01 March 2016

Behind the Story AILUROFIL

Yaaaiy… akhirnya novel pertama di tahun 2016 terbit juga. AILUROFIL. Judulnya unik? Atau malah aneh? Hehehe…. Nah, inilah fakta-fakta seputar behind the story Ailurofil ini.



Fakta Pertama

Print out naskah Ailurofil ini saya kirim ke Redaksi Fiksi Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada tanggal 7 Maret 2014. Iya, bener. Nggak salah ketik, kok. Tanggal 7 Maret 2014. Penantian panjang, Cintaaa.

Bulan April 2014 saya dapat surat yang menyebutkan naskah saya sudah mendarat dengan selamat di Sekretariat GPU dan saya diminta sabar menanti.


Karena saya suka makanan Minang, baiklah saya sabar menanti (errr… RM Minang Sabar Menanti? :D). Saya tahu, antrean naskah fiksi di GPU ini ruarrr biasa panjang. Bulan September 2015, ada sebuah email dari editor GPU. Naskah Ailurofil di-acc. Alhamdulillah. Saya pun langsung dihubungkan dengan editor yang akan mengedit naskah saya, Mbak Raya Fitrah. Lalu proses editing dimulai.

Ini sekalian menjawab pertanyaan Teman-teman tentang kirim naskah ke GPU lewat email atau pos, sih? Nunggunya berapa lama? Kok nunggunya lama?

Ailurofil  resmi diterbitkan oleh GPU dalam waktu 2 tahun + 10 hari sejak naskahnya saya kirimkan ke redaksi.



Fakta Kedua

Terus terang, ketika merevisi saya sudah agak lupa dengan cerita yang saya tulis tahun 2013 ini, bahkan lupa pada nama-nama tokoh utamanya. Yang teringat jelas, sih, si tokoh utama sukaaa banget sama kucing. Ternyata nama tokoh utama saya dalam novel ini adalah Nasya Aurelia, Rio, dan Alvin. Hehe…. beneran lupa karena di antara penulisan naskah ini sampai terbitnya, saya menulis beberapa naskah lain.

Hehe… nanti pasti, deh, ada yang komen kenapa nama-nama tokoh di novel saya mirip-mirip. Nasya, Tasya, Fayya, Ayla, Alia, Kayla, Keala. Punten, saya nggak bisa jawab karena saya juga nggak tau kenapa. Mungkin karena terdengar imut aja :D

Fakta Ketiga

Pada print out naskah yang saya kirim ke GPU, saya sertakan gambar karya ponakan saya (waktu menggambar ini dia masih kelas 3 SMP). Barangkali aja kalau naskahnya di-acc, gambar ini dilirik jadi kaver. Ternyata enggak. Hehe….

Oya, ini satu-satunya naskah novel yang saya kirim pakai gambar kaver. Biasanya mah saya kirim naskah polos, tulisan semua. Sepengalaman saya, nggak pengaruh sih pakai gambar kaver atau enggak. Yang penting isi naskahnya. Kalau yang ini, kan, ada unsur "usaha lain". 




So, ini menjawab pertanyaan Teman-teman yang suka nanya, “Kalau kirim naskah ke penerbit, apa kita juga mesti bikin kavernya sendiri?”

Fakta Keempat

Di antara penulisan naskah Ailurofil ini sampai terbitnya, saya menulis beberapa naskah yang malah sudah duluan terbit: It’s Not A Dream, Dimensi, Limit, The Shy, Cermin, The Boarding  (republished edition), dan Genk Kompor 3.

Sibuk menulis naskah-naskah lain itulah yang membuat saya tak sampai bosan menunggu. Kalau cuma menulis dan mengirim satu naskah, memang terasa menjemukan karena harus menunggu sekian lama. 


Fakta Kelima

Saya mendapat judul Ailurofil (awalnya Ailurofili) ketika sedang mencari arti sebuah kata yang tak saya mengerti di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Eh, malah nggak sengaja nemu kata Ailurofili.  Sebuah kata yang lucu. Aaaah, saya mau bikin novel yang judulnya Ailurofili. Jadi, khusus untuk novel ini saya lebih dulu menemukan judulnya daripada isi ceritanya.

Ahaha, ini salah satu serunya membuka-buka KBBI. Ada banyaaak sekali kata di sana yang tak pernah kita pakai karena kita nggak tahu kata itu ada.

Candy Miaw aja rajin baca KBBI :D

Oya, ailurofili itu berarti orang yang sangat tertarik pada kucing. (KBBI edisi 4, halaman 20).  

Fakta Keenam

Ketika menulis naskah Ailurofil , di rumah saya ada tiga kucing domestik. Candy Miaw si induk kucing, Stroberi Miaw alias Peyo dan Vanila Miaw alias Unil. Malangnya, Peyo sudah mati :’( dan Unil hilang. Sekarang di rumah saya ada empat kucing domestik. Candy Miaw si induk kucing (teteuuup) dan The Three Maskucing: Cingcing, Ucil, dan Kitkat. Tiga kucing ganteng dengan karakter yang berbeda-beda.

Fakta Ketujuh


Ailurofil adalah novel remaja (teenlit), bukan novel anak meski kavernya sangat imut menggemaskan. Cerita dalam Ailurofil pun bukan melulu tentang kucing tetapi juga tentang kegalauan Nasya akan jurusan yang harus dipilihnya saat kuliah nanti, tentang cinta, dan tentang keluarga yang baik-baik saja meski sang ayah telah meninggal dunia dan kini hidup dengan ayah tiri.

Fakta Kedelapan

Cincau es krim yang disebut-sebut di bab terakhir Ailurofil itu adalah salah satu makanan/minuman kesukaan saya. 

Cincau hijau + es krim ini yummy banget!
Harga segelas ini Rp 3.500. Cobain, deh.

Fakta Kesembilan

Ailurofil terbit ketiga saya sedang galau apakah akan tetap menulis novel remaja (setelah sekian tahun menjadi remaja :D ) atau banting setir menulis novel anak, novel islami, dan buku nonfiksi. Apa ini pertanda kalau saya harus tetap menulis novel remaja sesuai dengan usia saya, ya? ;)


Fakta Kesepuluh

 
Tanggal 1 Maret – 10 Maret 2016 saya membuka preorder (PO) novel AILUROFIL, spesial ditandatangani untuk pembeli. Harga Rp41.500 (diskon 10% dari harga Rp 45.000) + merchandise (pin/gantungan kunci). Harga tidak termasuk ongkos kirim, ya. Silakan memesan melalui:
Twitter: @retnoteera

***

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...