03 December 2014

Morning Sickness dan Bayi Es Krim


“Morning sickness biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan akibat adanya perubahan hormon-hormon tubuh.”

Begitu kalimat yang sering saya baca di majalah-majalah, tabloid-tabloid, dan buku-buku tentang kehamilan. Berbekal pengetahuan itu, saya cukup tenang menjalani trimester pertama kehamilan saya. Oke, berarti mual muntah yang saya alami ini masih wajar.

Ada dua hal tentang morning sickness yang sangat membekas dalam benak saya, bahkan hingga saat ini.


Pertama, meskipun bernama “morning sickness”, mual muntah ini tak hanya terjadi di pagi hari. Saya mengalaminya hampir sepanjang hari. Yang paling repot adalah jika sedang hari kerja.


Pada masa awal kehamilan pertama itu, saya masih tinggal di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sementara itu, kantor saya berada di Parung, Kabupaten Bogor. Dari Senin sampai Jumat, selepas Subuh saya sudah harus berangkat ke kantor dengan menumpang bus. Butuh waktu hampir dua jam perjalanan untuk sampai di kantor.

Dari Kebon Jeruk ke Kebon Nanas tidak masalah, meskipun sering harus berdiri di dalam bus. Masalah baru timbul dalam perjalanan dari Kebon Nanas ke  Parung. Selain cukup jauh, ketika itu kondisi jalan pun belum semuanya mulus. Di beberapa tempat, jalanan belum beraspal. Jalanan berlubang dan berbatu-batu membuat bus yang saya tumpangi berguncang-guncang. Jok yang keras di bus pun membuat guncangan terasa semakin menyakitkan.

Keguguran! Itu yang paling saya khawatirkan dari perjalanan penuh guncangan itu. Syukurlah hal itu tak terjadi. Namun, DSOG saya tetap memberi obat penguat kandungan ketika tahu medan yang harus saya tempuh dua kali sehari, lima hari dalam seminggu.

Tiba di kantor, biasanya saya langsung ke toilet. Bukan untuk merapikan diri setelah dua jam perjalanan dengan kendaraan umum, tapi untuk muntah. Selama delapan jam kerja pun saya bolak-balik ke toilet untuk muntah. Tiba kembali di rumah sekitar pukul tujuh malam, mual muntah itu masih terus berlangsung.

Lemas luar biasa. Makanan keluar terus, padahal masuknya sangat susah. Melihat nasi saja saya sudah muntah, apalagi memakannya. Makan daging sapi dan ayam? Masuk sebentar, lalu langsung keluar lagi.

Susu? Oh, please. Baru melihat kotaknya saja isi perut saya sudah berontak. Padahal nih, sebelum hamil saya ingin sekali bisa rutin minum susu yang khusus buat ibu hamil. Apa daya, tubuh saya menginginkan hal yang berbeda.

***

Hal kedua tentang morning sickness ini, adalah pada jangka waktu terjadinya. Kata majalah sih, setelah tiga bulan mual dan muntah itu akan berkurang, lalu hilang sama sekali. Trimester kedua akan menjadi masa kehamilan yang paling menyenangkan.

Saya sudah senang aja, nih, waktu trimester pertama berlalu. Aha! Sebentar lagi bisa say good bye pada mual dan muntah, lalu menjalani kehamilan yang nyaman tanpa morning sickness.

Nyatanya, mual muntah yang saya alami berlanjut hingga bulan ketujuh!
Pada trimester satu dan dua, DSOG saya masih bisa menyarankan, “Makan apa saja yang bisa masuk, Bu, asalkan tidak membahayakan janin. Tidak apa-apa kalau tidak bisa makan nasi atau minum susu. Makan saja sumber karbo yang lain. Protein juga begitu. Kalau makan daging-dagingan selalu muntah, ganti saja dengan sumber protein yang lain.”

Jadilah setiap hari saya makan sandwich. Jika bosan roti, kentang menjadi alternatif. Hanya itu yang bisa masuk dengan aman dan sentosa ke perut saya.

Namun, di akhir bulan ketujuh pertambahan berat badan saya dan janin masih di bawah yang seharusnya karena mual muntah yang tak kunjung berakhir. Mengetahui saya masih saja muntah jika minum susu, DSOG saya menyarankan saya untuk mengonsumsi es krim.

Es krim!

Selama hamil ini saya menghindari es krim karena kata orang-orang tidak baik untuk kesehatan ibu dan janin. Tapi DSOG saya malah menganjurkan untuk mengonsumsi es krim! Horeee…!.

“Tapi harus es krim yang mengandung susu karena yang dibutuhkan di sini adalah susunya,” dokter saya mewanti-wanti. “Dan tidak boleh berlebihan.”
Jadilah setelah itu saya menikmati es krim setiap hari. Untunglah kantin kantor menjual es krim yang sesuai syarat dokter saya: mengandung susu.

Justru rekan-rekan kerja saya yang kaget. Mereka mengingatkan saya agar tidak makan es krim karena saya sedang hamil. Kata mereka, es akan membuat janin saya berukuran besar dan  mempersulit proses kelahiran.

“Disuruh dokter,” jawab saya sambil tersenyum senang.

Ah, ternyata minuman dingin dan es krim bukan hal tabu bagi ibu hamil. Buktinya, DSOG saya memperbolehkan meskipun dengan “syarat dan ketentuan berlaku”.

Tanggal 6 Maret 2002, si “bayi es krim” lahir dengan persalinan normal. Beratnya pun normal. Tiga setengah kilogram. 

Sekarang, dia sudah menjadi ABG yang cantik, sehat, pintar, gemar mengarang, dan… suka makan es krim .
 

 ***

Tulisan ini menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Menulis "Pengalaman Mengandung" yang diadakan oleh FOTILE Indonesia tahun 2014. Tulisan ini juga dapat dibaca di Fanspage FOTILE Indonesia.


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...