15 July 2017

Hei, Kamu Plagiat!



Hei, Kamu Plagiat!Ramai-ramai kasus plagiat membawa saya menemukan beberapa hal yang menarik.

Ada yang khawatir telah tanpa sadar memplagiat. Ada yang lantang berteriak: “Heh, elo-elo yang suka ngutip ayat Al-Quran juga plagiat! Apalagi kalau sampai nerbitin. Udah plagiat, pembajak pula!”

Ada pula pembelaan diri, “Anak sekolahan dan kuliahan pasti pernah melakukan plagiat. Kalau bikin tugas kan kopas sana-sini aja.”


Tidak Ada Hak Cipta

Sebenernya, saya nunggu teman-teman yang memahami ilmu hukum untuk membahas ini. Kelamaan nunggu, sayanya jadi pegel 😃. Tapi hukum bukan bidang saya. Saya nggak kompeten buat membahas.

Cuma, ketika membaca UU Hak Cipta, saya menemukan jawaban atas ocehan yang mengatakan bahwa mengutip ayat Al-Quran sama dengan memplagiat dan menerbitkan Al-Quran sama dengan membajak.

Dalam Pasal 42 Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014 disebutkan bahwa,

Tidak ada hak cipta atas hasil karya berupa:
a. hasil rapat terbuka lembaga negara;
b. peraturan perundang-undangan;
c. pidato kenegaraan atau pidato pejabat pemerintah;
d. putusan pengadilan atau penetapan hakim; dan
e. kitab suci atau simbol keagamaan.

Jadi, kalau kita mengutip ayat-ayat suci, kita tidak akan disebut memplagiat atau melanggar hak cipta. Cuma, tetap ya. Kalau mengutip ayat Al-Quran, cantumkan itu dari Al-Quran surat apa ayat berapa.

Anak Sekolah dan Plagiat

Tugas-tugas anak sekolahan (termasuk mahasiswa) adalah hasil plagiat? 

Sepertinya kita harus kembali pada sang pengajar. Mau jujur-jujuran mengakui? Tidak sedikit guru yang tidak mau repot. Memberi tugas pada muridnya, “Cari saja di Google.”

Mendapat instruksi seperti itu, para murid pun mencari di Google. Copy, lalu paste, dan print. Tugas selesai. Pahamkah dengan tugas yang dikerjakan itu?

Nggak.

Gimana mau paham? Lah wong dibaca juga enggak. Cuma cari, dikira-kira cocok, lalu di-copy dan paste

Para murid tidak diberi penjelasan bahwa “cari saja di Google” itu adalah mencari bahannya di Google. BAHANNYA. Untuk tugas, harus diolah lagi. Dibaca dulu, dipahami, baru ditulis dengan bahasa sendiri, dengan pemahaman yang didapat setelah membaca dan berpikir. 

Para murid  tidak diberi penjelasan bahwa “cari saja di Google” bukan berarti boleh mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri. 

Para murid tidak diingatkan untuk mencantumkan sumber: nama penulis asli dan laman tempat tulisan yang mereka ambil tersebut berada. 

Terus terang, saya prihatin dengan kondisi seperti itu. Sama saja dengan membiasakan anak-anak memplagiat sejak dini. Membiasakan berbuat curang. 




Bagaimana supaya anak sekolahan tidak memplagiat, tidak kopas sana-sini untuk tugasnya?

Itu tugas kita, Pak, Bu, untuk mengingatkan mereka. Ajarkan pula untuk mengolah bahan dari Google menjadi sebuah tulisan yang tidak berbau plagiat. Di sinilah dibutuhkan keterampilan menulis.

"Belajar menulis bukan supaya menjadi
novelis atau cerpenis,
tapi supaya bisa menuangkan buah pikiran
secara sistematis dalam bentuk tertulis."
(Triani Retno A)

Tugas kita juga untuk memberi sanksi jika ada murid (atau mahasiswa) kita yang memplagiat. Jangan dibiarkan, atau malah diberi pujian karena bagus (padahal itu karya orang lain). Jangan biarkan mereka besar di atas ketidakjujuran.

Beri Contoh yang Baik

Kita pun harus membiasakan diri untuk tidak memplagiat. Memberi contoh nyata. Bukan sekadar mengatakan, “Jangan copas!” tapi kita sendiri mengetik ulang tulisan orang lain dan menempelkan nama kita sebagai penulisnya. 

Meski dilakukan dengan MENGETIK ULANG (bukan sekadar blok, klik copy, klik paste), kalau kita mengakui karya orang lain sebagai karya kita, namanya tetap memplagiat. 

Untuk keperluan pendidikan, kita memang boleh mengambil secara seluruh atau sebagian karya orang lain yang memiliki hak cipta. Dengan catatan: mencantumkan sumbernya secara lengkap, tidak merugikan pemegang hak cipta, dan tidak untuk keperluan komersil.

Pasal 44 Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014
Pasal 44 Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014

Btw, plagiat bukan hanya berlaku untuk karya ilmiah, seperti yang dikatakan oleh seorang guru besar. Karya-karya seni dan sastra pun termasuk yang dilindungi oleh hak cipta.
 
Pasal 40 Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014
Pasal 40 Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014

Jika dilanggar (antara lain dengan memplagiat atau menjiplaknya), akan ada sanksi hukumnya. Pada buku-buku (mau itu buku ilmiah atau novel populer), tercantum keterangan "hak cipta dilindungi undang-undang", bahkan sanksi pelanggarannya pun dicantumkan.

UU No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
bisa diakses lengkap di sini.


Semoga tulisan singkat ini menggugah teman-teman yang berlatar belakang ilmu hukum untuk menulis. 🙏

Mari jauhi perilaku memplagiat.
Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...