15 June 2014

Behind The Screen: IT'S NOT A DREAM!


Alhamdulillah ... seneng banget waktu editor saya di Elex Media Komputindo mengabarkan novel IT'S NOT A DREAM! akan terbit tanggal 7 atau 14 Juli.

Nah, sampai menunggu tanggal terbitnya, saya mau cerita tentang proses kreatifnya. Tentu dengan harapan bisa membuat Temen-temen nggak sabar membeli dan membaca novel ini. Hehehe... Jujur amat. :D

 Mau tahu behind the screen It's Not A Dream sampai akhirnya terbit?


Naskah novel ini saya kirim ke Elex Media Komputindo tanggal 20 Agustus 2013. Kapan nulisnya? Seingat saya bulan Juli 2013, setelah saya selesai menulis novel LIMIT. Jadi, sampai akhirnya terbit butuh waktu sekitar satu tahun. Tuh, terbukti, kan? Butuh proses yang tak instan hingga akhirnya sebuah novel bisa terbit.


Mimpi dan Riset
Terus terang, saya seorang pemimpi. Tidur saya selalu ramai dengan mimpi. Kadang menyenangkan, kadang menyebalkan, kadang mengerikan. Beberapa mimpi sering terasa konyol banget. Misalnya, saya sering mimpi sedang ngejar-ngejar pesawat yang akan ke Amsterdam, Belanda. Beneran ngejar-ngejar. Berlari sekencang mungkin di landasan. Eaaa.... udah serasa ngejar bus kota aja. Ahmad Albar... mana Ahmad Albar? "Kuberlari mengejar laju bus kotaaa...." Astaga! Jadul amat referensi lagu gue! Tapi kerenan saya dong. Ahmad Albar cuma berlari ngejar bus kota, saya berlari ngejar pesawat!

Well, mimpi-mimpi ini nggak mengganggu, cuma bikin penasaran. Sewaktu kuliah dulu, saya pernah baca tentang teori Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung yang berhubungan dengan mimpi. Sayangnya, dulu buku-buku itu saya pinjam dari perpustakaan (dan saya lupa perpustakaan mana, mengingat waktu kuliah saya punya kartu anggota Perpustakaan Pusat Unpad, Perpustakaan Fikom Unpad, Perpusda Jabar, Perpustakaan Masjid Salman, dan Perpustakaan British Institute - ITB).

Jadi, saya googling dengan kata kunci nama kedua psikolog tersebut. Eh, saya juga nemu info tentang buku Tafsir Mimpi (Richard Craze). Setelah berkeliling ke lima toko buku di Bandung, akhirnya saya dapat buku ini. Harganya Rp120.000 (sebelum diskon 10%). Oh, ya, saya juga membaca beberapa buku tentang anak indigo.
Buku Tafsir Mimpi (kiri), isinya (kanan).
Beda dengan buku-buku 1001 tafsir mimpi :)
Buku-buku tentang anak indigo (Foto: dokumentasi pribadi)

Mau nulis novel teenlit aja kok ribet banget, sih?

Nanya gitu nggak? Nggak? Ya udah. Hehe... Tapi kalo nanya, ini jawaban saya. Novel teenlit bukan sekadar novel tentang cinta remaja. No! Novel teenlit yang padat berisi tapi tetap renyah juga banyak, lho. Misalnya novel saya. :)


Pengalaman Pribadi?
IT'S NOT A DREAM! adalah sebuah novel, sebuah karya fiksi. Bukan sebuah autobiografi, bukan sebuah kisah true story.

Kalaupun ada sedikit kesamaan dengan pengalaman pribadi, itu hanya sedikit sekali. Hanya terinspirasi. Sedikit pengalaman nyata yang diberi macam-macam bumbu imajinasi. Jadinya spicy banget.

Secara pribadi, saya sangat puas dengan novel ini. Proses menulisnya lancar banget (rasanya dari A-Z sudah tertulis lengkap di kepala, tinggal dipindahkan ke laptop), penerbit saya keren, editor saya juga cihuy (senang banget bisa kerja sama denganmu, Mbak Afri :) ).

Sedikit bocoran, di dalam novel ini banyak kalimat manis nan romantis yang bisa dijadikan quote, lho. Kalimat-kalimat manis itu semula adalah puisi-puisi pendek yang saya tulis di hape dan status Facebook saya.

Kalau kamu senang menulis, masukin novel ini dalam daftar belanjamu ya. Fayya Narita, si tokoh utama yang sering bermimpi aneh ini juga suka sekali menulis. Di blognya, Fayya bercerita tentang sumber ide menulisnya, tentang hobinya stalking di grup-grup menulis, tentang mimpi-mimpinya, tentang cintanya pada Elvin....



"Ketika mimpi-mimpi menjadi nyata

Tetaplah di sini bersamaku

Mencintaiku, merindukanku..."
(It's Not A Dream!)





Novel teenlit It's Not A Dream.

Baca Juga

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...