25 July 2016

Tips Memilih Fashion Muslim Untuk Keluarga




Fashion Muslim Untuk Keluarga ― “Duh, Mbaaaak. Kalau pakai hijab bajunya jangan seksi gitu, dong!”

“Kepala aja ditutupin tapi baju ngejeplak gitu. Mending nggak usah pakai jilbab sekalian, Mbak!”

Ups! Kalimat-kalimat senada itu kerap terbaca di dunia maya. Kalimat-kalimat sarkasme mengomentari foto perempuan yang berjilbab tetapi berpakaian sangat ketat. Seksi. 

Berjilbab tapi Seksi

Di dunia nyata mudah sekali menemukan perempuan yang berjilbab tetapi mengenakan pakaian ketat. Begitu ketatnya hingga timbunan lemak di sekitar pinggang pun tercetak jelas. Tak sedikit pula perempuan berjilbab yang mengenakan blus, rok, atau (maksudnya) gamis dengan bahan tipis menerawang.

Sependek pengetahuan saya, pakaian muslim itu mestilah longgar agar tidak menampilkan lekuk tubuh, serta terbuat dari bahan yang cukup tebal hingga tidak menerawang. Oh, cukuplah uang kertas saja yang bisa dilihat, diraba, diterawang….

Ketika ke toko pakaian untuk mencari busana muslim, saya pun sering terpaksa mengelus dada. Judulnya busana muslim, tetapi kok bahannya tipis begitu? Ada juga yang tidak tipis tapi begitu jatuh sehingga menampilkan lekuk tubuh. Apa trennya memang begitu?

Ah, ini pasar yang mengikuti konsumen atau konsumen yang menyambut riang apa saja yang dikeluarkan oleh produsen?

Fashion Muslim

Idealnya, mengikuti trend fashion muslim bukan berarti menerima begitu saja produk yang dikeluarkan oleh produsen. Menerima mentah-mentah bisa-bisa membuat kita menjadi korban mode.

Sebagai konsumen, kita berhak memilih, kok. Malah wajib dong bersikap kritis. Apalagi ibu-ibu yang sering memegang keputusan mengenai baju keluarga.

Kalau saya, sih, menggunakan poin-poin berikut ini sebagai pegangan dalam memilih baju keluarga. 

  • Harga.
Harga masuk prioritas satu? Hahaha … Maklum, emak irit yang mesti cermat mengeluarkan setiap rupiah. Harga di sini bukan asal murah lho. Namun, lebih pada kesesuaiannya dengan kualitas dan manfaatnya.

  • Model.
Saya bukan pemburu hantu, eh, pemburu mode terbaru. Model yang saya maksud di sini lebih pada kesesuaian dengan pribadi saya dan keluarga. Kalau pakai baju itu, nyaman nggak? Kalau tidak nyaman dan malah merasa menjadi ondel-ondel nyasar, berarti baju itu tak perlu dibeli. 

Selain itu, harus juga memperhatikan kesesuaian fashion muslim itu dengan syariat Islam. Tidak tipis menerawang dan tidak ketat melekuk tubuh.

Motifnya pun harus dipilih dengan teliti. Tahun lalu sempat ramai berita tentang kerudung yang bergambar dua perempuan tanpa busana, serta gamis bermotif salib. Duh!

Untuk si bungsu ada syarat tambahan: modelnya simpel dan bahannya kuat. Maklum, dia kan banyak bergerak. Lari sana, loncat sini.

Sedangkan anak perempuan saya … well, dia lamaaa memilih pashmina. Bisa dipastikan, sampai rumah dia akan membuka Youtube untuk melihat tutorial hijab dari para hijabers.

  • Ukuran.
Karena anak-anak masih dalam masa perkembangan, biasanya saya memilih pakaian satu nomor lebih besar. Ssst … kan emak irit :D

  • Bahan.
Bahan pakaian pun menjadi pertimbangan. Biasanya bahan kaus dan katun menjadi pilihan. Nyaman dipakai dan menyerap keringat.

  • Pendapat anak-anak.
Last but not least, pendapat anak-anak juga perlu diperhatikan. Toh mereka yang akan mengenakan pakaian mereka. Nggak heran kalau kami sekeluarga butuh waktu lama untuk membeli baju. Diskusi dulu, sih.

Happy Family

Orangtua saya dulu kerap menyediakan baju dengan motif sama untuk kami sekeluarga. Belakangan baru saya tahu istilahnya sarimbit. Biasanya batik. Modelnya? Hehe … kalau dilihat dari hari ini, sih, monoton banget.

Entah karena orangtua saya militer yang biasa berseragam atau tren zaman baheula memang begitu.


Kalau itu memang tren, berarti sekarang sudah jauh berubah, ya. Ada beragam model pakaian sarimbit untuk keluarga. Warna dan motifnya tak mesti sama persis tetapi tetap memiliki “benang merah”.

Koleksi Happy Family dari Ethica ini, contohnya. Warnanya kompak, nuansa pink-ungu. Motif gaunnya berbeda tapi tetap matching

Atau yang berwarna cokelat-oranye. Motif bunga-bunganya sama tetapi terlihat berbeda karena dipadankan dengan kain polos yang berbeda. Semua terlihat nyaman dipakai karena menggunakan bahan kaus dan katun pilihan.






Lucuuuu. Coba kalau zaman saya kecil dulu udah ada yang begini. Hehe …. Sekarang saya aja, deh, yang kompakan sama anak-anak untuk mengenakan baju keluarga dengan satu tema begini.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Ethica Blog Competition.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...