21 February 2017

Buku Anak Aku Belajar Mengendalikan Diri



Buku Anak Aku Belajar Mengendalikan Diri Fita Chakra

Buku Anak Aku Belajar Mengendalikan Diri  

Dunia penulisan biasanya sepi dari pemberitaan. Sesepi minat beli masyarakat Indonesia pada buku hingga penerbit terpaksa mengobral besar-besaran buku yang baru 2-3 tahun terbit, atau bahkan harus gulung tikar.

Namun, kemarin (20 Februari) dunia maya ramai dengan sebuah buku bergambar (pictorial book). Ternyata yang dimaksud adalah buku karya Fita Chakra. Buku tersebut adalah salah satu dari seri Aku Bisa Melindungi Diri. 

Satu buku ini terdiri dari dua cerita, yaitu Aku Berani Tidur Sendiri dan Aku Belajar Mengendalikan Diri. Yang diributkan di dunia maya adalah cerita kedua, Aku Belajar Mengendalikan Diri.

Buku Anak Tersandung Masalah

Menulis buku bertema pendidikan seks untuk anak-anak memang susah-susah gampang. Terlebih masyarakat kita masih cenderung menganggap tema ini sebagai sesuatu yang tabu.

Ironisnya, ketika orangtua dan guru menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu, anak-anak dengan mudahnya mendapatkan pengetahuan tentang seks dari media elektronik. Mudah sekali mereka mengakses konten pornografi dari ponsel mereka.

Aku Belajar Mengendalikan Diri bukan buku pertama yang tersandung masalah seperti ini. Sekitar dua tahun lalu, buku WHY Puberty terbitan Elex Media Komputindo ramai dihujat, disusul kemudian buku anak-anak impor berjudul Alfi’s Home (Intl Healing Foundation). Berbeda dengan Aku Belajar Mengendalikan Diri yang dituding mengajarkan masturbasi pada anak-anak, WHY Puberty dan Alfi’s Home dituding mengajarkan LGBT.

Persamaannya, ketiga buku ini difoto pada halaman/bagian tertentu saja, diunggah ke media sosial, lalu menjadi viral.

Karena hanya sepotong, maka asumsi-asumsi pun berkembang liar. Lalu tanpa bisa dikontrol, keluarlah caci maki dan hujatan pada penulis dan penerbit. Sedikit sekali yang mau bersusah-payah mencari tahu konten lengkap buku yang sedang diributkan.

Buku Aku Belajar Mengendalikan Diri

Fita Chakra bukan nama baru dalam dunia penulisan, terutama penulisan buku anak dan parenting. Silakan browsing buku karya Fita Chakra atau Fitria Chakrawati. Akan muncul sederet buku indah, inspiratif dan penuh manfaat.
Lalu kenapa buku Aku Belajar Mengendalikan Diri ini bermasalah? 

Yang banyak tersebar di dunia maya adalah foto halaman 22 dan 24 (buku ini berisi tulisan + ilustrasi kecil di halaman genap dan ilustrasi penuh di halaman ganjil).

Mau tahu isi di halaman-halaman berikutnya? Ini dia:

Buku Anak Aku Belajar Mengendalikan Diri Fita Chakra
Halaman 26-27.

Buku Anak Aku Belajar Mengendalikan Diri Fita Chakra
Halaman 28-29.

Buku Anak Aku Belajar Mengendalikan Diri Fita Chakra
Halaman 30-31.

Buku Anak Aku Belajar Mengendalikan Diri Fita Chakra
Halaman 32-33.

Buku Anak Aku Belajar Mengendalikan Diri Fita Chakra
Halaman 34-35.

Buku Anak Aku Belajar Mengendalikan Diri Fita Chakra
Halaman 36.


Jika membaca cerita ini secara utuh, terlihat bahwa buku ini bukanlah buku cabul, porno, atau mengajarkan anak untuk bermasturbasi seperti yang dituduhkan oleh banyak netizen.

“Buku ini berfungsi sebagai media untuk menyampaikan kepada anak bahwa perbuatan tersebut, memainkan kemaluannya, tidak sepantasnya dilakukan dan memiliki risiko kesehatan,” jelas Penerbit Tiga Serangkai dalam keterangan resminya tanggal 20 Februari 2017.

Segmen Pembaca Buku Aku Belajar Mengendalikan Diri

Lalu, untuk siapa buku ini ditujukan? Masih dalam penjelasan resminya, Penerbit Tiga Serangkai mengatakan, “Target buku ini lebih diutamakan kepada para orang tua yang merasa anaknya juga melakukan hal tersebut. Namun, tetap ada baiknya jika buku ini juga dibaca oleh orang tua dan anak pada umumnya sebagai pengetahuan yang bermanfaat sebagai bentuk upaya pencegahan.”

Saya pribadi memang merasa kurang sreg dengan pemaparan di halaman 22 dan 24 (walaupun kalau disuruh nulis sendiri juga bingung mau merangkai kalimat seperti apa). Namun, saya bisa paham setelah membaca secara utuh.

Mungkin, kesalahan fatal buku ini adalah tidak adanya label “BO” (Bimbingan Orangtua) kalau memang ditujukan untuk pembaca kanak-kanak. Kalau ditujukan untuk pembaca dewasa (orangtua), kemasannya sangat anak-anak. Terasa sedikit ambigu. Ini buku untuk anak-anak atau orangtua?

Namun, sepengalaman saya membacakan buku cerita (read a loud) untuk anak-anak saya, buku seperti ini (buku cerita dengan halaman khusus berisi tips untuk orangtua) adalah buku anak-anak yang sebaiknya dibacakan oleh orangtua.

Sedikit heran, kenapa ribut-ributnya sekarang, ya? Buku ini terbit tahun 2016. Dari narasumber saya di toko buku (yang kemudian diperkuat oleh keterangan penerbit), buku ini sebenarnya sudah ditarik pada bulan Desember 2016 atas inisiatif penulis dan penerbit sendiri.

Buku tentang Sex Education

Sedikit pembanding, berikut buku tentang pencegahan kejahatan seksual pada anak-anak yang ada di rak buku saya.

mencegah kejahatan seksual


Buku pertama, Badanku Milikku. Ditulis oleh Prof. Etty Indriaty, Ph.D dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Di halaman judul (halaman pertama setelah kaver) ada tulisan “Bacaan Wajib Orangtua Anak Balita dan Guru TK”. Clear ya, siapa segmen yang dituju oleh buku ini.

Sampai halaman 7, buku ini berisi pemaparan yang memang ditujukan pada orangtua dan guru. Ada data statistik tentang kejahatan seksual pada anak di Indonesia. Ada kajian ilmiahnya.

Halaman 8 sampai 22 berisi gambar-gambar tentang “badanku milikku”, apa yang harus ditutup, apa yang tidak boleh disentuh orang lain dan sebagainya. Orangtua dan guru diharapkan membacakan bagian ini pada anak/murid.

Sekarang buku yang kedua. Judulnya Terhindar dari Pelecehan Seksual. Buku yang ditulis oleh Yoli Hemdi ini merupakan 1 dari 10 buku Seri Keselamatan Anak. Diterbitkan oleh Bestari Kids.

Di halaman 22 buku ini ada keterangan bahwa penulis melakukan wawancara eksklusif dengan dr. Boyke Dian Nugraha, Prof.Dr. Zakiah Drajat (pakar psikologi agama), dan Andre Tuwaidan (Direktur Matra Taekwondo School).

Di blurb dan kata pengantar tertulis buku ini untuk anak-anak. Meski demikian, menurut saya buku yang bahasanya sangat lugas ini sebaiknya diberi label BO, dibacakan oleh orangtua, atau dibaca dengan didampingi orangtua. Bakal banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh anak-anak, soalnya.

Sedikit Saran

Menutup tulisan panjang ini, ada sedikit saran dari saya.
  • Penerbit sebaiknya mencantumkan label BO pada buku yang bermuatan pendidikan seks untuk anak-anak. Bagus juga tuh seperti buku Badanku Milikku itu. Hindari buku yang ambigu “Itu untuk anak kecil atau untuk ortunya ya?”.
  • Penulis lebih berhati-hati dalam berkarya. Wellll…. Ini pengingat bagi saya juga.
  • Orangtua lebih rajin membaca, lebih peduli pada buku yang dibaca oleh anak, serta membiasakan diri membacakan cerita untuk anak-anak. Bukan rahasia, banyak orangtua ingin anaknya pintar dan suka membaca, tapi orangtua sendiri tak suka membaca. Salah satu keuntungan membacakan buku pada anak-anak adalah mereka bisa langsung bertanya jika ada yang tidak dipahami.

Follow me on Twitter: @retnoteera | IG: @retnoteera
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...