06 August 2017

Bedah Buku dan Sharing Kepenulisan di Depok



Bedah Buku dan Sharing Kepenulisan di DepokSaya beberapa kali ke Depok untuk mengisi acara kepenulisan. Dugdag aja. Pagi-pagi dari Bandung, sore pulang ke Bandung lagi.

Terakhir kali ke Depok adalah saat mengisi acara bedah buku (dan sharing kepenulisan) di Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Depok. Acara ini digagas oleh Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Depok, Ima Halimah.


Beberapa menit setelah tiba di Depok, sinyal hape (saya pakai Simpati dan XL) langsung hilang. Baterai hape dan power bank yang semula penuh pun mendadak drop. Hueee! Ada yang pengin kenalan, kayaknya.  

Sebelum tulisan ini berubah jadi cerita horor, kita skip aja ya. 😄

Ailurofil, Kisah Si Penyayang Kucing

Novel yang dibedah di Depok adalah Ailurofil. Novel teenlit terbaru (atau terakhir?) saya, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Ailurofil sendiri berarti orang yang sangat tertarik pada kucing.

Yang membahas (sekaligus memandu acara) adalah Mas Baron Noorwendo, tukang insinyur dari UI yang menjadi pegiat literasi di Depok. Mas Baron iseng mengulik-ulik, sejauh mana kisah nyata dalam novel itu. 
 
Bedah Buku dan Sharing Kepenulisan di Depok
Mas Baron Noorwendo, pegiat literasi di Depok.

Bedah Buku dan Sharing Kepenulisan di Depok
Beginilah cerita dalam novel Ailurofil di mata Mas Baron. 😊


Hahaha… sejauh mana, ya? Sejauh jalan kenangan yang telah kita tempuh? #plakplak

Saya penulis realis. Maksud saya, yang saya tulis memang ada di sekitar kita, memang sebuah realita. Namun, saya tidak menjadikan novel saya sebagai buku harian.

Kejadian nyata dalam hidup saya yang masuk ke novel hanya sedikit. Sering sebagai pemantik ide saja. Selanjutnya saya kembangkan dengan berbagai konflik, dengan tokoh-tokoh rekaan, dengan bumbu di mana-mana.

Kalau hanya mengandalkan pengalaman nyata, karier saya sebagai pengarang novel mungkin sudah lama tamat.

Dalam Ailurofil, unsur nyatanya adalah saya memang suka kucing. Candy Miaw yang melahirkan di bantal (adegan pembuka di Ailurofil) benar-benar terjadi. Itu saja. Yang lainnya rekaan dan hasil pengamatan terhadap kejadian di masyarakat. Terutama pada para remaja yang bingung akan kuliah di mana setamat dari SMA.

Dari Tanya Jawab Sampai Curhat

Dalam sesi tanya jawab, seperti biasa, banyak yang curhat. Makanya tahun 2009 saya nulis buku berjudul 25 Curhat Calon Penulis Beken. Sering menampung curhatan begini, sih.


Saya tulis beberapa poin pertanyaan dan jawabannya, ya. Beberapa pertanyaan yang tidak saya tulis di sini, insya Allah akan saya jadikan tulisan tersendiri.

Semoga berguna buat Teman-teman yang memendam perasaan pertanyaan serupa.


  • Nulis cerita dulu baru kasih judul atau buat judul dulu baru nulis? (Bernadette, SMAN 8 Depok).


Yang mudah saja dulu. Artinya, nggak masalah mau judul dulu atau isi dulu. Yang penting, ada pokok  ide yang kita pegang supaya cerita nggak melantur ke mana-mana. 

Kalau nggak bisa menulis tanpa judul, buat saja dulu sementara. Dalam perjalanan nanti, judul ini bisa saja kita ubah. Besar kemungkinan ketika menulis ceritanya, kita temukan judul lain yang lebih menarik, lebih cocok, lebih nendang.


  • Gimana caranya supaya naskah diterima penerbit? (Tasya)

Mengirim naskah ke penerbit berarti siap menerima dua konsekuensinya: diterima atau ditolak. Tidak mengirimkan naskah hanya punya satu konsekuensi: tidak akan pernah diterima.

Kita bisa memperkecil risiko ditolak dengan mengenali penerbit yang dituju. Baca dulu buku-bukunya. Mereka nerbitin buku apa? Kalau novel, jenis novel seperti apa? 

Penerbit A dan B sama-sama menerbitkan novel, tapi masing-masing punya aturan sendiri. Penerbit Indiva Press, misalnya, tidak menerima naskah yang ada unsur peri, dewa-dewi, dan mistis. Penerbit Mizan mempunyai batasan tersendiri tentang sejauh mana boleh ada kontak fisik antara cewek-cowok yang bukan muhrim.


Tips berikutnya, pergilah ke toko buku. Perhatikan buku seperti apa yang ada di rak best seller dan new arrival.

 
Bedah Buku dan Sharing Kepenulisan di Depok
Book signing. 😊



  • Suka menulis tapi sibuk dengan kegiatan sebagai pelajar. Gimana supaya bisa tetap nulis? (siswi SMA 3 Depok)

Semua orang punya kesibukan. Penulis pun banyak yang punya pekerjaan lain. Ada yang PNS, dokter, bankir, dsb. Yang ibu rumah tangga dan 24 jam sibuk pun ada. Tapi mereka bisa menulis.

Tipsnya, kuatkan niat untuk menulis. Kalau bisa meluangkan waktu untuk buka medsos berjam-jam, mestinya bisa dong meluangkan waktu buat menulis.

Jangan terbebani dengan pikiran tulisan harus selesai dalam sekali duduk. Menulislah meski hanya satu halaman, hanya beberapa baris. Kalau konsisten, selesai juga kok.


  • Tulisan di Wattpad bisa jadi buku nggak? Penerbit mana yang nerima? (Shafira. SMP 8 Depok)

Bisa. Novel Playboy’s Tale karya Jenny Thalia Faurine itu awalnya di Wattpad, kemudian dilirik dan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. 

Editor penerbit-penerbit besar seperti Elex dan Mizan punya akun, lho, di Wattpad. Mereka mengamati tulisan mana yang bagus, yang pembacanya banyak, yang potensinya besar buat dijadikan buku (yang laris manis).


  • Ada ide, tapi ketika menulis bingung dengan konfliknya. Gimana mengatasinya? (Mutia, SMA 8 Depok)

Bingung? Pegangan aja. Hehe…. Maksud saya, buat outline atau kerangka karangan sebagai pegangan. Di outline itu, tuliskan poin-poin pentingnya. Dari nama tokohnya, sampai konfliknya nanti mau gimana. Kalau yang mau ditulis itu novel, ada baiknya membuat outline per bab juga. 

Outline ini tidak wajib. Tapi kalau sering mendadak bingung ketika nulis atau sering terpaksa ninggalin nulis karena kesibukan lain, sebaiknya buat outline untuk pegangan.

Bedah Buku dan Sharing Kepenulisan di Depok
Salam literasi dari Depok. 😊
 
Bedah Buku dan Sharing Kepenulisan di Depok  
Dengan Ima Halimah,
Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Depok.


Semangat Literasi

Senang melihat antusiasme remaja-remaja Depok ini. Semoga mereka tetap senang membaca sampai kapan pun. Dan menulis? Menulislah. Keterampilan menulis akan menjadi nilai tambah, apa pun bidang yang ditekuni.

Selesai acara lalu ngobrol-ngbrol dengan Teh Ima dan Kang Hilman (wartawan), saya pamit pulang. 

Di kantor travel, saya sempat numpang ngecas hape dan…ternyata nggak masuk. Heu, ini kabel ngadat juga?

Lepas Ashar, saya kembali ke Bandung. Begitu keluar dari kota Depok, baterai power bank mendadak kembali penuh. Baterai hape yang tadinya lowbat, tiba-tiba naik jadi setengahnya. Kabel berfungsi lagi dengan baik dan sinyal internet langsung menguat. 

Ahaha. Salam kompak aja, deh 😎

 
Bedah Buku dan Sharing Kepenulisan di Depok
Foto bareng seusai acara. Ternyata saya merah sendiri. 😀


Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com


Catatan: Late post banget, karena acara di Depok ini tanggal 26 Desember 2016. Bisa saya tulis begini karena poin-poinnya tertulis di buku catatan.😊


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...