Generasi Muda Bisa Apa?



generasi muda Indonesia

Generasi Alay

"Generasi muda bisa apa, sih, selain hura-hura dan alay-alayan?"

Pernah dapat tudingan seperti itu? Woleees...! Nggak usah panas, nggak usah emosi jiwa, nggak usah baperan.

Langsung saja balas dengan bukti nyata, bukan dengan omong besar, apalagi marah-marah. Gimana caranya?


Cara Membuktikan

Gap generation alias kesenjangan antar generasi pasti ada. Menganggap generasi sendiri adalah yang terbaik. Sedangkan generasi yang lebih muda selalu terlihat penuh masalah.

Generasi alay. Generasi hura-hura melulu. Generasi santai. Generasi yang nggak bisa apa-apa. Itu contohnya. 

Kalem. Dari zaman ke zaman selalu ada kok anggapan seperti itu. Kita bukan yang pertama kali mengalaminya.

Tapi kan kesel?

Iya, memang. Tapi kesal aja nggak akan menyelesaikan masalah. Daripada kesal, lebih baik kita buktikan pada generasi senior bahwa kita adalah generasi yang punya semangat positif. Generasi yang nggak kalah hebatnya dari generasi pendahulu.

Caranya gimana?

Berikut ini tiga cara untuk membuktikan. 

Pertama, buktikan kita bisa lebih baik daripada generasi pendahulu.

Kalau kita kesal dengan segelintir orang dari generasi tua yang suka melanggar HAM dan korupsi, buktikan kita tidak melakukan hal yang sama. 

Melanggar HAM dan melakukan korupsi bukan cuma bisa dilakukan oleh pejabat atau orang yang berkuasa, lho. 

Parkir motor di trotoar adalah salah satu bukti bahwa kita melanggar HAM pejalan kaki. 

Nyontek ketika ujian atau copy paste skripsi orang lain sudah merupakan tindakan korupsi. Nah, tuh! 

Kalau dari yang sederhana aja kita nggak bisa, gimana kalau jadi pejabat? Mulai dari diri sendiri, dari yang kecil-kecil, dan... lakukan sekarang juga. Jangan nunggu sampai jadi penguasa. Nanti keburu didemo rakyat, tuh.

Kita tunjukkan bahwa kita adalah generasi berintregritas. Generasi yang jujur dan nggak suka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. 

Tanamkan tekad unruk Membentuk Pribadi Berintegritas dari Rumah demi masa depan yang lebih baik.


melanggar hak orang lain
Kalau masih suka markir motor di trotoar, berarti masih hobi melanggar HAM para pejalan kaki, tuh.
(Foto: dokumentasi pribadi. Lokasi: Jalan Suci, Bandung. Difoto dari dalam angkot)


Kedua, bisa memanfaatkan peluang sebaik mungkin.

Hari gini, banyaaak banget peluang buat orang yang pengen maju. Sosmed, misalnya. Rugi banget kalau sosmed cuma dipakai buat komen-komenan nggak jelas. Ada banyak peluang di sosmed.

Suka menulis atau menggambar? Di sosmed berseliweran penerbit dan media massa yang mencari naskah dan  ilustrasi. 

Punya produk keren atau suka jualan? Internet memungkinkan kita membuka toko online.

Di luar dunia maya, peluang pun banyak. Yang penting, jeli melihat dan nggak gengsian. 

Buang pikiran "Gue kan sarjana ekonomi. Masa mesti jualan ayam goreng? Minim-minimnya gue jadi manajer di kantor elite, dong!"

Mas Bro, mana yang lebih elite: kerja pada orang lain atau kerja sendiri dan bisa menggaji orang lain?



buku untuk generasi muda Indonesia
Genk Kompor 1 dan Genk Kompor 2. Serial remaja yang lahir dari pertemanan di medsos. (Foto: dokumentasi pribadi)

Ketiga, bisa mengoptimalkan potensi dan menunjukkan prestasi. 

Kalau dulu slogannya "berantas buta huruf", sekarang "berantas buta internet". Tau kenapa? Soalnya, dengan informasi di tangan, kita bisa selangkah lebih maju. Bisa berbuat lebih banyak.

Internet dan sosmed memungkinkan kita berinteraksi langsung dengan para pakar, kemudian mempelajari trik dan tip mereka. 

Kalau dengan semua kemudahan itu kita masih nggak bisa apa-apa, malu dong sama generasi tua yang dengan fasilitas terbatas tapi bisa sukses.

Yang nggak kalah penting, kalau ada kesempatan untuk bersekolah atau kuliah, manfaatkan baik-baik. 

Cari ilmu sebanyak-banyaknya, ikut organisasi atau ekskul yang sesuai passion, plus buat jaringan pertemanan yang positif dan solid.


generasi muda Indonesia
Lima dari 14 Pelajar SD, SMP, dan SMA berhasil meraih medali emas dalam Olimpiade International Mathematics Contest (IMC) yang digelar di Singapura. (Foto diambil dari Fanspage Damn! I Love Indonesia by Daniel Mananta, dari Paling Indonesia)


Kita memang nggak angkat senjata untuk melawan musuh seperti angkatan kakek nenek kita. Tapi kita bisa menjadi pahlawan dengan cara kita sendiri. 

Mengharumkan nama bangsa di kancah internasional ... apa bukan pahlawan tuh namanya? Pahlawan Masa Kini Itu Adalah Kita. Setuju?

So, yuk jadi generasi muda yang keren.

No comments

Komentar dimoderasi dulu ya karena banyaknya spam. Terima kasih sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari tulisan di blog ini :)