29 August 2014

Pilih Gadget atau Konten?


Pilih Gadget atau Konten? -- Saya sendiri bukan gadget freak. Bukan orang yang hobi gonta-ganti gadget, bukan pula pemburu gadget terbaru dari merek tertentu. Gadget yang saya miliki hanya dua: ponsel (yang saya pakai sejak tahun 2009) dan pocket PC (yang saya pakai sejak tahun 2005). 

Pocket PC itu sudah jarang sekali saya pakai. Dulu, dengan pocket PC ini saya menulis puluhan artikel untuk sebuah web, beberapa cerpen yang kemudian dimuat di majalah Mombi dan Bobo, serta beberapa bagian dari novel-novel saya. Sekarang saya lebih banyak menggunakan laptop untuk bekerja.

Kalau gadget diartikan sebagai perangkat elektronik yang canggih dan berukuran mini, laptop saya sepertinya tidak termasuk gadget. Untuk urusan ini saya lebih suka yang layarnya 14 inchi. Itu pun ketika memakai program MS Word tampilan layarnya masih saya perbesar sampai 150% supaya terlihat jelas tiap kata dan tanda baca yang harus disunting.

Jadi, satu-satunya gadget yang masih setia menemani saya adalah ponsel.Tentang gadget (baca: ponsel), saya sudah sering sekali  ditanya, disindir, bahkan (believe it or not) dikucilkan.


Kebutuhan dan Keinginan


“Kok penulis seperti kamu nggak pakai smartphone keren?”
Reaksi saya: “Kamu pakai smartphone keren gitu, udah menghasilkan apa aja?”

“Apa susahnya beli gadget baru? Dua jutaan juga dapat yang bagus. Kamu aktivis anti-BB ya?”
Reaksi saya: “Memangnya kamu tahu berapa penghasilan dan pengeluaran rutin saya? Saya nggak anti, kok. Kamu beliin aja, ntar saya terima.”
Reaksi dia: *menghilang*

Dengan prinsip “Mendahulukan kebutuhan di atas keinginan”, saya bisa mengerem keinginan untuk beli gadget baru setiap kali ada yang gres. (Catat ya, untuk beli. Bukan untuk memiliki. Bisa aja kan punya gadget baru tanpa membeli? Hadiah dari menang lomba ngeblog, misalnya #kode :D ). Apalagi kalau punya gadget baru cuma untuk gaya-gayaan padahal hanya dipakai untuk foto-fotoan dan mengunggahnya ke sosmed.

Ponsel saya cukup memenuhi kebutuhan saya yang tidak seberapa: menelepon, mengirim dan menerima SMS, memotret, merekam audio video, menulis (saya sering menulis outline novel dan puisi-puisi pendek di ponsel ini), mendengar lagu, main game, dan membuka internet. 

 
Baru belakangan ini saya berpikir untuk mengganti dengan yang baru, tepatnya ketika performa ponsel saya ini mulai menurun. Mungkin karena faktor usia, ya. Touchscreen-nya sering ngadat. Baterainya pun sudah gampang panas dan tidak tahan lama lagi. Dipakai online sepuluh menit langsung mati.

Dengan prinsip “Mendahulukan kebutuhan di atas keinginan” pula saya lebih mementingkan konten daripada gadget. Sederhananya, seberapa banyak konten dalam gadget itu bermanfaat bagi saya? Seberapa sesuai konten-konten itu dengan kebutuhan saya?



Bundling

Gadget yang sudah di-bundling dengan konten lengkap seperti Syaamil Tabz menjadi sangat menarik. Dari Al-Qur'an (lengkap dengan audio murotal, tafsir, hadis, dan panduan tajwid) hingga panduan ibadah haji dan umroh, dari terjemah Al-Qur'an per kata sampai ensiklopedia sains populer ada di dalamnya.


Dengan bundling seperti ini, tidak perlu repot mengunduh dan menginstal ini itu lagi. Saya rada gaptek nih soal instal-instalan begini.

Konten yang lengkap seperti ini juga bisa dijadikan sumber referensi. Pekerjaan saya menuntut untuk sering membuka buku, kamus, dan googling ini itu untuk mengecek kebenaran dan keakuratan data.

Yang nggak kalah penting, ada aplikasi Al-Qur’an. Jadi, kalau bepergian dan harus menginap, nggak ada acara “Yaaah, lupa bawa Qur’an”. Aplikasi Al-Qur’an yang dilengkapi dengan audio murotal ini juga penting untuk anak bungsu saya yang lebih mudah menghafal dengan cara mendengarkan. Dia ingin menjadi hafiz Qur’an. :)

Jadi, apakah gadget dan konten di dalam gadgetmu sudah membantumu menjadi lebih produktif dan lebih mudah beribadah?


Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog
#PameranBukuBdg2014 Hari Ke-4

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...