26 July 2017

Teknik Membuka Cerita



Teknik Membuka Cerita -- Pernah bingung ketika akan memulai menulis cerita? 

Hehe… nggak usah malu buat mengaku. Saya juga pernah mengalami hal seperti itu. Trus, bengong di depan laptop. Camilan abis satu stoples, kalimat pertama belum juga ada. Naskah selesai kagak, berat badan nambah mah iya. 😄


Membuka Cerita

Membuka cerita memang gampang-gampang susah. Ada “beban” tersendiri. Beban itu karena dari awal ceritalah editor (dan nantinya pembaca) akan menilai cerita kita. Asyik nggak nih ceritanya? Penilaian itu akan menentukan nasib naskah kita. Kalau asyik, lanjut dibaca dan diproses. Kalau nggak, ya disingkirkan.

Nah, untuk mengurangi kebingungan, saya bagikan tips dari Cahya Sadar yang dimuat di majalah Anita Cemerlang no. 464 (Terbit tanggal 24 Januari – 2 Februari 1994).  

Majalah jadul? Iya, majalahnya memang jadul (bahkan sudah berhenti terbit belasan tahun yang lalu), tapi ilmunya tetap aplikatif sampai sekarang.

Oya, untuk contoh setiap teknik saya ambil dari cerpen dan novel saya sendiri. Kecuali teknik terakhir, yang saya kutip dari buku Mas Gong (Gol A Gong)

Teknik Membuka Cerita

Berikut ini teknik membuka cerita dari Cahya Sadar.

1. Kata atau kalimat pertama dalam sebuah cerita berupa kalimat langsung.

Contoh:


“Papaaa! Yang bener aja, dong, Pa! Masa Tasya mau disekolahin di kampung?” protes Tasya sengit.
“Bukan di kampung, Ta. Di Bogor!” Papa mengoreksi.
Tasya mendengus. “Apanya yang di Bogor? Masih mending kalau di Bogor kotanya. Tapi tadi Papa bilang di luar kota Bogor. Itu, kan, berarti di kampung!”

 (Triani Retno A. Novel The Boarding. Penerbit Elex Media Komputindo, 2015)



2. Mengawali sebuah cerita dengan narasi atau paparan

Apa yang mesti diceritakan atau dipaparkan?

Pertama, suasana atau situasi lokasi cerita. Kalau setting-nya di gunung, cerita bisa dibuka dengan menggambarkan suasana di gunung itu.

Contoh:
Setengah enam pagi. Hujan yang turun sejak sore kemarin hingga lepas tengah malam menyisakan dingin yang menggigit. Udara dingin itu langsung menyapu kedua pipiku.
Brrr....
Aku bergegas kembali ke dalam rumah sebelum udara dingin itu membekukan diriku.
Belakangan ini Bandung memang sering berkabut.

(Triani Retno A. Cerpen “Sleeping Girl” dalam buku The Shy. Penerbit Anak Kita, 2014).

Majalah Anita Cemerlang no. 464.
Terbit tanggal 24 Januari – 2 Februari 1994.

Kedua, memaparkan suasana hati seorang pelaku.

Contoh:

Amelia termangu, menatap rumah bercat hijau kebiruan di depannya. Rumah itu….
Helai-helai daun mangga bergerak pelan ditiup angin pagi. Hanya pohon mangga. Di mana kembang-kembang soka merah dan kuning yang dulu ada di pinggir-pinggir halaman itu? Di mana bunga-bunga mawar yang dulu berwarna-warni dan menebarkan aroma harum? Ke mana perginya semua itu? Bagaimana dengan….
“Benar ini rumahnya, Bu?”
Amelia tersentak.

(Triani Retno A. Novel Ibuku Tak Menyimpan Surgadi Telapak Kakinya. Diva Press, 2012)


Ketiga, menceritakan suatu peristiwa atau kejadian yang sifatnya “bergerak”. Di sini bukan hanya menggambarkan benda-benda mati seperti pada Teknik 1 tetapi juga menggambarkan gerak dari makhluk hidup (manusia) yang ada di lokasi cerita.

Contoh:

Celotehan ibu-ibu yang sedang mengerumuni penjual sayur keliling tiba-tiba hilang. Seorang perempuan berbaju ungu berbunga-bunga mendekat. Tanpa komando, semua ibu itu menutup mulut rapat-rapat. Dengan tangan sibuk memilih-milih sayur, berpasang-pasang mata melirik diam-diam.
Perempuan itu sudah tiba di gerobak sayur yang selalu menjadi pusat keramaian di pagi hari itu.
Diam mematung di sana.
Seorang ibu berdeham.
Perempuan itu masih mematung.

(Triani Retno A. Cerpen “Suara” dalam buku Braga Siang Itu. Penerbit Andi, 2013)

3. Mengawali cerita dengan bait-bait puisi atau lagu
Tujuannya untuk memberitahu pembaca tentang makna atau misi yang terkandung dalam cerita. 

Yang perlu diperhatikan, hindari asal comot lagu atau puisi yang tidak ada kaitannya dengan isi cerita.

Contoh: 
                                                               
Laki-laki artinya mempunyai keberanian.
Mempunyai martabat. Itu artinya percaya
pada kemanusiaan. Itu artinya mencintai
tanpa mengizinkan cinta itu menjadi jangkar.
Itu artinya berjuang untuk menang.
(Alexandros Panagoulis)

    Bumi di kota kecil di Karesidenan Banten, 91 km barat Jakarta, masih basah oleh hujan semalam. Butiran air pun masih menempel di dedaunan….

   (Gol A Gong. “Joe” dalam Balada Si Roy. Gong Publishing, 2010)

Sumber: Cahya Sadar. Rubrik “Semua Orang Bisa Mengarang”.
Anita Cemerlang
no. 464. Terbit tanggal 24 Januari – 2 Februari 1994.
Halaman 68-69.



Gimana? Sudah nggak bingung lagi, kan? Kalau kata saya, sih, yang penting berlatih dan berlatih. Baca teori tentang menulis, baca buku berbagai tema, lalu praktik dan praktik menulis.

Happy writing. 😊



Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...