4 Hal yang Tidak Perlu Ditulis di Daftar Pustaka


menulis daftar pustaka yang benar

Ketika menulis buku (terutama nonfiksi), pakai referensi dari buku lain, kan? Berarti, harus membuat daftar pustaka. 

Tentang pentingnya menulis daftar pustaka, pernah saya bahas. Silakan klik tautan itu, ya.

Kita tentu nggak mau dong disebut sebagai penjiplak atau tak beretika hanya gara-gara tidak mencantumkan daftar pustaka.

Saya sering menemukan kesalahan penulisan daftar pustaka dalam naskah yang saya edit atau buku-buku yang saya baca. 

Selain kesalahan dalam cara penulis namadan kesalahan menulis daftar pustaka dari internet, ada empat kesalahan lain yang sering terjadi. 
Tentang penulisan daftar pustaka ini saya tulis juga di blogpost berikut.
Berikut ini empat hal yang sering dimasukkan ke daftar pustaka, padahal sebenarnya tidak perlu.


Tidak Perlu Ditulis

Empat hal ini yang tidak perlu ditulis di daftar pustaka.

1. Nomor urut

 Tidak perlu mencantumkan nomor urut dalam penulisan daftar pustaka.

2. Gelar akademis

Meskipun di kaver buku tertulis gelar akademis sang penulis, gelar itu tak perlu ditulis di daftar pustaka. 

Tapi kan dia sudah bergelar profesor? Sama saja. Selama itu adalah gelar akademis, tak perlu ditulis.


menulis daftar pustaka yang benar
Yang tak perlu ditulis di daftar pustaka.


3. Nama badan hukum penerbit

Di kaver belakang buku biasanya tercantum nama penerbit, lengkap dengan badan hukum dan alamatnya. 

Yang perlu dicantumkan di dalam daftar pustaka hanyalah kota terbit dan nama penerbit. Badan hukum penerbit tersebut (misalnya: PT atau CV) tidak perlu dicantumkan.

menulis daftar pustaka yang benar
Nama dan alamat penerbit di kaver belakang novel DIMENSI.

4. Cetakan Keberapa

Bisa saja sebuah buku mengalami cetak ulang berkali-kali dan yang kita baca adalah cetakan ke-25. Keren banget, memang, tapi informasi itu tidak perlu dicantumkan. 

Tentang cetakan keberapa buku itu, bisa kita ketahui dari tahun terbitnya. Oya, cetakan ini berbeda dengan edisi atau jilid, ya. Edisi dan jilid (jika ada) justru harus dicantumkan.

Berikut ini contohnya.

Salah
1. Keira Luvena, S.Psi. 2012. Menjadi Remaja Kreatif. Bandung: Penerbit CV Maju Jaya Pressindo.
2. Aldiano Dewanto, SE., MM. 2013. Berani Berwirausaha, cetakan 19. Jakarta: PT Media Karya Kita.



Benar

Luvena, Keira. 2012. Menjadi Remaja Kreatif. Bandung: Maju Jaya Pressindo.
Dewanto, Aldiano. 2013. Berani Berwirausaha. Jakarta: Media Karya Kita.
Masih tentang penulisan, silakan mampir ke tulisan saya berikut.

Semoga bermanfaat.

Salam,
Triani Retno A
Penulis buku anak
Penulis novel
Editor Indonesia
Blogger Indonesia
Blogger Bandung

No comments

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon maaf, link hidup di kolom komentar dan broken link akan dihapus :)