20 November 2016

Daging Ayam dalam Makanan Indonesia


Daging ayam dingin segar dan makanan IndonesiaDaging Ayam dalam Makanan Indonesia – Kalau diperhatikan, di sekitar kita ada banyak banget penjual makanan berbahan dasar daging ayam.

Dari rumah saya ke jalan raya yang hanya sekitar 500 meter saja ada lebih dari 30 penjual makanan berbahan daging ayam. Dari ayam goreng krispi, ayam serundeng, sate ayam, bubur ayam, pepes ayam, nasi tim ayam, mi ayam, sampai ayam bakar.

Itu baru daging ayam dalam menu utama. Belum terhitung martabak telur dan kudapan yang menggunakan daging ayam suwir sebagai isi.


Di sekitar rumah kalian gimana? Sebanyak itu jugakah? Atau malah lebih banyak? Atau mau pindah ke dekat rumah saya saja biar gampang jajan? Hehehe…. 



Konsumsi Daging Ayam

Daging ayam memang masih menjadi primadona. Menurut data dari Biro Pusat Statistik (2015), pada tahun 2014 tingkat konsumsi daging unggas (daging putih) di Indonesia sebesar 4,536 kilogram per kapita per tahun. Angka ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat konsumsi daging merah (sapi, kambing) yang sebesar 0,261 kg/kapita/tahun.

Jauhnya perbedaan antara tingkat konsumsi daging merah dan daging unggas ini agaknya terjadi karena dua penyebab.

Pertama, harga. Harga daging ayam per kilogramnya antara Rp 25.000 hingga Rp 35.000. Jauh lebih murah dibandingkan harga daging sapi yang sekitar Rp 100.000 per kilogram.

Ibu-ibu yang harus pintar-pintar mengatur keuangan keluarga biasanya memilih membeli daging ayam saja. Selisihnya bisa digunakan untuk membeli bahan makanan atau kebutuhan lainnya. Konsumsi daging sapi hanya pada waktu-waktu tertentu. Misalnya saat Lebaran.

Kedua, kesehatan. Orang-orang dengan kondisi kesehatan tertentu mau tidak mau harus mengurangi atau bahkan berpantang makan daging merah.

Saya sendiri termasuk orang yang diingatkan oleh dokter untuk mengurangi konsumsi daging merah gara-gara asam urat saya yang sempat mencapai 6,35 mg/dl (dari 2,4 - 5,7 mg/dl yang merupakan angka normal).

Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan protein dipenuhi dari sumber-sumber lain. Salah satunya adalah daging ayam.



Kemudahan Mengolah Daging Ayam

Mengolah daging ayam untuk dijadikan lauk-pauk tergolong mudah. Matangnya pun relatif lebih cepat.

Kemudahan ini sudah dimulai dari saat kita membelinya. Di warung ada, di pasar tradisional ada, di supermarket ada. Harganya pun tak berbeda jauh.

Meski begitu, kita tetap perlu cermat dalam memilih daging ayam. Jangan sampai membeli daging ayam yang sudah mengeluarkan bau tidak sedap. Bau tidak sedap itu timbul akibat daging ayam sudah terkontaminasi bakteri.

Tidak butuh waktu lama bagi bakteri untuk berkembang biak dan membentuk negara sendiri di sepotong daging ayam. Hanya dua jam setelah ayam dipotong, dibersihkan, dan diletakkan di tempat dengan suhu ruangan, jutaan bakteri sudah mencemari daging ayam.


 
Daging ayam dalam menu Indonesia

Ayam yang sudah dipotong harus segera didinginkan

(cooled chicken)

Bisa saja kita membeli ayam yang baruuuu banget dipotong (tunggui ketika si penjual ayam menyembelih, membersihkan, dan memotong-motong ayam tersebut). Langsung bawa pulang dan olah menjadi hidangan dalam waktu kurang dari dua jam

Hehe … tapi berapa banyak sih yang bisa sabar menunggu dari ayam dipotong? Belum lagi risiko kehilangan selera makan gara-gara melihat ayam disembelih. Putri sulung saya termasuk yang begini, nih. Melihat tulisan “tikus” di daftar menu sebuah kafe saja dia sudah tidak bernafsu makan. Padahal tikus yang dimaksud itu adalah roti kukus.

Lebih praktis jika membeli daging ayam dingin segar (cooled chicken) yang disimpan dalam suhu kurang dari 4°Celcius. Penyimpanannya dilakukan sesegera mungkin setelah dipotong dan dibersihkan. Jadi, bukan yang sudah seharian berada di suhu ruangan baru didinginkan. Kalau kelamaan, daging ayam itu telanjur diserbu oleh bakteri.

Perhatikan pula, daging ayam dingin segar ini harus tetap dipertahankan berada dalam suhu rendah tadi. Jika tetap dalam suhu minus 4°Celcius itu, bakteri-bakteri akan mati. Memindah-mindahkannya dari suhu rendah ke suhu kamar lalu ke suhu rendah lagi sama saja dengan memberi kesempatan pada bakteri untuk hidup.

Mengolah daging ayam dingin segar ini sama mudahnya dengan mengolah warm chicken atau daging ayam yang baru banget dipotong. Rasanya pun sama. Yang sedikit berbeda hanyalah daging ayam dingin segar ini butuh proses thawing (pencairan) ketika akan dimasak.

Daging Ayam dalam Makanan Sehari-hari

Meski ada banyak penjual makanan berbahan dasar ayam, masa sih tiap hari beli terus? Memasak sendiri juga seru. Kita bisa menambahkan, mengurangi, atau mengganti bumbu sesuka kita.

Misalnya ayam serundeng yang biasa kita beli itu serundengnya selalu dari kelapa parut. Kalau memasak sendiri, suka-suka kita dong ya mau bikin serundeng dari kelapa parut atau lengkuas (laos) parut. Mau bikin kremes-kremes dari telur juga boleh.




Daging ayam dalam makanan Indonesia
Ayam kremes.

Atau kita merasa opor yang biasa kita beli santannya terlalu kental.  Kalau memasak sendiri di rumah, kita bisa mengurangi santannya dan menambahkan kemiri yang diulek halus. Mau aromanya agak-agak beda? Saya sih suka memasukkan setangkai daun temuru. Mau nyemplungin beberapa butir cabe rawit utuh supaya ada rasa seger-seger-pedes dikit gitu juga boleh-boleh saja.

Oya, jika ingin lebih sehat, bagian kulit dan gumpalan lemak yang berada di bawahnya bisa kita singkirkan.

Kita juga bisa menggunakan daging ayam dalam macam-macam kudapan. Misalnya lemper atau semar mendem isi daging ayam, risoles isi wortel dan daging ayam, pastel isi daging ayam, atau panada isi daging ayam bumbu teriyaki.

Makan enak dan tetap sehat kenapa tidak? Salah satu kuncinya, pilih bahan baku yang bersih, segar, dan sehat.



Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com


 

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...