14 June 2014

[Resensi]: (Bukan) Salah Waktu yang Tidak Setia



Pertama melihat novel ini, yang terlintas dalam pikiran saya adalah: ini novel remaja. Anggapan ini muncul karena cover yang unyu-unyu. Blurb novel yang puitis tak membenarkan atau menyalahkan pendapat saya ini.

Ternyata saya salah. Novel ini bukan teenlit, melainkan salah satu pemenang Lomba Novel “Wanita dalam Cerita” yang diadakan oleh Penerbit Bentang (2013).




Masa Lalu yang Kelam
Dibuka dengan mimpi buruk Sekar, cerita mengalir pada keseharian Sekar setelah resign dari perusahaan tempatnya bekerja.

Bagi seorang perempuan karier, berhenti bekerja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berhenti bekerja potensial menimbulkan kegamangan akan eksistensi diri. Meski Prabu tak menuntut macam-macam, Sekar ingin memberikan yang terbaik kepada suaminya. Ia ingin bisa memasakkan makanan kesukaan Prabu. Sayangnya, ia tak bisa memasak. Pembantunya jauh lebih mahir dibandingkan dirinya. Begitu cekatannya hingga membuat Sekar merasa terintimidasi.

Mengangkat tema wanita, Nastiti menggunakan alur campuran untuk mengolah ceritanya, menguak peristiwa-peristiwa masa lalu yang memengaruhi hidup masa kini para tokohnya. Sekar dan Prabu yang telah dua tahun berumah tangga ternyata memiliki masa lalu kelam dan traumatis yang mereka tutup rapat-rapat. Ketika masa lalu itu terbuka sedikit demi sedikit, keutuhan rumah tangga mereka pun terancam.



Kesetiaan pada Waktu
Membaca novel yang berlokasi dominan di Jakarta dan Bogor ini, saya teringat pada film Janji Joni (2005) yang dibintangi Nicholas Saputra. Ceritanya jauh berbeda. Persamaannya adalah tentang kesetiaan pada waktu.

Dalam Janji Joni, Joni berjanji akan mengantarkan rol film yang akan ditonton seorang gadis cantik ke bioskop. Jika berhasil, Joni akan diberitahu nama gadis itu. Joni berjanji akan mengantarkan film itu dalam tempo satu jam. Joni berhasil. Namun, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perjalanan Joni secara logika lebih dari satu jam.


Novel (Bukan) Salah Waktu juga mempunyai masalah dengan logika waktu, di antaranya:
  • Sekar berusia 28 tahun (halaman 35), ia sudah 8 tahun bekerja (halaman 5). Sebelumnya, Sekar kuliah di Yogyakarta selama 5 tahun (halaman 63). Jika Sekar duduk di kelas 2 SMP ketika berusia 14 tahun (halaman 57), berarti Sekar lulus SMA pada usia 18 tahun.  Karena Sekar kuliah selama 5 tahun, seharusnya Sekar lulus pada usia 23 tahun. Sekar baru bekerja setelah lulus sarjana. Setelah delapan tahun bekerja, berarti usia Sekar 31 tahun, bukan 28 tahun.

  • Ia tak menyangka, akhirnya setelah sekian puluh tahun, ia bakal mendapat jawaban….(halaman 133). Jangka waktu dari Sekar mulai kuliah di Yogya hingga mendapat jawaban atas keanehan Mbok Ijah hanya sekitar 10 tahun, bukan puluhan tahun.





Novel Debut
Baguskah novel ini? Jika tidak bagus, tidak mungkin novel ini menjadi salah satu pemenang lomba novel Penerbit Bentang. Sepengetahuan saya, Bentang menerbitkan novel-novel bermutu, salah satunya adalah tetralogi Laskar Pelangi.

Meski demikian, novel ini bisa menjadi lebih bagus. Misalnya dengan lebih memperhatikan timelines tokoh-tokohnya, lebih sabar dalam menyelesaikan konflik, dan konsistensi karakterisasi tokoh (dalam hal inkonsistensi ini, yang paling mencolok adalah latar belakang ayah Prabu. Di halaman 13 disebutkan ia adalah direktur di perusahaan minyak. Namun, di halaman 107-108 disebutkan bahwa ia adalah pejabat di Badan Pertanahan).

Mengingat ini novel debut, besar harapan saya karya berikutnya akan lebih bagus.


 “Aku mencintaimu lebih dari apa pun. Aku rela kehilangan segalanya, kecuali kamu.” (blurb)


Judul: (Bukan) Salah Waktu
Pengarang: Nastiti Denny
Penyunting: Fitria Sis Nariswari
Penerbit: Bentang, 2013
Tebal: viii + 248 halaman
ISBN: 978-602-7888-94-4
Harga: Rp 46.000,-

Saya membuat banyak lipatan di dalam novel (Bukan) Salah Waktu :)





http://www.kampungfiksi.com/2014/05/lomba-review-bukan-salah-waktu.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...