02 April 2014

[Resensi] Misteri di Ladang Jagung


Judul: Misteri Anak Jagung
Pengarang : Wylvera W
Penerbit: Pelangi Indonesia
Tahun: 2013
Tebal: viii + 200 halaman
ISBN : 987-602-78000-38
Harga : Rp45.000,00

Gantari dihantui lagi oleh sosok Anak Jagung. Sejak kepindahannya ke Urbana, Amerika, sosok itu kerap hadir dalam mimpi-mimpinya dan membuatnya penasaran sekaligus ketakutan. Gantari sering mendengar suara tangisan misterius dari arah ladang jagung yang dilewatinya. Benarkah kisah Misteri Anak Jagung yang diceritakan neneknya itu benar-benar ada?

Bersama Delia, Gantari berusaha mengungkap semuanya. Gantari semakin bersemangat setelah bertemu dengan Aldwin, seorang anak indigo yang memiliki teman imajiner bernama Robin. 

 
Namun, rasa ingin tahu Gantari yang besar malah membuatnya dan Aldin terjebak dalam ladang jagung yang terbakar. Dalam kondisi yang terjepit itu, Robin muncul secara nyata di hadapan Gantari dan Aldwin. Bagaimana nasib Gantari dan Aldwin?



Begitulah blurb novel Misteri Anak Jagung ini. Ketika membaca blurb ini di jejaring sosial, kening saya langsung berkerut (tapi tetap kece, atuh :D ). Seorang anak indigo yang memiliki teman imajiner. 


Memiliki teman imajiner? Sepenggal kalimat itu mengusik saya. Bagi anak-anak indigo, "mereka yang tak terlihat itu" bukanlah teman imajiner. "Mereka" memang ada. Sayangnya, saya kesulitan menemukan buku ini di Bandung. Jadi, saya memesan buku ini langsung pada penulisnya (bukan pada tetangganya :D)

Nah, sekarang saatnya membaca novel karya penulis yang telah menghasilkan banyak karya ini.



Legenda Anak Jagung

Cerita dibuka dengan adegan sebuah bus sekolah yang sedang berjalan lambat melewati sebuah ladang jagung. Di dalam pendengaran Gantari, suara riuh-rendah di dalam bus mendadak hilang. Senyap. Ia tak bisa mendengar kata-kata yang diucapkan teman-temannya. Yang tertangkap oleh telinganya adalah teriakan seorang anak laki-laki di ladang  jagung.

"Anak laki-laki itu berlari ke arah bus kami yang berjalan makin melambat. Dia melambaikan tangannya dan berteriak-teriak seperti minta tolong. Tubuhnya terbakar! Sebagian anggota badannya terbalut api yang berkobar." (halaman 1)

Ladang jagung bukan sesuatu yang asing bagi Gantari. Di kampung neneknya di Medan ada banyak ladang jagung. Neneknya pun pernah bercerita tentang Legenda Anak Jagung.

"Kisah Anak Jagung itu sudah terjadi puluhan tahun silam. Tapi, kadang-kadang dia suka muncul dan menyapa orang-orang yang melintas di ladang jagung, apalagi jika orang itu sedang jalan sendiri," kata Nenek waktu itu. (halaman 8)

Lalu, adakah kaitan antara ladang jagung di Urbana, Amerika Serikat, dengan ladang jagung yang berada di kampung nenek Gantari di Medan? Mengapa anak laki-laki bernama Robin itu terus mengikuti Gantari? Siapa dia sebenarnya? Apa yang ia inginkan atau adakah yang hendak ia sampaikan pada Gantari?

Membaca halaman demi halaman novel ini, saya seperti diajak berjalan-jalan ke Urbana, Amerika Serikat. Deskripsinya begitu detail dan hidup. Bagi saya, inilah nilai plus novel ini.

Tentang keindigoan tokoh-tokoh dalam novel ini, bagi saya tak ada yang baru. Mungkin karena sebelumnya saya sudah membaca beberapa buku yang membahas anak indigo.


Dua dari beberapa buku tentang anak indigo koleksi saya :)

Materi NonFiksi

Sedikit kekurangan pada novel ini adalah pada penjelasan mengenai indigo (halaman 135-136). Susunan kalimatnya seolah-olah "materi buku nonfiksi nyasar ke dalam novel anak".

Selain itu, terdapat beberapa typo:
- Sangsinya pasti berat. Bisa saja papa Aldwin dipanggil polisi.... (halaman 51).
Membaca kalimatnya, seharusnya "sanksi", bukan sangsi.
Sangsi = bimbang, ragu-ragu.
Sanksi = tanggungan (tindakan, hukuman, dsb) untuk menepati perjanjian atau menaati undang-undang.

- megikuti (halaman 97), seharusnya "mengikuti".
- nosltalgia (halaman 124), seharusnya "nostalgia".
- respon (halaman 166), seharusnya "respons".
- frustasi (halaman 167), seharusnya "frustrasi".

Typo yang agak mengganggu adalah pada penulisan nama teman sekelas Gantari, yaitu Catherine. Kadang-kadang tertulis Catherine, kadang-kadang Cahterine (halaman 103), Carherine (halaman 103), atau Chaterine (halaman 133).

Tak ada  naskah yang tak retak :) Secara keseluruhan, novel ini menarik dan asyik dibaca.


***

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

2 comments :

  1. Beda banget kalau editor dan penulis berkaliber yang meresensi euy, langsung ketemu typo-typo itu. Maafin yach...jadi berkurang kenikmatan membacanya. Btw, ini masukan berharga buatku (dan tentunya penerbit juga). Makasih, ya Eno, aku tersanjung membaca resensi ini...sungguh. ;)

    ReplyDelete
  2. Ah, nggak sampai segitu mengganggunya kok, Mbak Wik. Tetap enak dibacanya. Apalagi penggambaran lokasinya. Keren banget (emh... dan itu kelemahanku :D Aku kurang bisa mendeskripsikan sedetail itu).

    ReplyDelete

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...