12 August 2017

Dari Perempuan Kantoran ke Perempuan Rumahan



Wisuda sarjana menjadi momen tak terlupakan bagi saya. Saya termasuk mahasiswa yang lulus cumlaude dari Universitas Padjadjaran. Bangga? Pasti.

Dosen Muda dan Single

Tak menunggu lama, saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTS di Jakarta. Dosen muda, manis *hiyuuuh*, single pula, membuat para mahasiswa sering mendekati saya.
Ada saja mahasiswa (terutama kelas malam) yang menawarkan diri untuk mengantar pulang atau mengajak hang out di akhir pekan. 

Tawaran dan ajakan itu selalu saya tolak demi wibawa seorang dosen (saya pernah ditegur oleh SDM karena dinilai “terlalu seperti teman” dengan mahasiswa 😄).

Usia yang tak berbeda jauh ternyata membuat mahasiswa merasa nyaman curhat pada saya. Dari masalah pacar hingga kesibukan mereka bekerja apa saja demi membiayai kuliah.
 
Ada mahasiswa saya yang bekerja sebagai penyanyi di sebuah night club. Ia bercerita tentang tetangga-tetangganya di rumah susun. Bukan baru satu kali ia menyaksikan tetangganya melakukan aborsi karena hamil oleh entah siapa. 

“Saya memang penyanyi klab malam, Bu. Tapi saya punya harga diri. Saya kerja gini buat biaya hidup. Buat bayar kuliah juga,” ujarnya.

Beberapa bulan kemudian ia memutuskan berhenti dari night club itu. Ia berhijrah dan mengenakan jilbab. 

“Jakarta ini keras, Bu,” kata seorang mahasiswa lainnya setelah curhat tentang pekerjaan serabutannya. Ia cowok, dua tahun lebih muda daripada saya.




Kemandirian Sebagai Perempuan

Ituah saat-saat saya merasa memiliki kemandirian penuh sebagai seorang perempuan dewasa. 

Secara finansial, saya tak lagi bergantung pada orangtua. Saya membiayai hidup sendiri dengan gaji dari kantor dan honor menulis. Saya melakukan pekerjaan yang saya sukai. Saya merasa bermanfaat bagi banyak orang. 

Pada akhir pekan, saya menulis cerpen (ini hobi saya sejak remaja) atau ngubek-ubek buku di kawasan Senen.
 
Kalau kemudian saya pindah kerja, bukan karena sering digoda oleh mahasiswa 😃. Kontrak saya di PTS itu habis. Meski bisa diperpanjang, saya memilih mengundurkan diri. 

Dari Perempuan Kantoran ke Perempuan Rumahan
Semasa masih jadi dosen. Tau, kan, saya yang mana? 😊

Setahun bekerja di kantor baru, saya menikah. Dua tahun kemudian melahirkan anak pertama.

Keputusan Besar

Keputusan besar yang saya ambil setelah melahirkan adalah berhenti bekerja. Saya menyimpan ijazah saya, meninggalkan dunia kantor yang ramai, dan melupakan cita-cita untuk kuliah lagi. Hari-hari saya habis untuk mengurus putri saya yang cantik.

Namun, galau dan bosan mulai mengusik. Saya merasa minder dan tertohok ketika melihat mantan teman kuliah menjadi wartawan dan news reader di sebuah TV swasta. Perasaan galau itu menggila ketika menemukan nama teman lain terpampang sebagai co-producer sebuah program talkshow di TV swasta lainnya. 

Gundah saya menghebat ketika mengetahui teman-teman saya bekerja di perusahaan-perusahaan besar atau meneruskan kuliah ke luar negeri.

Mereka sudah menjadi perempuan karier yang hebat! Saya? Saya di rumah, berkutat dengan kain-kain bau ompol. Dengan lagu Pok Ame-Ame dan Lihat Kebunku. Dengan minyak telon dan kewajiban menimbang si kecil  ke Posyandu.

Sama sekali tak hebat! Tak ada yang bisa dibanggakan! 

Kenapa saya mengambil keputusan ini? Bukankah saya lulus cumlaude? Bukankah saya pernah berkarier sebagai dosen? Seharusnya saya bisa meraih lebih tinggi lagi.

Akhirnya Saya Tahu…

Putri kecil sayalah yang kemudian meredakan kegundahan saya. Perkembangannya sungguh menakjubkan. Ia sudah lancar berbicara ketika anak-anak sebayanya masih menggunakan bahasa bayi. Ia lancar membaca ketika teman-temannya baru belajar mengenal huruf (saya mengajarnya membaca dengan cara bermain. Kapan-kapan saya tulis, ya. Insya Allah).

Ia tak hanya menjadi kebanggaan saya, tetapi juga guru-gurunya. Berkali-kali ia menjadi satu-satunya murid kelas A yang ikut berlomba bersama murid-murid kelas B, bahkan mewakili sekolahnya.

Akhirnya, saya tahu untuk apa saya berhenti bekerja kantoran. Untuk anak-anak saya. Ini pilihan saya. Ibu lain, perempuan lain, bisa saja memiliki pilihan berbeda.

Saya sendiri selalu takjub pada teman-teman yang tetap ngantor setelah punya anak. Sungguh takjub. Mereka perempuan-perempuan hebat. Saya sendiri tak sanggup jika berada pada posisi mereka (seperti mungkin mereka tak sanggup jika berada pada posisi saya).



Kembali Bekerja

Kini putri sulung saya sudah remaja. Sudah SMA. Menulis menjadi salah satu aktivitas positifnya. Saat ini, ia sedang menggarap novel keempatnya.

Saya? Saya sudah kembali bekerja. Oh, saya tidak bekerja 8 to 5 di kantor. Saya bekerja dari rumah.

Internet memungkinkan saya bekerja sebagai penulis dan editor untuk berbagai penerbit di Bandung, Yogyakarta, Jakarta, Semarang, dan Depok. Sesekali saja saya “turun gunung” untuk menghadiri talkshow, pelatihan penulisan, berburu buku untuk toko online saya, atau berkumpul dengan komunitas blogger.

Dari Perempuan Kantoran ke Perempuan Rumahan
Mengisi workshop menulis. (Foto: Robi Afrizan Saputra)

Saya tak lagi menyesali pilihan saya meninggalkan zona keren sebagai pekerja kantoran. Menjadi ibu sekaligus terus berkarya dan bermanfaat bagi banyak orang, tetap bisa kok.

Bagi saya, berkarier di kantor, bekerja dari rumah, atau menjadi ibu rumah tangga sama-sama penuh tantangan. Sama hebatnya. Perempuan-perempuan hebat tentu tak perlu terlibat mom’s war, kan?


Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...