05 July 2015

SKTM, Ketika Miskin Menjadi Kebanggaan


Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) di Bandung tahun 2015 ini sepertinya paling bermasalah dibandingkan tahun-tahun lalu. Masalah utama adalah pada adanya jalur afirmasi yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). 

Tahun lalu pun jalur ini ada tapi tak sampai sericuh sekarang karena ditetapkan 20% dari daya tampung sekolah. 


Masih segar dalam ingatan saya ketika tahun lalu mengobrol dengan seorang bapak berpakaian lusuh. Bapak itu sedih karena anaknya tak diterima di SMP pilihan pertamanya. Nilainya hanya kurang nol koma sekian dari passing grade (PG). Bapak itu bercerita juga tentang pekerjaannya yang hanya berjualan kecil-kecilan. 

Sayangnya si bapak tidak tahu ada jalur afirmasi yang memungkinkannya mendaftar dengan SKTM dan diseleksi terpisah dari pendaftar jalur akademis. Obrolan dengan si bapak itu saya posting di blog ini dan di Twitter--dengan mention ke Kang Emil.


Tahun 2015 ini, jalur afirmasi menjadi "primadona". Mungkin karena keberadaan jalur ini sudah disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat. Sayangnya, ada saja orang-orang yang bermental curang dan menghalalkan segala cara.


Mendadak Miskin
Maksud baik Pemkot Bandung memberikan kesempatan pada warga miskin untuk mendapatkan pendidikan yang baik, ternyata disalahgunakan oleh sebagian warga kota.

Janji Pemerintah bahwa semua pendaftar jalur afirmasi akan diterima di SMP/SMA/SMK Negeri, mungkin serupa angin surga. Tanpa malu-malu, sebagian warga kota yang tergolong mampu beramai-ramai mengurus SKTM. Berbekal surat miskin itu, anak-anak mereka yang memperoleh nilai UN rendah dan akan kalah bersaing dengan anak-anak lain, dapat melenggang mulus ke sekolah negeri idaman.

Malam setelah mendaftar ke SMP, kakak dan keponakan saya ke rumah. Mereka bercerita, beberapa teman keponakan saya yang tergolong mapan (tapi nilai UN-nya jauh di bawah keponakan saya) mendaftar dengan SKTM. Mereka tenang, sudah pasti diterima. Tidak mampukah mereka yang ketika masih SD saja bawa tab ke sekolah? Tidak mampukah mereka yang memiliki mobil pribadi bagus itu? Tidak mampukah mereka yang ibunya seperti toko emas berjalan?


Miskin Hati
Di semua lokasi  pendaftaran, pendaftar jalur afirmasi ini membludak. Jalur akademis tergencet habis-habisan. Bahkan, ada sekolah yang kuotanya habis untuk jalur afirmasi. Duh, begitu banyakkah warga tidak mampu di Bandung? Begitu banyakkah warga Bandung yang bangkrut dan jatuh miskin dalam waktu bersamaan? Saya kok nggak yakin.

Banyak pemegang SKTM itu yang sangat berkecukupan secara materi. Sayangnya, mereka miskin hati. Mereka miskin harga diri. Mereka kaya tetapi bermental miskin. 

Kalau mereka tak miskin hati, tentu mereka yang sebenarnya memiliki rumah permanen nan bagus di perumahan kelas menengah atas itu tidak akan merebut hak anak-anak yang sudah susah payah belajar keras demi memperoleh nilai UN setinggi mungkin.
Banyaknya pengguna SKTM abal-abal membuat anak-anak
yang telah tekun belajar berubah menjadi galau.

Kalau mereka tak miskin harga diri, tentu mereka yang sehari-hari menggenggam ponsel jutaan, tab, iPhone, dan sebagainya itu tak akan menghina diri mereka sendiri dengan mengaku-aku miskin.

Kalau mereka tak bermental miskin, tentu mereka yang sehari-hari mengendarai mobil pribadi nan sejuk ber-AC itu tidak akan mendaftar dengan menggunakan surat miskin.

Mungkin mereka lelah menjadi orang kaya. Mungkin mereka sangat ingin menjadi orang miskin. Yah, semoga Allah mengabulkan keinginan mereka.


Usut Tuntas
Di tengah kegeraman tentang banyaknya SKTM palsu, ada sedikit angin segar dari Kang Emil yang mengatakan akan melibatkan kepolisian untuk mengusut SKTM palsu ini. Jika terbukti, pendaftar dengan SKTM itu akan diberi sanksi dan diproses secara hukum. Kursi yang kosong setelah mereka tinggalkan akan diberikan kepada pendaftar yang jujur di jalur akademik.

Begitu banyak pendaftar (dan orangtuanya, tentu saja) yang berharap penyelidikan ini bukan sekadar retorika atau pencitraan. Begitu banyak yang berharap akan segera melihat bukti nyatanya. Salah satunya akan langsung tampak pada bertambahnya kuota di jalur akademik.

Kalau perlu, nama-nama dan domisili para pemegang SKTM palsu itu dipublikasikan saja. Tega? Kejam? Mungkin. Tapi para pemilik SKTM palsu itu lebih kejam karena:

  • Mereka merampas hak anak-anak yang telah susah-payah belajar untuk memperoleh nilai UN yang tinggi.

    Ilustrasi-ilustrasi  dalam tulisan ini adalah karya keponakan saya, Saffanah.
    • Mereka menyakiti hati anak-anak (dan keluarganya) dari kelas ekonomi menengah pas-pasan yang punya nilai rata-rata UN tinggi (8 bahkan 9) tapi terpental karena kuota habis oleh pendaftar dengan SKTM palsu. Mau mendaftar di sekolah swasta yang bagus? Orangtua mereka memang tidak miskin secara ekonomi tapi pas-pasan pisan.
    • Mereka mengajarkan anak-anak mereka melakukan praktik kolusi dan korupsi sejak dini. Bukankah kata Kang Emil tahun lalu, salah satu tujuan PPDB Online adalah membasmi korupsi dan kecurangan dalam pendaftaran siswa baru? 
    • Mereka membunuh semangat anak-anak untuk berkompetisi secara sehat. Apa jadinya masa depan bangsa kita jika generasi mudanya tak punya semangat bersaing secara positif?

    Jadi, demi rasa keadilan masyarakat, tolong diperiksa satu per satu lalu tindak tegas jika terbukti menggunakan SKTM palsu. Jangan memeriksa dengan menggunakan sampling. Ada ribuan keluarga mereka yang sekarang harap-harap cemas menunggu hasil penyelidikan. Apakah anak mereka akan bisa bersekolah di sekolah negeri atau mereka harus mengorek tabungan (atau malah berutang) untuk memasukkan anak ke seolah swasta yang bagus.


    Afirmasi dengan Persentase
    Saya pribadi menyambut baik maksud Pemerintah Kota Bandung yang hendak memberikan pendidikan gratis pada warga miskin. Saya setuju dengan pendapat bahwa pendidikan adalah salah satu cara untuk memutus rantai kemiskinan. Dengan pendidikan yang baik, diharapkan anak-anak itu kelak dapat mengangkat kondisi perekonomian keluarga mereka. Namun, membuka pintu selebar mungkin ternyata menimbulkan masalah baru.

    Sedikit alternatif usul saya untuk ke depannya:

    • Ada persentase yang jelas dan masuk akal tentang pendaftar jalur afirmasi yang diterima. Berapa persen dari daya tampung sekolah.
    • Anak-anak yang mendaftar melalui jalur afirmasi ini tetap dipersaingkan lagi dengan sesama mereka. Jadi, tidak asal terima. Kasihan juga atuh kalau kemampuan pas-pasan pisan, diterima berbekal SKTM, lalu stres karena nggak bisa ngikutin pelajaran. Teman-temannya udah paham sampai Z, dia masih jungkir balik berusaha memahami B. 
    • Pendataan keluarga tidak mampu (miskin) dilakukan terpadu dengan instansi yang lain. Jadi, si kaya nggak mendadak mengaku miskin ketika musim pendaftaran siswa baru.
    • Yang lebih ekstrem, sih, hapuskan pendaftaran jalur afirmasi. Biarkan saja anak-anak bersaing dengan nilai UN mereka. Setelah diterima di sekolah negeri dan terbukti miskin, barulah pemerintah membantu mereka. Misalnya ada bantuan uang seragam, membebaskan mereka dari biaya praktikum, atau memberi beasiswa.

    Masih Berharap
    Di tengah keributan PPDB 2015, di tengah kegeraman karena banyaknya manipulasi SKTM, saya masih menyimpan harapan pada Kang Emil.


    Seperti kata Astrid Lindgren, "Semua beres kalau ada Emil." :D

    Ya, seperti judul novel lawas Astrid Lindgren, Semua Beres Kalau Ada Emil, semoga semuanya beres tanpa mencederai rasa keadilan masyarakat. 

    ***

    Bagikan artikel ke:

    Facebook Google+ Twitter
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...