25 April 2014

[Resensi] Menumbuhkan Cinta Tanah Air Lewat Cerita Pendek


Keragaman budaya masyarakat Indonesia merupakan kekayaan luar biasa sekaligus sumber ide tak habis-habisnya. Mengangkatnya dalam cerita pendek menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan rasa bangga dan cinta pada Tanah Air. Itulah yang dilakukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Kompetisi Menulis Fiksi dan Nonfiksi.

Buku memuat 10 cerpen terbaik yang mengalahkan 1.412 karya (hal 6). Para penulis mengangkat cerita dari Aceh sampai Papua. 


Cerpen “Air Akar” karya Benny Arnas ditempatkan sebagai pembuka. Cerpen yang sekaligus menjadi judul buku ini berkisah tentang Bunga Raya, seorang guru di Kampung Nulang, 20 kilometer dari Lubuklinggau, Sumatra Selatan. Bunga Raya bukan hanya guru, tapi juga dokter. Dia disebut mantri hebat (hal 10).

Kehebatannya sebagai mantri berawal ketika menyembuhkan muridnya, Nalin, yang sakit diare. Meskipun Bunga Raya sudah meyakinkan masyarakat bahwa oralit mudah dibuat sendiri, mereka tetap menganggapnya sebagai ramuan rahasia. Setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter, ahli herbal, dan teman-temannya, Bunga Raya membuat Air Akar, ramuan obat serbaguna warisan leluhur (hal 13). Tak semua orang suka tindakan Bunga. Malahan ketidaksukaan datang dari sesama pengajar di SD Nulang.

Cerpen-cerpen lain karya para Finalis Cerita Pendek Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2012 ini juga tidak kalah menarik. Misalnya, “Barongsai Merah Putih” (hal 49-64). Cerpen karya Ade Sugeng Wiguno tersebut menceritakan Rudy dan Erik, dua pemain barongsai yang berusaha keras terpilih mengikuti Kejuaraan Nasional Barongsai di Semarang. Tapi mereka gagal, bahkan diusir dari perguruan sehingga meresa terhina.

Mereka bertekad menunjukkan bahwa mereka bisa memainkan barongsai dengan baik. Masalahnya, mereka tak punya barongsai. Untunglah keempat sahabat mereka―Andi, Surya, Bunga, dan Dewi―bahu-membahu membantu.“…Saat bermain, kalian sungguh menikmati persahabatan satu sama lain. Itulah yang dilupakan para seniman barongsai lain” (hal 64).

 Tiga dari 10 cerpen tampil berbeda karena tidak spesifik mengusung daerah tertentu. Mereka adalah “Sepasang Kupu-kupu Hitam-Putih”, “Penulis Biografi”, dan “Protokol Karimata.” Meskipun demikian, ketiga cerpen tersebut juga sarat nilai-nilai kebaikan keindonesiaan.

“Sepasang Kupu-Kupu Hitam-Putih” (hal 77-87), misalnya, mengangkat cerita tentang kupu-kupu.
Tokoh utama dalam cerpen karya Ari Keling ini sepasang kupu-kupu bernama Lala dan Lolo. Lala yang sedang menunggu Lolo tertangkap oleh Reni, seorang remaja penggemar kupu-kupu yang tak tahu cara memperlakukan binatang tersebut.

“Protokol Karimata” (hal 125-145) karya Wiryawan Nalendra menyuguhkan setting waktu tahun 2121. Dia berkisah tentang penjelajahan waktu oleh tokoh aku yang terlempar dari satu masa ke masa lainnya.

Sedikit kekurangan buku ini adalah pada tata letak halaman. Nomor halaman yang tercantum di daftar isi berbeda dengan sesungguhnya. Di daftar isi, cerpen “Air Akar” disebutkan berada di halaman 7, tetapi ternyata berada di halaman 9. Demikian selanjutnya hingga cerpen terakhir. Selain itu, di bagian atas cerpen “Tandan Sawit” karya Nafi’ah Al-Mar’ab (hal 117-123) tertulis judul cerpen dan nama penulis lain, yaitu “Penulis Biografi” (di halaman genap) dan “Bode Riswandi” (di halaman ganjil). 


Judul        : Air Akar
Penulis     : Banyak Orang
Penerbit    : Gramedia
Terbit       : November, 2013
Tebal        : 152 halaman
ISBN        : 978-979-22-9867



(Diresensi Triani Retno A, lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad)



Dimuat di Koran Jakarta

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta tanggal 23 April 2014. http://www.koran-jakarta.com/?10590-menumbuhkan%20cinta%20tanah%20air%20lewat%20cerita%20pendek


     
 Resensi Air Akar di Koran Jakarta edisi digital
Resensi Air Akar di Koran Jakarta edisi cetak

Naskah Asli

Ada beberapa bagian di naskah aslinya yang diedit oleh Redaksi Koran Jakarta. Ini naskah aslinya:



Menumbuhkan Cinta Tanah Air Melalui Cerita Pendek

Keragaman budaya masyarakat Indonesia merupakan kekayaan yang luar biasa, sekaligus merupakan sumber ide yang tak habis-habisnya. Mengangkatnya dalam cerita pendek menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan rasa bangga dan cinta pada tanah air. Itulah yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Nulisbuku.com melalui Kompetisi Menulis Fiksi dan Nonfiksi “Tulis Nusantara 2012”.
Sepuluh cerpen dalam buku ini merupakan yang terbaik dari 1.412 karya fiksi yang masuk (halaman 6). Masing-masing mengangkat cerita dari daerah yang berbeda, dari Aceh sampai Papua.
Cerpen “Air Akar” karya Benny Arnas ditempatkan sebagai pembuka. Cerpen yang sekaligus menjadi judul buku ini berkisah tentang Bunga Raya, seorang guru di Kampung Nulang, dua puluh kilometer dari Lubuklinggau, Sumatra Selatan. Bunda Guru, begitu masyarakat kampung memanggilnya. Bagi masyarakat, Bunga Raya bukan hanya guru di tempatnya mengajar, melainkan guru bagi orang sakit. Bagi mereka, Bunda Guru adalah mantri yang hebat (halaman 10).
Kehebatan Bunga Raya sebagai mantri berawal ketika ia menyembuhkan Nalin, muridnya, yang sakit diare. Meskipun Bunga Raya sudah meyakinkan masyarakat bahwa oralit mudah dibuat sendiri, masyarakat tetap menganggapnya sebagai ramuan rahasia. Setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter, ahli herbal, dan teman-temannya yang peduli, Bunga Raya membuat Air Akar, ramuan obat serbaguna warisan leluhur (halaman 13). 
Tak semua orang suka dengan apa yang dilakukan oleh Bunga Raya. Ketidaksukaan ini justru datang dari rekan-rekannya sesama pengajar di SD Nulang.

Ditempatkan di posisi pertama, cerpen “Air Akar” langsung memikat perhatian dengan bahasanya yang indah dan komunikatif, konflik yang menggigit, serta alur yang mengalir lancar.

Cerpen-cerpen lain karya para Finalis Cerita Pendek Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2012 ini juga tidak kalah menariknya. Sebutlah “Barongsai Merah Putih” (halaman 49-64). Cerpen karya Ade Sugeng Wiguno ini bercerita tentang Rudy dan Erik, dua pemain barongsai yang berusaha keras agar terpilih mengikuti Kejuaraan Nasional Barongsai di Semarang. Jika menang dalam kejuaraan tersebut. Namun, kegagalan mereka menguasai gerakan di atas tonggak membuat Oom Sin memutuskan untuk tidak memakai kedua sahabat ini.

Diusir dari Perguruan Bukit Buana Sakti oleh Oom Sin membuat Erik dan Rudy merasa terhina. Mereka bertekad menunjukkan bahwa mereka bisa memainkan barongsai dengan baik. Masalahnya, mereka tak punya barongsai. Untunglah keempat sahabat mereka―Andi, Surya, Bunga, dan Dewi―bahu-membahu membantu mereka.

“…saat bermain, kalian sungguh menikmati diri kalian, dan persahabatan satu sama lain. Itulah yang para seniman barongsai lain mulai lupakan.” (halaman 64)

Tiga dari sepuluh cerpen dalam buku ini tampil berbeda karena tidak spesifik mengusung daerah tertentu. Ketiga cerpen tersebut adalah “Sepasang Kupu-Kupu Hitam-Putih”, “Penulis Biografi”, dan “Protokol Karimata”.
Meskipun demikian, ketiga cerpen tersebut juga sarat dengan nilai-nilai kebaikan yang tetap berpatokan pada keindonesiaan.

“Sepasang Kupu-Kupu Hitam-Putih” (halaman 77-87), misalnya, mengangkat cerita tentang kupu-kupu. Tokoh utama dalam cerpen karya Ari Keling ini adalah sepasang kupu-kupu bernama Lala dan Lolo. Lala yang sedang menunggu Lolo tertangkap oleh Reni, seorang remaja penggemar kupu-kupu yang sayangnya tak tahu bagaimana cara memperlakukan kupu-kupu.

“Protokol Karimata” (halaman 125-145) karya Wiryawan Nalendra menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Cerpen penutup dalam kumcer ini berseting waktu tahun 2121, berkisah tentang penjelajahan waktu oleh tokoh aku. Bagian awal cerpen ini agak membosankan karena banyaknya istilah fisika yang cukup sulit dipahami pembaca yang tidak berlatar belakang eksakta. Namun, selanjutnya petualangan tokoh aku yang terlempar dari satu masa ke masa lainnya, cukup memikat mata untuk terus membaca.

Sedikit kekurangan buku ini adalah pada tata letak halaman. Nomor halaman yang tercantum di daftar isi berbeda dengan nomor halaman sesungguhnya. Di daftar isi, cerpen “Air Akar” disebutkan berada di halaman 7, tetapi ternyata berada di halaman 9. Demikian selanjutnya hingga cerpen terakhir. Selain itu, di bagian atas cerpen “Tandan Sawit” karya Nafi’ah Al-Mar’ab (halaman  117-123) tertulis judul cerpen dan nama penulis yang lain, yaitu “Penulis Biografi” (di halaman genap) dan “Bode Riswandi” (di halaman ganjil).
Lepas dari kekurangan kecil itu, kumpulan cerpen Air Akar mampu memberikan kepuasan batin, perenungan, dan pencerahan bagi pembaca.


***

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...