26 May 2017

Nando, Pembawa Berita Baik




Sudah dua bulan berlalu sejak kamu kembali pada Sang Pencipta. Dua bulan ini, begitu banyak kenangan bersama kamu berseliweran dalam benakku. Yang lama terpendam di dasar ingatan pun mendadak mencuat lagi ke permukaan.



Berita Baik darimu

“Teeraaa!” teriakanmu langsung terdengar ketika gagang telepon kutempelkan di telinga. “Nggak nyangka kamu bisa bikin puisi.”


“Puisi?”

“Iya. Itu cerpen kamu yang di majalah Aneka terbaru kan ada puisinya. Udah lihat belum?”

Obrolan suatu sore di tahun 1999. Kamu di Senayan, aku beberapa kilometer saja dari kantormu.

Sore itu aku tahu kamu suka memantau cerpen-cerpen di semua majalah.
Sebenarnya aku juga suka, sih. Tapi cuma majalah-majalah yang kukirimi naskah. Lebih tepatnya untuk mengecek apa cerpenku ada yang dimuat atau tidak. Nomor bukti, kan, baru 1-2 minggu kemudian. Mana sabar menunggu sekian lama.

Kamu? Ya ampun. Semua majalah kamu cek. Kamu bahkan tahu cerpen-cerpenku dimuat di majalah Orbit. Yang kamu tidak tahu mungkin hanya tulisanku di majalah Aku Anak Saleh. Waktu itu kamu sudah menghilang dan aku juga pakai nama pena baru dengan menyematkan nama laki-laki yang kemudian membuatku terluka.



Setelah putus kontak bertahun-tahun, suatu siang sebuah suara riang meneleponku.

“Teeraaaa...! Selamat, ya. Kereeen! Menang lomba novel di Gramedia.”

“Makasiiih. Ini siapa, ya?” Bingung. Nomor yang masuk tak ada dalam daftar kontakku.

“Fernando. Masa lupa?”

“Fernando?” Makin bingung.

Kamu tergelak. “Teeraaa! Ini Nandooo!”

Itu kamu. Kamu yang ternyata selalu mengikuti perjalanan menulisku.

Nando. 17 Juli 1970 - 25 Maret 2017.

Pembawa Berita Baik

Di era Facebook, kegemaranmu membawa berita baik semakin menjadi-jadi. Bukan hanya untukku, tapi juga untuk teman-teman kita. Untuk semua orang.

Setiap pekan ada saja yang mendapat berita baik darimu. Cerpen si A dimuat di majalah Hai, cerpen si B Gadis, si C di Kawanku, si D di Bobo, si E di Kompas Anak… dan entah majalah apa lagi.

Ah, kamu masih seperti kamu yang pertama kukenal. Semua majalah kamu pantau. Padahal kesibukanmu di kantor sudah padat. Tapi kamu bisa. Kamu konsisten. Dan kamu melakukannya dengan ringan. Dengan riang gembira.

Beberapa teman menjulukimu “Bidadara”. Bidadari versi cowok karena kesukaanmu membawa kabar gembira. Ada juga yang menjuluki “Pera Pembawa Berita Gembira”. Pera, versi cowok dari peri. Maksa, sih. Tapi lucu.

Kamu bahkan sering melakukan lebih dari sekadar menyampaikan berita baik.

“Makasih banyak kabarnya, Om. Tapi di tempatku susah dapat majalah Hai,” ujar seorang teman di sebuah kota di Sumatra ketika mendapat kabar darimu.

Kamu, tanpa diminta langsung membeli majalah yang memuat karya teman kita itu dan mengirimkan majalah tersebut padanya.

Bukan cuma satu kali kamu melakukan itu. Tak terhitung. Dan aku tahu, kamu tak mau berhitung.

Teman-teman yang menulis buku pun sering menerima kabar baik darimu dalam bentuk yang sedikit berbeda. Tiap ke toko buku, ada saja buku teman yang kamu foto lalu unggah di Facebook.

“Ngapain malam Minggu ke toko buku melulu? Kasirnya cantik, ya?”

“Kasirnya cowok, tau!”

Sepergi Kamu….

Sepergi kamu, teman-teman kita bercerita tentang kebaikanmu. Kamu mencarikan dan mengirimkan majalah yang memuat tulisan mereka. Kamu mengirimkan majalah pada seorang teman, menyemangatinya. Meyakinkankan bahwa ia bisa menulis seperti yang di majalah itu, bahkan lebih baik (dan kamu benar, terbukti dari banyak tulisannya yang kemudian dimuat di majalah itu).

Banyak yang aku pelajari dari kamu. Salah satunya tentang kesukaanmu menyampaikan kabar baik pada teman-teman.

Sepergi kamu, kebaikanmu saja yang tertinggal. Di dalam kenangan. Di dalam hati. Di dalam harap untuk melakukan kebaikan sepertimu.

“Setiap kebaikan adalah sedekah.” (H.R Muslim)

Semoga kebaikanmu bernilai ibadah yang berbuah pahala jariah. Aamiin.




Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com
 



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...