Menumbuhkan Semangat Wirausaha Melalui Entrepreneurs Wanted


Menumbuhkan semangat wirausaha


Senin tanggal 18 Desember 2017 lalu saya beruntung bisa mengikuti acara Entrepreneurs Wanted angkatan 8 di Bandung. Beruntung?

Yup. Acara yang menumbuhkan semangat wirausaha ini terbuka tetapi terbatas. Hanya untuk mahasiswa Unpad, ITB, Unpar, Universitas Telkom, SMA Negeri 1 Bandung, dan SMA Negeri 3 Bandung. Itu pun dalam jumlah terbatas.


Presiden Jokowi Datang

Acara dijadwalkan mulai pukul sembilan pagi. Tapi Minggu (17 Des) sore, ketika saya sedang menunggu Grab di tengah derai air mata hujan,  ada pemberitahuan di grup. 

“Besok datang lebih pagi, ya. Jam 8 sudah kumpul di Sabuga. Ada Presiden Jokowi. Pengamanan jadi lebih ketat.”

Laaah… ada Presiden? Baru tahu saiyah.

Ternyata panitia memang mempunyai dua skenario. Presiden datang dan Presiden tidak datang. Rupanya datang. Baiklah. Berarti siap-siap ketemu Paspampres ganteng #eh


Antrean peserta
Pemeriksaan keamanan.

Entrepreneurs Wanted

Entrepreneurs Wanted ini merupakan inisiasi Kantor Staf Kepresidenan untuk menumbuhkan semangat wirausaha para generasi muda, mempertemukan mereka dengan pebisnis muda sukses di negeri ini.

Dengan kehadiran RI-1, Entrepreneurs Wanted di Bandung ini berarti menghadirkan tiga pembicara dalam satu tema besar: “Wirausahawan Terbaik Berbagi Untuk Penerus Republik”.

Ketiga pembicara itu adalah Presiden Jokowi; CEO dan co-founder Tokopedia, Wiliam Tanuwijaya; serta CEO dan founder Amartha, Andi Taufan. (Sebelumnya di flyer hanya tercantum nama William Tanuwijaya dan Andi Taufan).

Selain itu, hadir juga motivator dan inspirator Entrepreneurs Wanted angkatan-angkatan sebelumnya. Seperti Nanik Soelistiowati (pemilik Pisang Goreng Madu Bu Nanik), Nadiem Makarim (CEO Go-Jek), Achmad Zaky (CEO dan Co-Founder Bukalapak), dan Iman Usman (Co-Founder Ruangguru).

Pesertanya?

Wow! Ada 1.700 orang! Mereka ini adalah para siswa dan mahasiswa pilihan yang ingin memiliki usaha sendiri. 

Dari ramai tepuk tangannya, sih, sepertinya yang paling banyak mahasiswa Unpad dan ITB. 

Menumbuhkan Semangat Wirausaha
1.700 anak muda berkumpul di ruangan ini.

The Business Start Very Humble

Kalimat tersebut diucapkan oleh Andi Taufan, CEO dan Founder amartha.com, mengawali ceritanya.

Amartha bermula dari melayani masyarakat kecil di sekitar Parung dan Ciseeng, Kabupaten Bogor. 

Bentuk layanan mereka adalah memberikan modal usaha pada rakyat kecil. Maksudnya, supaya rakyat kecil bisa lebih berdaya.

Andi Taufan
Andi Taufan, CEO dan Founder Amartha.

Namun, kemudian muncul masalah baru. Para peminjam tidak bisa mengembalikan uang yang mereka pinjam. 

Penyebabnya adalah karena urusan bisnis dan keluarga tercampur aduk. Uang yang seharusnya untuk bisnis, dipakai untuk kebutuhan keluarga. Cash flow-nya jadi nggak jelas.

Dari situ Taufan belajar bahwa meminjamkan modal pada rakyat kecil bukan cuma masalah percaya atau tidak percaya mereka bisa mengembalikan. Mesti ada pendampingan juga.

Taufan kemudian memutuskan untuk membuat usaha mikro berupa koperasi simpan pinjam.

Pada perkembangan selanjutnya, dibentuklah platform online amartha.com untuk mempermudah meminjam modal usaha. 

Situs ini menghubungkan pemilik modal dengan mereka yang membutuhkan modal. 

Sampai saat ini (2017), amartha.com telah menyalurkan modal lebih dari Rp 300 miliar.


Bermimpi dengan Mata Terbuka

Siapa yang tidak kenal Tokopedia? William Tanuwidjaja, CEO dan Co-Founder Tokopedia, terpikir untuk memulai usaha ini 10 tahun lalu karena terusik melihat ketimpangan antara pembeli di kota dengan di pelosok. 

Orang-orang di kota lebih mudah memperoleh barang-barang yang dibutuhkan, sedangkan di pelosok sulit sekali.

Keinginan William itu terkendala oleh modal. Dua tahun ia berusaha mencari modal dan selalu gagal. Pihak bank ragu-ragu mengucurkan dana karena di Indonesia belum ada usaha seperti yang diusulkan William. 



Wiliam Tanuwijaya founder Tokopedia
William Tanuwijaja, CEO dan Co-Founder Tokopedia.

“Siapa orang Indonesia yang berhasil dalam bisnis teknologi?”

Pertanyaan seperti itu tak bisa dijawab oleh William, karena memang belum ada.   

Nah, tidak adanya role model ini membuat pemodal khawatir bisnis yang dijalankan William akan gagal dan berdampak pada ketaksanggupan mengembalikan modal.


Kemampuan berbahasa Inggris yang jelek pun menjadi kendala. Namun, William tidak putus asa. Ia terus berusaha. Ia yakin, setiap hari yang datang akan lebih mendekatkannya pada kenyataan.

“Bermimpi harus dengan mata terbuka. Apa yang dipikirkan, diucapkan, direncanakan, dan dilakukan harus konsisten,” ujar William.

Kini, puluhan ribu orang mendaftar untuk bekerja di Tokopedia, termasuk lulusan Harvard University. 

Tokopedia pun semakin kokoh. Setiap bulan, 45 juta pelanggan mendatangi Tokopedia.


Jadilah Entrepreneur Karena Pilihan

Seperti yang kita tahu, sebelum menjadi pejabat publik Presiden Jokowi adalah seorang pengusaha perkayuan.

Nah, dalam kesempatan Entrepeneurs Wanted ke-8 ini Presiden bertutur tentang usahanya yang telah berjalan selama 27 tahun.

Presiden RI Joko Widodo
Presiden RI, Joko Widodo. "Jadilah entrepreneur karena keinginan."

Merintis bisnis dari awal membuat Jokowi memahami sulitnya berwirausaha. Dari mencari modal, mencari pembeli, mengurus perizinan, mengisi SPT pajak, sampai mengurus karyawan. 

Kesulitan itu tidak menyurutkan semangatnya. Ia terus berusaha hingga akhirnya sanggup menembus pasar ekspor.

Sayangnya, anak-anaknya tidak tertarik untuk meneruskan usaha ayah mereka. 

Gibran lebih tertarik berbisnis martabak, sedangkan adiknya malah berbisnis pisang goreng. Namun terbukti, brand value martabak Gibran justru lebih besar daripada usaha kayu sang bapak.

“Ada peluang besar bagi anak-anak muda untuk terjun ke dunia bisnis,” ujar Jokowi. Ia kemudian menyebutkan bahwa jumlah entrepreneur di Indonesia baru 3,3%. Masih di bawah ideal. 

Menurut Bank Dunia, idealnya 4%. Negara tetangga kita Singapura, bahkan sudah mencapai 7%.

Kapan saat yang tepat untuk memulai usaha?

Ternyata, menurut Jokowi tidak ada waktunya. Maksudnya, seseorang bisa memulai usahanya kapan saja. Yang penting, memulainya.

“Bagaimana bisa menjadi pengusaha kalau memulainya saja tidak pernah?” ujar Jokowi.

Presiden juga menegaskan agar anak-anak muda berwirausaha karena memang memilih untuk berwirausaha, bukan karena keterpaksaan. Jangan takut gagal karena semua yang berusaha pasti pernah mengalami kegagalan.


Kecil-Kecil Jadi Pengusaha

Dalam kesempatan itu, ada lima peserta yang berkesempatan berbincang langsung dengan Presiden Jokowi. 

Kelima orang itu adalah pelajar dan mahasiswa yang sudah memulai usaha sendiri. Mau tahu usaha mereka apa saja?

Remaja berwirausaha
Remaja kreatif, kecil-kecil jadi pengusaha.

  • Ardian, siswa SMAN 3 Bandung. Ia berjualan sorban di Instagram. Omzetnya Rp 2,5 juta per bulan.
  •  Dinar, mahasiswa ITB. Berjualan baju muslim. Omzetnya Rp 1 juta per bulan.
  • Akbar, mahasiswa ITB. Memberdayakan pengrajin sandal di Bandung. Omzet usahanya Rp 3 juta per bulan.
  • Afra, siswi kelas 10 SMAN 1 Bandung. Berjualan perlengkapan jenazah di Tokopedia.
  • Nisrina, siswi SMAN 1 Bandung. Berjualan sling bag di Instagram. Awalnya mau belanja sling bag, eh malah tertarik buat jualan.

Semangat wirausaha mereka keren banget! Ketika sebagian orang menuding remaja sebagai alayers dan generasi micin, mereka sudah mulai merintis usaha.

Setelah berbincang-bincang dengan Presiden di panggung, apakah mereka dapat sepeda? Hihi… enggak. Mereka nggak dapat sepeda tapi dapat bantuan modal.

Baca Juga: Mengembangkan Potensi Pondok Pesantren dengan OPOP

acara entrepreneurs wanted
Foto bareng selesai acara.


Butiran Motivasi dan Inspirasi

  • “Ubah paradigma setelah lulus kuliah. Jangan sampai semua ingin jadi pegawai.” (Joko Widodo, Presiden RI)
  • “Jadilah entrepreneur karena pilihan, bukan keterpaksaan.” (Joko Widodo, Presiden RI)
  •  “Generasi sekarang banyak yang tertarik berwirausaha. Berbeda dengan generasi terdahulu yang bercita-cita menjadi pegawai. Sekarang saatnya mencetak entrepreneur sebanyak mungkin, bukan menjadi pegawai.” (Teten Masduki)
  • “Kalau sudah kalah kece dan kalah tajir, jangan sampai kalah tangguh!” (Yasa Singgih, Founder Men’s Republic)
  • “Bermimpi harus dengan mata terbuka. Apa yang dipikirkan, diucapkan, direncanakan, dan dilakukan harus konsisten.” (William Tanuwidjaja, CEO dan Co-Founder Tokopedia)
  • "Tidak ada batasan untuk menjadi pengusaha.” (Rudiantara, Menkominfo RI)
  • “Hasil karya penelitian dan inovasi harus memberikan nilai tambah ekonomi suatu bangsa.”  (Kadarsah Suryadi, Rektor ITB) 
  •  “Trust in your passion and don’t lost hope.” (Andi Taufan, CEO dan Founder Amartha)

Entrepreneurs wanted Bandung
Sekadar buat kenang-kenangan.


Salam,

Triani Retno A

Tidak ada komentar

Komentar dimoderasi dulu karena banyak spam. Terima kasih.