08 June 2016

Investasi Untuk Masa Depan



Investasi reksa danaMenabung bukan hal baru bagi saya. Orangtua memperkenalkan aktivitas menabung itu sejak saya belum bersekolah. Ketika itu saya diberi sebuah celengan berbentuk tupai. Di bagian bawahnya ada tutup yang mudah dibuka. Sesekali saya diajak ke bank untuk menabung.

Ketika kuliah dan mulai punya penghasilan sendiri, yang terpikir pertama kali oleh saya adalah menabung. Demikian pula tahun-tahun selanjutnya. Ketika mendapat uang, selalu mendahulukan menabung. 

Bagi saya ketika itu, begitulah cara investasi untuk masa depan. Menabung di awal merupakan cara yang efektif agar penghasilan tidak langsung bablas tanpa sisa. Kalau saya pegawai kantoran, mungkin repotnya tak seberapa karena bulan depan toh akan mendapat gaji lagi. 

Kenyataannya, saya adalah seorang freelancer. Kalau tidak berdisiplin menabung di awal mendapat penghasilan, bisa kerepotan sendiri ketika musim sepi order datang.

Namun, lama-kelamaan saya jadi berpikir. Cukup nggak, sih, merencanakan masa depan hanya dengan menabung?

Nilai Uang Dulu dan Sekarang

 “Dulu Mami dikasih uang saku seribu. Udah cukup banget, tuh, buat ongkos angkot pergi pulang dan jajan di sekolah. Sekarang kalian mau nggak dikasih uang saku segitu?”

Mendengar cerita saya yang berujung pada pertanyaan itu, anak sulung saya langsung protes keras. “Mamiii … sekarang ongkos angkot ke sekolah aja udah dua ribu. Seribu mah nggak sampai ke mana-mana.”

Begitulah. Dilihat dengan kacamata nostalgia, harga-harga di masa lalu sangat murah. Semasa SMA, dengan uang Rp 500,- saya sudah bisa kenyang makan satu porsi batagor. Sekarang? Uang Rp 500,- belum bisa untuk membeli apa-apa. Untuk satu porsi batagor itu sekarang saya harus mengeluarkan uang Rp 12.000.

Saya mulai khawatir. Bagaimana dengan nilai tabungan saya di masa depan? Jangan-jangan nasibnya sama seperti batagor itu. 

Seram rasanya membayangkan uang yang hari ini saya tabung dengan susah payah kelak menjadi seolah tak berarti. Kalau sudah begitu, apa yang harus saya lakukan?

Investasi reksa dana
Bertahun-tahun menabung dengan susah payah
lalu nilai uang merosot itu rasanya ... perih banget!

Menabung dan Investasi

Berangkat dari kekhawatiran itu, saya mulai mencari informasi. Lalu mulai terbukalah pemahaman saya. Menabung memang aman dan risikonya kecil tetapi keuntungannya pun kecil dan tidak kebal inflasi.

Duuuuh … tidak kebal inflasi. Ini yang bertahun-tahun luput dari perhitungan saya padahal terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Harga seporsi batagor itu, misalnya. Teruuus saja meroket padahal isinya begitu-begitu saja.
Yang mampu menghadapi inflasi ini adalah investasi. Risikonya tentu ada tetapi kita bisa meminimalkan risiko itu dengan mengenali jenis-jenis investasi yang ada, kemudian memilih investasi terbaik yang sesuai dengan kita.

Dalam buku Kiat-Kiat Membiakkan Uang di Masa Sulit, Nofie Iman menyebutkan bahwa investasi dibedakan dalam dua kategori.
  1. Investasi non-keuangan.
  2. Investasi keuangan.
Termasuk dalam investasi keuangan adalah emas, properti (rumah, tanah), serta benda seni dan koleksi (misalnya prangko dan lukisan).

Sementara itu, yang termasuk kategori investasi keuangan adalah pasar uang dan pasar modal. Saham, obligasi, dan reksa dana tercakup di sini.

Di kalangan awam seperti saya, investasi keuangan kalah populer dibandingkan investasi berupa emas atau properti. Dan ternyata, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada tahun 2014 kemarin baru 0,2% penduduk Indonesia yang melakukan investasi di pasar modal.

Rupanya saya termasuk kalangan mayoritas. Kamu gimana? Termasuk yang 0,2% atau sama-sama dengan saya di golongan 99,8%? Hiks, menjadi mayoritas ternyata tidak selalu hebat, ya.

Investasi Reksa Dana

Baiklah, sekarang saya sadar bahwa menabung saja tidak cukup. Saya pun sadar bahwa berinvestasi itu penting. Saya ingin berinvestasi agar uang yang saya hasilkan pada masa produktif tidak menjadi seperti sekarung daun kering yang tak berharga di masa depan.

Masalahnya, dengan penghasilan yang pas-pasan, saya tidak sanggup kalau harus berinvestasi langsung dalam jumlah besar. Kira-kira investasi apa yang sesuai dengan orang awam seperti saya?

investasi untuk masa depan
Investasi apa yang cocok?

Sepertinya investasi dalam bentuk reksa dana adalah jenis yang tepat. Uang yang diinvestasikan di reksa dana akan dikelola oleh manajer keuangan yang andal dan tepercaya.

Wait! Dikelola oleh manajer keuangan? Berarti uang yang diinvestasikan itu harus besar, ya? Puluhan atau mungkin ratusan juta? Duh! Bagaimana bisa mulai berinvestasi? Dari mana dapat uang sebanyak itu?

Ternyata, berinvestasi tidak harus dengan uang puluhan atau ratusan juta. Danareksa Investment Management (DIM) melalui Program Investasiku Masa Depanku memberi kesempatan pada kita untuk berinvestasi dari nominal yang terjangkau, yaitu Rp 200.000,- per bulan dalam reksa dana saham dan reksa dana campuran.

investasi reksa dana Danareksa


Reksa dana saham dipilih jika jangka waktu berinvestasi adalah minimal 5 tahun. Sementara itu, jika waktu investasi minimal 3 tahun, reksa dana yang bisa dipilih adalah reksa dana campuran. Oya, untuk kedua jenis reksa dana di Danareksa Investment Management ini kita bisa memilih yang konvensional atau yang syariah. 

Untuk reksa dana syariah ada Danareksa Syariah Berimbang (termasuk reksa dana campuran), serta Danareksa Indeks Syariah dan Danareksa Saham. 

Sementara itu, untuk reksa dana konvensional ada Danareksa Anggrek Fleksibel, Danareksa Mawar, Danareksa Mawar 10, Danareksa Mawar Fokus 10,
Danareksa Mawar Konsumer 10, Danareksa Mawar Komoditas 10, dan Danareksa Mawar Rotasi Sektor Strategis.

Lega rasanya. Ternyata masyarakat berpenghasilan pas-pasan seperti saya juga berkesempatan berinvestasi dan "menyelamatkan" nilai uang yang dimiliki.

Mengelola Investasi untuk Masa Depan

Lebih dini merencanakan masa depan akan lebih baik. Namun, kalau sudah telanjur berkepala tiga atau empat, bukan berarti pasrah dan tak perlu lagi berinvestasi. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?

Sudah tergerak untuk mulai berinvestasi? Simak, deh, tips ini.

  • Mantapkan tekad untuk berinvestasi. Investasi merupakan pengelolaan uang dalam jangka panjang. Selama jangka waktu tertentu dana kita tidak bisa ditarik. Kalaupun bisa ditarik, belum memberikan hasil yang tinggi.
  • Teliti dalam memilih lembaga investasi. Pilihlah yang dapat dipercaya, bereputasi baik, terdaftar di Bapepam, dan diawasi oleh OJK.
  • Hati-hati dengan investasi bodong yang menawarkan hasil tinggi tanpa risiko dalam waktu singkat. Menurut para pakar perencana keuangan, high return selalu diikuti dengan high risk.
  • Kenali karakter diri sendiri. Kalau termasuk orang yang tidak berani menanggung risiko besar, lebih baik memilih investasi yang risikonya lebih rendah. Di DIM kita bisa mengecek profil risiko secara online. Dengan begitu kita tahu investasi apa yang tepat.

Bahan Bacaan
Iman, Nofie. 2008. Kiat-Kiat Membiakkan Uang di MAsa Sulit: Investasi Untuk Pemula. Jakarta: Elex Media Komputindo.
 
Kompas.com. Hanya 0,2 Persen penduduk Indonesia yang Investasi di Pasar Modal. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/28/1153375/Hanya.0.2.Persen.Penduduk.Indonesia.yang.Investasi.di.Pasar.Modal. Diunduh tanggal 5 Juni 2016.

Manurung, Adler Haymans. 2008. Panduan Lengkap Reksa Dana Investasiku. Jakarta: Kompas.


Artikel ini diikutsertakan dalam Blogger Writing Competition -  Investasiku Masa Depanku bersama ReksaDana Danareksa. Isi dan tulisan dari artikel/blog post ini di luar tanggung jawab Danareksa Investment Management
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...