31 October 2017

KDRT? Jangan Hanya Diam dan Pasrah



KDRT? Jangan Hanya Diam dan PasrahPernahkah membaca berita tentang seorang istri yang kakinya dipotong oleh sang suami? Peristiwa tersebut terjadi di Badung, Bali, pada awal September 2017. Motifnya karena sang suami cemburu.

Sebelumnya, pada bulan Mei 2017 seorang suami menabrak dan melindas tubuh istrinya dengan truk hingga tewas. Perstiwa itu terjadi di Garut, Jawa Barat. Motifnya pun karena cemburu, plus masalah ekonomi.


Masih banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) lainnya. Namun, yang dua itu membuat saya merasa sangat nyeri ketika membacanya.

Ketika Pernikahan Menjadi Neraka

Setiap orang normal yang menikah tentu berkeinginan membangun rumah tangga yang bahagia. Dalam terminologi Islam, mewujudkan rumah tangga yang sakinah ma waddah wa rahmah.

Pada kenyataannya, banyak yang jauh panggang dari api. Surga dunia yang diharapkan, tetapi neraka dunia yang didapatkan. Harapan hidup bahagia bersama suami yang penyayang dan mengayomi, buyar seketika saat mendapati sang suami begitu ringan tangan. Bukan ringan tangan yang senang meringankan beban istri, melainkan ringan melayangkan tangan untuk menyakiti istri.

Kasus penganiayaan yang saya tulis di atas hanyalah dua dari sekian banyak kasus kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Dalam catatan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani sepanjang tahun 2016. Sebanyak 245.548 kasus adalah masalah kekerasan terhadap istri yang berujung pada perceraian.

Sangat besar kemungkinan jumlah kekerasan sebenarnya jauh di atas angka tersebut, hanya saja tidak dilaporkan. Lebih-lebih jika kekerasan itu "hanya" berupa kekerasan psikis (yang sebenarnya menurut UU Nomor 23 Tahun 2004 juga termasuk KDRT).

Bertahan dalam Pernikahan Sakit

Tak sedikit kejadian, istri terpaksa bertahan dalam pernikahan yang sakit. Mereka memilih diam. Memilih menanggung sakit fisik dan psikis. Tubuh babak belur, jiwa selalu ketakutan, stres, depresi… tetapi tetap diam dan bertahan.

Ada banyak hal yang mungkin membuat mereka mengambil pilihan tersebut.

1. Ketergantungan pada suami secara finansial.
Penghasilan keluarga hanya bersumber dari suami. Istri tidak bekerja atau berhenti bekerja setelah menikah dan punya anak. 

Ada ketakutan “siapa yang nanti membiayai anak-anak?” jika memilih bersuara dan mengakhiri pernikahan yang menyakitkan itu.


2. Beralasan demi anak-anak.
Ini alasan klise. Bertahan demi anak-anak. Tak ingin anak-anak tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ayah. 

Namun, kasih sayang seperti apa yang bisa didapatkan seorang anak dari ayah yang suka menganiaya? Teladan seperti apa yang bisa diperoleh seorang anak dari melihat ayahnya menyiksa ibunya?

Bukan teladan yang didapat. Anak bisa tumbuh menjadi pelaku kekerasan karena terbiasa melihat kekerasan.

Dampak lainnya, jiwa anak bisa terguncang, seperti pada kasus di Badung, di mana sang anak melihat ayahnya memotong kaki ibunya. Wakil Ketua LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban), Hasto Atmojo, menyebutkan bahwa sang anak mengalami goncangan psikologis karena peristiwa tersebut. LPSK sendiri akan melakukan asesmen medis dan psikologis pada korban dan anaknya, serta membantu korban berkomunikasi dengan lembaga terkait untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.


3. Menganggap perceraian adalah aib dan dosa besar.
Dalam agama Islam, perceraian bukan sesuatu yang diharamkan. Yang tidak diperbolehkan adalah menggugat cerai tanpa alasan yang jelas.

Kondisi-kondisi tertentu secara syari memperbolehkan istri untuk menggugat cerai. Salah satunya jika suami berakhlak buruk dan bersikap kasar.

Ada satu nasihat yang sangat saya ingat tentang hal ini. “Allah melarang kita berbuat zalim, termasuk menzalimi diri sendiri. Terus bertahan dalam pernikahan yang menyakiti secara fisik dan psikis sama saja dengan menzalimi diri sendiri dan anak-anak.”


4. Tuntutan keluarga besar.
Ada pula perempuan-perempuan yang terpaksa menahan penderitaan fisik dan psikis karena tuntutan keluarga besar. 

“Jangan cerai. Kasihan anak-anakmu.”
“Cekcok itu biasa dalam rumah tangga.”
“Jangan egois. Bercerai sama saja mengorbankan anak-anak.”
“Kalau kamu jadi janda, orang akan menggunjingkan kamu dan mengecap kamu sebagai perempuan nakal.”
“Jangan buka aib keluarga.”
"Makanya jadi istri yang patuh dan bisa menyenangkan suami."

Tuntutan-tuntutan demikian bisa membuat perempuan, istri, semakin terperosok dalam penderitaan fisik dan psikis. Bahkan bisa kehilangan nyawa karenanya.


KDRT? Jangan Hanya Diam dan Pasrah
KDRT bisa sampai menghilangkan nyawa.
 

Menikah Seharusnya Untuk Bahagia

Dalam dongeng-dongeng, putri dan pangeran akhirnya menikah kemudian hidup bahagia selama-lamanya. They live happily ever after.

Ya, menikah seharusnya untuk bahagia. Bukan untuk disakiti secara fisik dan psikis.

Untuk menjadi istri berbakti, apakah harus membiarkan tubuh babak belur karena dipukuli? Apakah harus membiarkan wajah biru lebam karena dijadikan sansak tinju? 

Untuk menjadi istri saliha, apakah harus membiarkan diri dihina, dicaci-maki, dan direndahkan sedemikian rupa? Apakah harus terus-menerus tenggelam dalam ketakutan dan depresi?

Bagi saya, jawabannya adalah tidak. Saya meyakini bahwa Allah membekali manusia dengan akal dan hati agar bisa berpikir dan menimbang dengan jernih.

Diam Bukan Pilihan

Diam adalah emas, kata kiasan lama. Namun, ada kalanya diam adalah petaka. 

Bicaralah. Carilah orang yang bisa mendengarkan dengan empati. Orang yang bisa melihat persoalan dengan jernih.

Di sisi lain, jangan hanya diam jika melihat kejadian KDRT di sekitar kita. Pekalah. Berempatilah. Jangan bersikeras berpendapat bahwa itu adalah urusan rumah tangga mereka. Jangan pula memaksa mereka untuk bertahan jika sudah tampak membahayakan keselamatan jiwa raga mereka.

Benar, itu urusan rumah tangga mereka. Namun, sebagai warga masyarakat kita berkewajiban untuk mencegah KDRT. Bukan karena ingin ikut campur urusan rumah tangga lain, melainkan karena memang menjadi kewajiban kita. Kewajiban ini diatur dalam Pasal 15 UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Diam tak selamanya emas. Bersuaralah, bertindaklah, untuk menyelamatkan hidup dan masa depan kita dan orang-orang yang kita sayangi.

Referensi

  1. Budimulyawan. LPSK. 6 Oktober 2017. LPSK Datangi Polres Badung Tinjau Proses Kasus Potong Kaki Istri. https://www.lpsk.go.id/forum/forum_post/469
  2. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
  3. Tim Okezone. Okezone. 4 Mei 2017. Nyawa Dewi Melayang di Tangan Suami Tersayang. https://news.okezone.com/read/2017/05/04/340/1683144/nyawa-dewi-melayang-di-tangan-suami-tersayang 
  4. Ummi Online. 24 Februari 2016. 12 Alasan yang Membolehkan Istri Menggugat Cerai. http://www.ummi-online.com/12-alasan-yang-membolehkan-istri-menggugat-cerai.html. 
  5. Yudiawan, Deni. Pikiran Rakyat. 8 Maret 2017. Miris, Ada 259.150 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Setahun Lalu. http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2017/03/08/miris-ada-259150-kasus-kekerasan-terhadap-perempuan-setahun-lalu-395556

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

9 comments :

  1. betul kalau sdh ada kekearsan , kenapa hrs dipertahankan ya

    ReplyDelete
  2. Sedih dan serem kalo liat kasus-kasus KDRT.
    Jadi inget saran mamahku sebelum nikah: suami pecahin piring 1 biji. Kamu pecahin selusin. Biar gak kebiasaan mecahin piring.

    Menurutku nasihat itu lucu dan nekat.

    Tapi pesan yang disampaikan sangat jelas: jangan mau dianiaya suami.

    Sejelas ketika beliau mengatakan, "kalo suamimu main tangan, pulang ke rumah."

    Tapi beliau juga berpesan, "kalo berantem, selesaikan segera. Jangan pernah cerita konflikmu dengan suami sama Mamah. Nanti kamu udah mesra lagi, mamah tetep sebel."


    Mengingat 3 pesan ajaib mamahku itu, kurasa anak perempuan harus dibekali perasaan bahwa mereka punya tempat kembali bila suami bersikap kasar.

    Bahwa mereka punya pendukung yang siap melindungi, saat mereka terancam.

    Pastinya itu membuat mereka lebih PD dalam bersikap.

    Sorry, kalo komennya gak nyambung sama tema.

    Soalnya kupikir, bila perempuan tidak merasa sendiri, dia nggak akan mau menerima KDRT begitu saja.

    ReplyDelete
  3. Duhhh sedihh bacanyaa :( untuk apa menikah kalo untuk disakiti..

    ReplyDelete
  4. ada baiknya juga meningkatkan peran laki-laki untuk mengetahui soal kekerasan rumah tangga ini. Misalnya ajak suami ikut berdiskusi tentang kondisi rumah tangga. Jadi laki-laki lebih peduli terhadap kondisi keluarganya

    ReplyDelete
  5. Sebagai anak yang sering melihat KDRT, Saya gemes dan jengkel jika ada yang bilang alasan bertahan adalah anak-anak. Saya sering marah pada ibu saya, kenapa harus bertahan? Saat kami masih kecil, alasannya 'kasihan anak2 masih kecil". Saat kami sudah mandiri, alasannya "kasihan bapakmu sudah tua"

    ReplyDelete
  6. Ngeri banget Mbak itu kejadian yang di Bali dan Garut. :(( Kebayang kayak apa trauma anak-anaknya. Semoga rantai kekerasan itu putus, tidak tersambung lagi. Naudzubillahi min dzalik. Nice post, Mbak.

    ReplyDelete
  7. ngeri juga, kok ada , kok bisa sekejam itu, duh...

    ReplyDelete
  8. Sedih plus ngeri banget kalau denger KDRT.

    ReplyDelete

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...