Nasib Penulis di Tengah Buku Murah dan Buku Obral


buku murah dan buku obral


Tahun 2016 kemarin Grup Penerbit Gramedia membuat heboh menjual buku obral secara besar-besaran di lima kota, termasuk Bandung. Jutaan eksemplar buku dijual dengan harga sangat murah di ajang Gramedia Big Sale tersebut.

Sebenarnya, bukan hanya Grup Penerbit Gramedia yang menjual buku obral. Penerbit-penerbit lain pun banyak yang melakukan hal serupa. Buku-buku yang baru 2-3 tahun terbit sudah dimasukkan ke kategori buku murah.


Sebagai bookhunter yang kerap berkeliling kota, saya pernah menemukan buku teman-teman dijual sepuluh ribu di emperan. Terbitnya baru sekitar 2 tahun yang lalu.

Dijual murah begitu bukan karena buku bajakan. Saya sudah memastikan itu buku asli (silakan baca tips untuk mengenali buku bajakan)

Lalu kenapa bisa terdampar dalam jumlah banyak di emperan? Ternyata karena penerbit tersebut bangkrut. :(

Buku murah jelas disambut hangat oleh konsumen. Di sisi lain, buku yang dijual obral begini meninggalkan cerita pahit di kalangan pekerja perbukuan.



Penerbit dan Buku Murah

Ketika penerbit terpaksa menjual buku-bukunya dengan harga obral, sebagian kalangan beranggapan, “Biar saja. Kan mereka sudah dapat untung besar dari buku-buku best seller.”

Saya tidak tahu seberapa besar keuntungan yang didapat penerbit. Saya hanya pekerja kreatif, freelance pula. Yang sangat terasa adalah:

  • Seleksi naskah semakin ketat. (Hikmahnya, buku yang terbit mestinya semakin berkualitas)

  • Syarat kirim naskah semakin berat. Beberapa teman (terutama newbie) mengeluh karena penerbit meminta informasi tentang jumlah follower mereka di media sosial (terutama Facebook, Twitter, dan Instagram), tentang konsep pemasarannya nanti, dan sebagainya. Bahkan kabarnya ada yang mensyaratkan penulis harus membeli sekian eksemplar buku tersebut.

  • Jumlah eksemplar terbit semakin sedikit. Dulu cetakan pertama bisa sampai 7.000 eksemplar, sekarang hanya sekitar 2.000 eksemplar.

  • Persentase DP (down payment, uang muka) mengecil.

  • Editor lepas jarang mendapat order.

Belum lagi kabar-kabar tentang adanya pengurangan pegawai di beberapa penerbit.

Logikanya, kalau sudah pengetatan di mana-mana begitu, pasti keuntungan mereka tak sebombastis yang diduga awam, kan? 

Pengetatan itu imbasnya ke mana-mana, termasuk ke para penulis, ilustrator, editor, pegawai percetakan, dan lain-lain yang mencari nafkah dari industri buku. Dan itu jelas berdampak pada keluarga yang mereka nafkahi.

 

Penulis dan Royalti Buku

Bagi orang awam, atau mereka yang ngebet ingin menerbitkan buku, kata buku terbit dan royalti mungkin terdengar sangat seksi. 

Tak jarang saya baca celotehan para newbie yang ingin mendapat royalti. Tak sedikit yang membayangkan royalti itu selalu berjumlah belasan sampai puluhan juta rupiah.

Bagaimana kenyataannya?

  1. Penulis mendapat royalti sebesar 5%-10% dari harga jual buku karyanya. Pernah ada newbie yang marah-marah ketika ditawari royalti 10%. Dia inginnya 50%. Lebih parah lagi ada yang ingin royalti sama dengan harga jual buku. Kalau harga buku 50 ribu, royalti penulis ya 50 ribu per buku *penerbit dan distributor kerja bakti aja.

  2. Penghitungan royalti bukan berdasarkan jumlah buku yang terbit melainkan jumlah buku yang TERJUAL.

  3. Royalti yang didapat oleh penulis, langsung dipotong PPh Pasal 23 sebesar 15%. Itu kalau punya NPWP. Kalau tidak punya NPWP, pajak royalti penulis tersebut sebesar 30%.

  4. Berapa pun royalti yang didapat, langsung dipotong pajak. Mau itu puluhan juta rupiah atau hanya puluhan ribu rupiah.

  5. Royalti datang satu kali dalam empat bulan atau enam bulan (tergantung peraturan di masing-masing penerbit).

Kenyataannya, ada penulis yang mendapat royalti seratus ribu rupiah saja dari satu bukunya dalam tempo 6 bulan. Hebatnya, para penulis ini nggak pernah demo, nggak seperti tetangga yang dikit-dikit minta kenaikan gaji.


Penulis dan Buku Obral

Lalu, bagaimana jika buku sampai dijual dengan harga obral?
   
buku obral
Lautan buku obral.

Beberapa penerbit masih memberi royalti meskipun buku diobral. Kalau harga semula Rp 60.000 kemudian diobral Rp 10.000,- berarti royaltinya tinggal Rp 1.000,- per buku langsung dipotong pajak 15%. Perlu kalkulator buat ngitung?

Namun, di beberapa penerbit lainnya keran royalti otomatis tertutup ketika buku diobral. Laku 1.000 eksemplar dengan harga obral? Yo wis. Penulis udah nggak dapat apa-apa lagi dari buku obral. Paling-paling yang bisa dilakukan penulis adalah:

  1. Gigit jari.
  2. Banyak-banyak istighfar melihat kenyataan tak seindah impian.
  3. Ngelus dada sendiri. (Ini perlu ditekankan biar nggak salah :p).
  4. Tersenyum pahit, lebih pahit daripada jamu brotowali.
  5. Narik napas panjang, sepanjang kenangan indah bersama mantan gebetan.
  6. Menghibur diri, “Semoga bermanfaat.”
  7. Berujar pilu, “Kenapa nggak dari kemarin-kemarin sih laku seribu eksemplarnyaaa? Kenapa harus nunggu diobraaaal?” 
  8. Speechless ketika ada yang bilang, “Gue beli buku lo lima rebu. Hahahaha… murah amat sih buku lo!”
  9. Mencoba bersikap bijaksini: beli buku sendiri buat dijual lagi, jadikan sebagai doorprize, dan berdoa buku obral itu akan memancing kehadiran penggemar baru yang kelak mencari buku-bukunya yang baru terbit.

Penulis pun harus banyak-banyak bersabar mendapat komentar, “Biarin aja buku kamu diobral. Kan kamu udah dapat pahala dari tulisanmu.”

(Komentar serupa juga sering muncul ketika ada yang mengatakan honor tulisannya di media cetak tak kunjung dibayarkan setelah berbulan-bulan.)

Alhamdulillah, sudah dapat pahala, ya. Gimana kalau sekarang kamu-yang-ngomong-gitu yang mendapat pahala? Caranya? 

Setiap bulan, bayarkan tagihan listrik, telepon, dan air, pulsa hape dan internet, ongkos transportasi, uang belanja sembako dan sandang pangan lainnya, bayar sekolah dan les anak-anak, biaya kesehatan, biaya riset untuk buku baru, pembelian barang-barang sandang, biaya sosial, dan sebagainya untuk si penulis buku. Yuk…beramal saleh dan raih pahala sebanyak-banyaknya.

Berat ya? Hehe… Ada yang lebih mudah. Belilah buku karya para penulis itu sebelum jatuh ke harga obral. 

Jika buku itu bukan seleramu, bisa disumbangkan ke perpustakaan, komunitas, atau panti asuhan yang butuh bahan bacaan. Dapat pahala juga, kan? 

Orang-orang yang mencari nafkah sepenuhnya dari menulis buku itu benar-benar ada, Beb. Sahabat-sahabat saya ada yang suami istri penulis. 

Ada single parent yang mencari nafkah dari menulis. Ada suami yang menafkahi istri dan anak-anaknya dari menulis. “Penulis” itu profesi yang diakui, lho. Tanya aja ke kantor pajak. :D

Menulis sebagai ladang amal adalah ketika memulainya dengan nama Allah, meniatkan menulis kebaikan karena Allah. Buku terbit dan dijual adalah ikhtiar untuk mencari rezeki halal (begitu pula dengan tulisan dimuat di media massa dan mendapat honor).

Akankah Terus Menulis Buku?

Sependek pengetahuan saya, musim obral buku membuat beberapa teman penulis tak lagi menulis buku. 

Ada yang shock karena buku debutnya dijual obral pada tahun kedua. Ada yang terpukul karena royalti impiannya ternyata tak sampai setengah juta rupiah.

Penulis buku dan blogger Bandung
Saya, insya Allah, akan terus menulis. Kamu gimana?
 
“Saya nggak nulis buku lagi. Kasihan penerbit yang nerbitin buku saya kalau ternyata nanti nggak laku,” kata seorang teman yang sudah menulis puluhan buku.


Ada yang berhenti menulis buku karena realistis: penghasilan yang didapat dari menulis tak bisa mencukupi kebutuhan hidup sederhana.

Ada yang berhenti menulis buku lalu pindah menulis di media lain (terutama  media noncetak).

Kalau kamu penulis dan nafkahmu dari menulis, apa yang akan kamu lakukan?


Salam,

Triani Retno A  
www.trianiretno.com
Penulis Buku, Novelis, Editor Freelance

Tidak ada komentar

Komentar dimoderasi dulu karena banyak spam. Terima kasih.