29 July 2017

Kamu dan Isyarat yang Tak Kumengerti



Kamu dan Isyarat yang Tak KumengertiTerlalu bebalkah aku 
hingga tak menyadari isyarat kepergian yang kamu berikan padaku sejak jauh hari?

“Aku mau hidup denganmu. Aku mau mati pun karenamu. Aku mau di sisa waktuku bersamamu….”

Suatu siang bersamamu di Jakarta. Mendengarkan lagu ini sambil menyusuri jalanan ibu kota. Engkaulah Hidup dan Matiku. Naff.


Lagu yang terasa manis jika didengar bersama kamu. Tak sedikit pun terlintas di benakku, kala itu kamu sakit. Sudah lama sakit. Penyakit itu mengendap diam di dalam tubuhmu. 

Kamu simpan saja sendiri. Tak mau aku sedih? Tak mau aku khawatir? Tak mau aku menangis? Sampai akhirnya penyakit itu menyebar. Mengganas.

Tak pernah terpikir olehku saat itu kamu sudah di sisa waktumu.


Terlalu bebalkah aku
hingga tak menyadari isyarat kepergian yang kamu berikan padaku sejak jauh hari?

“Kamu perempuan kuat. Tanpa ninggalin anak-anak pun kamu bisa kerja, nyari uang sendiri. Sendiri pun kamu  bisa.”

Perih, ketika mengingat ucapanmu ketika itu. Hari ini, kenapa pesan itu terasa seperti tanda bahwa kamu akan pergi? Tanda bahwa waktumu untuk mendengarkan semua ceritaku akan segera berakhir. Tanda bahwa tak lama lagi aku harus melukis pelangiku sendiri. Tanpa kamu.


Terlalu bebalkah aku
hingga tak menyadari isyarat kepergian yang kamu berikan padaku sejak jauh hari?

“Kadang-kadang takut kalau ngebayangin suatu hari nanti bakal menjadi tua sendiri.”
Kamu tertawa.
“Dih, malah ketawa. Kamu nggak takut?”
“Nggak.”

Kamu tidak takut menua sendiri. Karena sebelum tua itu datang, kamu sudah pergi.

Kamu dan Isyarat yang Tak Kumengerti
Buku terakhir kita.

Terlalu bebalkah aku
hingga tak menyadari isyarat kepergian yang kamu berikan padaku sejak jauh hari?

Seminggu sebelum pergimu adalah kebebalanku yang terakhir pada kamu. Seminggu ketika kantuk luar biasa menyerangku tak kenal waktu, tertidur hingga tak melihat tempat. 

Belakangan aku baru tahu. Sepekan terakhir itu kamu sering tertidur. Lebih sering daripada biasanya.

Dengan banyak persamaan antara kita yang membuatku seperti tengah becermin, seharusnya aku tahu. Tapi aku tidak tahu.

Sampai akhirnya kamu tiba di batas waktu. 

Maafkan aku yang masih menangis. Tangisku bukan karena tidak ikhlas melepasmu. Aku ikhlas. Dan terus belajar untuk ikhlas.



Bandung, 29 Juli 2017.
18 pekan setelah kepergianmu.


Triani Retno A

www.trianiretno.com

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...