22 March 2018

Benteng Fort Rotterdam, Saksi Bisu Sejarah Kota Makassar




Benteng Fort Rotterdam

Jika kamu berkunjung ke Makassar, Sulawesi Selatan, ada satu bangunan yang cukup menarik perhatian, tidak hanya struktur dan desainnya, tapi juga sejarah yang ada di balik namanya. Ialah Benteng Fort Rotterdam atau juga umum disebut dengan Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang). Bangunan ini terletak di tepi pantai di sebelah barat Kota Makassar.

Sejarah Fort Rotterdam

Fort Rotterdam adalah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Raja Gowa-Tallo IX, yaitu I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna, mulai mendirikan benteng ini pada tahun 1545. Pertama kali didirikan, bangunan ini dibuat dari tanah liat.
Seiring waktu, ketika Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin berkuasa, struktur bangunan diperkuat dengan batu cadas yang diambil dari pegunungan karst di wilayah Kabupaten Maros, Makassar.


Jika diamati dari atas, bentuk benteng ini menyerupai penyu yang sedang merangkak menuju laut lepas. Menurut catatan sejarah, hal ini mengandung filosofi dan harapan Kerajaan Gowa-Tallo akan tetap berjaya pada kondisi apa pun. Tak ubahnya penyu yang mampu bertahan hidup di darat dan laut.
Pada masa Pemerintahan Belanda, benteng ini pernah hancur akibat serangan pihak kolonial pada Kerajaan Gowa yang masa itu dipimpin oleh Sultan Hasanudin. 

Tujuan serangan ini adalah karena Belanda ingin menguasai jalur perdagangan rempah dan melebarkan sayap kekuasaan mereka. Dengan begitu, mereka akan bebas berekspansi ke Banda dan Maluku.
Nah, serangan itulah yang menyebabkan Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Ditandai dengan penyerahan benteng kepada Belanda.

Sumber: tribunnews.
Tak lama setelah pengambilalihan benteng, Gubernur Jenderal Speelman melakukan renovasi pada bagian benteng yang hancur dan menggantinya dengan bangunan berarsitektur Belanda. 

Dari sinilah nama Fort Rotterdam diambil; nama kota di Belanda yang merupakan tempat lahir Speelman.

Arsitektur Benteng

Dari keterangan di atas, kelihatan jelas, ya, kalau bangunan Fort Rotterdam dipengaruhi oleh dua kebudayaan, yaitu Kerajaan Gowa dan Eropa (Belanda).
Perpaduan dua kebudayaan tersebut menghasilkan desain arsitektur yang unik dan megah. 

Begitu megahnya sehingga seorang wartawan New York Times, Barbara Crossette, menyebutnya sebagai “the best preserved Dutch fort in Asia”.
Secara struktur bangunan, dinding benteng ini memiliki tinggi sekitar lima meter dengan ketebalan mencapai dua meter. 

Bisa dibayangkan, kan, betapa kokohnya bangunan ini? Pun karena desain bangunan ini mirip penyu yang sedang merangkak, banyak orang yang menyebutnya sebagai Benteng Panyua.

 
Sumber: merdeka.

Di sini juga terdapat lima bastion, semacam bangunan dengan posisi lebih tinggi dan kokoh dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. 

Umumnya, di bagian atas setiap bastion ditempatkan meriam atau kanon. Menariknya, benteng ini masih terawat dengan baik sampai sekarang, lho.

Wisata Sejarah Benteng Rotterdam

Selain mengingat sejarah lewat tur Benteng Rotterdam, di sana kita juga bisa melihat ruang tahanan yang pernah dijadikan tempat pembuangan Pangeran Diponegoro setelah sebelumnya diasingkan di Manado.
Ada juga Museum Lagaligo yang menyimpan sekitar 4.999 koleksi benda prasejarah, numismatik, keramik asing, naskah, etnografi, dan benda lain yang dibuat dan dipakai oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, serta Toraja.
Setelah membaca sekilas mengenai sejarah Benteng Fort Rotterdam, jadi ingin segera berkunjung ke sana, deh, ya. 

Kenapa enggak. Segera atur jadwal keberangkatan dan dapatkan harga tiket pesawat murah untuk liburan lewat website Airy. Agar liburan makin seru, ajak serta keluarga dan teman-teman, ya.
Jadi tunggu apa lagi? Yuk, segera berwisata sejarah di kota Makassar. 

***
Previous
« Prev Post

Related Posts

Benteng Fort Rotterdam, Saksi Bisu Sejarah Kota Makassar
4/ 5
Oleh

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)