06 April 2014

[Resensi] Backpacker in Love



Judul: Backpacker in Love
Pengarang: Gol A Gong & Tias Tatanka
Penerbit: Lintas Kata
Tahun: 2013
Tebal : viii + 308 halaman
ISBN: 978-602-17658-0-7
Harga: Rp39.000,00


Kalau cover novel Cinta 4 Sisi karya Indah Hanaco membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama, sebaliknya dengan cover Backpacker in Love yang didominasi warna hitam. Namun, nilai sebuah novel bukan dari sampulnya semata.




Baru halaman pertama, saya sudah jatuh hati. Sebuah puisi menjadi sambutan yang manis, meskipun penggunaan huruf kapital di awal setiap kata cukup mengganggu mata.


Sebuah Nama. Sederet Kisah.
Setangkup Cinta.
Jejak Cinta Tak Pernah Salah.
Adakah Namamu di Sini?
Cinta Tak Pernah Salah Memilih!



Gadis Ningrat yang Tomboi

Darah biru yang mengalir di tubuhnya tak membuat Larasati bersikap dan bertindak layaknya putri kraton. Larasati tetaplah seorang gadis yang tomboy, spontan, bisa bela diri, suka bergaul dengan orang kebanyakan, senang naik gunung, dan bertualang dengan sepeda motor kesayangannya.

"Justru darah biru keraton membawa petaku buatku!" Larasati tertawa sambil terbatuk-batuk. (halaman 34)

Larasati sering kesal dengan  darah biru yang dirasanya mengungkung. Namun, gadis berusia 17 tahun itu tetap mencintai kotanya, Solo, dan keseniannya.

Meski tidak mau mengakui, diam-diam Laras merasakan ekstasi dari paduan nada diatonik dann gerak tari. Secara refleks ia ingin mengikuti irama dengan ukel atau srisik, jenis gerakan tari dimana jemari diputar dengan pusat pergelangan tangan dan gerakan kaki yang bergeser ke sisi. (halaman 31)

Kehidupan jalanan memberikan banyak pelajaran berharga bagi Larasati. Ia belajar mengenai solidaritas dan kesetiakawanan. Bahaya yang ditemuinya di jalanan tak membuatnya berhenti bertualang. Papa telah menurunkan darah petualang itu ke dalam diri Larasati. Papa adalah laki-laki terhebat di matanya.

Ia tak ingin tarlampau feminim seperti ibunya. Ia ingin tampak gagah seperti papanya, yang tegar dan kuat menghadapi masalah. (halaman 31)

Ketegaran Larasati diuji ketika kedua orangtuanya bercerai lantaran papa tak tahan lagi dengan sikap eyang putri yang sangat mengagungkan darah biru. Dalam keresahannya, Larasati berkenalan dengan cinta. Chandra dan Darmanto, begitu nama dua lelaki yang membawa cinta itu. Akankah cinta mampu menghentikan gejolak jiwa Larasati untuk bertualang?



Versi Cewek BSR

Puisi, petualangan, perlawanan terhadap perbedaan strata sosial adalah tiga hal yang kerap ada dalam novel-novel karya Gol A Gong. Sebut saja karya legendarisnya, Balada Si Roy. Tiga hal itu juga terdapat dalam novel Backpacker in Love, karya duet Gol A Gong dan istrinya, Tias Tatanka. Bisa dikatakan, Larasati adalah "versi cewek" dari Roy



Balada Si Roy

Ada sedikit kesalahan editing dalam buku ini. Di antaranya adalah:
- feminim (halaman 31). Jika mengacu pada KBBI, yang benar adalah feminin.
jenius (halaman 126). Menurut KBBI edisi 4, yang benar adalah genius.
- Tanya (halaman 244), seharusnya tanya.


Lepas dari kekurangan kecil itu, buku ini sangat layak dibaca. Banyak yang dibisa dipetik dan dipelajari dari buku ini. Dari cerita yang mengalir, konflik yang membuat gregetan, hingga unsur lokalitas yang demikian kental.



Ditandatangani penulisnya, dong :)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...