumpuk nggak jelas itu matang sudah.

Besok dan besoknya, loyang-loyang berisi kue nastar dan kue keju mendapat giliran dimasak di oven.

Tercium wangi semriwing saat kue-kue itu dipanggang. Harum. Tanpa rasa mual, tanpa rasa sakit, tanpa rasa sesak menahan tangis. Hanya ada aroma harum, manis, dan … bahagia.

Kue lebaran buatan kami tahun ini memang agak kacau dari segi rasa (saya memasukkan terlalu banyak gula halus ke dalam adonan kue keju dan baru sadar itu gula halus ketika si manis itu sudah menyatu dengan bahan-bahan lain :D) dan tampilan.


Tapi itu tak ada artinya dibandingkan kehangatan, kegembiraan, dan kebahagiaan yang terasa dalam proses pembuatan kue lebaran itu.

“Kapan-kapan kita bikin kue lagi ya, Miiii!” ujar si kakak. "Yang bentuk dan rasanya lebih jelas daripada yang ini."

Saya tak perlu lagi temenung lama, tak perlu lagi menahan sesak di dada ketika menjawab sambil tertawa, “Oke, Kakaaak!”

Persiapan lebaran tahun ini jadi terasa berbeda. Sakit yang bertahun-tahun mengendap di bawah sadar saya terkikis bersama keping-keping kukis dan anak-anak yang tertawa manis.




Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...