07 April 2015

Minta Bukumu, Dong



"Eh, novel baru kamu baru terbit ya? Aku minta gratis, dong."

"Minta bukumu, dong."
 
Penulis buku pasti akrab dengan kalimat sejenis ini. Biasanya kalimat ini muncul ketika si penulis sedang mempromosikan buku barunya.


Beragam reaksi penulis menanggapi kalimat seperti ini. Umumnya merasa sedih, prihatin, dan kesal.

Menulis adalah Sebuah Pekerjaan

Menulis bisa saja merupakan hobi atau passion. Meski begitu, tetap saja menulis adalah sebuah pekerjaan: pengerjaan mengetik, pekerjaan memikirkan ide dan alur cerita, pekerjaan duduk berlama-lama untuk menulis, pekerjaan meriset, dan sebagainya. Jika buku telah terbit, ada pekerjaan lain menunggu: pekerjaan mempromosikan buku.


Dalam rangka promo, penulis sering keluar dana sendiri buat bikin
merchandise, untuk hadiah lomba (kuis, lomba resensi, dll),

atau ongkos jalan ke lokasi promo.


Menulis pun membutuhkan modal: komputer atau laptop, uang sewa komputer di warnet jika tidak mempunyai komputer sendiri, pulsa internet, kita juga mungkin perlu membaca berbagai literatur sebelum mulai menulis, dan sebagainya.
 
Tak sedikit penulis yang terpaka bergadang bermalam-malam demi menyelesaikan naskah bukunya. Masuk angin, sakit maag, tifus, nyeri punggung, penurunan fungsi penglihatan (mata minus, mata plus), dan lain-lain. 

Duduk berjam-jam tiap hari untuk menulis juga berisiko mengundang datangnya penyakit diabetes, obesitas, kardivaskular, dan sindroma metabolik.

Tak sedikit penulis yang jungkir balik merevisi naskahnya sesuai permintaan editor. Revisi pertama dikembalikan karena belum sesuai. Revisi kedua masih harus diperbaiki lagi.




Tak sedikit penulis yang harus membeli banyak buku dan membacanya sebelum mulai menulis. Waktu yang digunakan untuk menulis satu naskah buku pun tak cukup 1-2 hari, kadang-kadang sampai berbulan-bulan. Setelah selesai ditulis, mengantre berbulan-bulan lagi di penerbit sekadar untuk mendapat jawaban.

Sebagian penulis (termasuk saya) menjadikan menulis sebagai ladang mencari nafkah. Artinya, penghasilan utama adalah dari menulis.


Dasar Pelit!

Jika menolak memberikan buku gratis, memang ada kemungkinan penulis akan dimaki "Dasar pelit!", dijelek-jelekkan di dunia maya dan di dunia nyata, diblokir dari pertemanan di dunia maya, dan sebagainya.

Penulis sebenarnya tidak pelit memberi gratisan. Namun, masing-masing memiliki kriteria dan cara sendiri. Ada yang begitu saja memberi buku gratis pada temannya (tanpa diminta), meski sang teman bukan peresensi dan tidak berkontribusi apa pun dalam buku itu. 

Ada yang suka mengadakan kuis, giveaway, dan sebagainya. Hadiahnya? Tentu saja bukunya. Gratis. Ada juga yang selalu mengirimkan beberapa eksemplar bukunya ke perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, atau taman bacaan masyarakat.



Kuis berhadiah buku yang diadakan di blog ini bulan Januari 2015.




Ada pula penulis yang (diminta atau tidak) memberi bukunya gratis dari segi uang tetapi dengan "bayaran" lain. 

Misalnya, si penerima menulis resensi atas buku itu, si penerima buku nanti berfoto dengan buku si penulis itu, si penerima buku memberi kesan-kesan setelah membaca buku itu, si penerima buku menuliskan sebuah quote yang paling berkesan baginya dari buku itu. Simbiosis mutualisme, sama-sama untung, sama-sama senang.


Dapat kiriman foto begini dari pembaca, hati penulis jadi seneng banget,
makin semangat nulis, dan makin sayang sama pembacanya.
(Foto: Luckty Giyan Sukarno, SMA 2 Metro, Lampung)



Penulis membutuhkan pembaca, itu benar. Namun, penulis juga membutuhkan penghasilan dari penjualan buku-bukunya untuk membiayai hidupnya dan keluarganya. 

Jika belum tahu, royalti yang diterima penulis dari penerbit paling besar hanya 10% dari harga eceran buku yang terjual, dipotong pajak sebesar 15% (jika dengan NPWP atau 30% jika tanpa NPWP). 

Royalti itu dibayarkan satu kali dalam empat bulan atau enam bulan (tergantung peraturan penerbit). Dan berita tentang penulis yang mendapatkan royalti Rp 100.000,- saja dalam 6 bulan itu bukan isapan jempol. Itu benar-benar ada.



Jika belum tahu juga, penulis juga harus membeli bukunya sendiri. Ada jatah gratisan dari penerbit yang disebut sebagai bukti terbit. Tapi itu jumlahnya hanya sekitar 3-10 eksemplar. 

Selebihnya, penulis harus membeli. Tidak gratis. Bukannya tinggal ngambil sesuka hati seperti dugaan banyak orang. Atuhlah, kalau mengambil sesuka hati atau gratis terus, penerbit akan gulung tikar dan ratusan karyawannya akan kehilangan pekerjaan.
Memangnya penulis nggak dapat diskon kalau membeli bukunya sendiri?
Dapat. Tapi diskon penulis hanya di kisaran 20%-25% per buku. Itu juga sering masih harus menanggung ongkos kirim.
 

Yuk, Jaga Harga Diri

Yuk, sama-sama menjaga harga diri kita, sama-sama memberi manfaat bagi orang lain. Banyak cara, kok, jika ingin mendapat buku gratis dengan cara yang elegan dan bermartabat.  
Jaga harga diri kita dari perbuatan meminta-minta. Jika muslim, ada baiknya kita ingat bahwa Rasulullah mengecam perbuatan meminta-meminta pada manusia tanpa kebutuhan yang benar.



Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...