13 July 2015

Puasa Kok Malah Makin Gemuk, Sih?



Berat badanku naik,niiih!”

Beratku naik tiga kilo.”

Belum nimbang, sih. Tapi kayaknya selama puasa berat badan naik, deh. Celana panjangku jadi agak kesempitan gitu.”


Meski terasa aneh, ungkapan seperti itu terasa familier di telinga kita. Puasa kok malah makin gemuk, sih? Biasanya, sejak pertengahan Ramadhan ada saja yang mengeluh seperti ini.


Aneh? Tentu saja. Pada hari-hari biasa kita umumnya makan tiga kali sehari. Pagi, siang, dan malam.  Itu belum termasuk camilan dan makanan selingan. Pada bulan puasa kita hanya makan berat dua kali, saat sahur dan berbuka puasa. Waktu untuk mengemil pun tak banyak karena usai shalat tarawih tak jarang kantuk sudah mulai menyerang.


Lebih sedikit makan, logikanya berat badan malah turun. Tapi nyatanya berat badan kok malah naik? Jangan-jangan timbangannya, nih, yang sentimen.




Puasa = Pengendalian Diri


Pada hakikatnya, puasa bukan sekadar tidak makan dan minun pada siang hari. Ketika berpuasa kita juga dituntut untuk mampu mengendalikan diri agar tidak melakukan hal-hal tercela seperti berbohong dan bergunjing. Secara fisik puasa kita memang tidak batal tetapi perbuatan-perbuatan tercela tersebut mengurangi pahala puasa kita. Bisa-bisa kita hanya mendapatkan rasa lapar dan haus tanpa nilai pahala sedikit pun.


Selain itu, kita pun dituntut agar mampu mengendalikan emosi dan hawa nafsu negatif kita. 


Lalu, apa hubungannya dengan berat badan yang naik selama berpuasa di bulan Ramadhan?




Buka Puasa Menjadi Ajang “Balas Dendam”


Setelah seharian berusaha menahan hawa nafsu, ketika tiba waktu berbuka puasa kita sering kehilangan kendali.  Saat berbuka puasa menjadi saat untuk membalas dendam. Berbagai makanan dan minuman yang sejak siang dan sore hari menggoda mata, langsung saja diembat. Kolak pisang, candil, bubur sumsum, martabak keju, donat, kue-kue basah seperti dadar gulung dan lupis, serta sederet hidangan pembuka lainnya langsung kita lahap.


“Berbuka puasa dengan yang manis-manis, dong,”dalih kita.


Berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang manis memang dapat mengembalikan tenaga kita secara cepat. Namun, tanpa kita sadari, si manis-manis yang kaya dengan karbohidrat sederhana ini akan meningkatkan gula darah yang justru memicu rasa lapar. Kita jadi terdorong untuk “membalas dendam” dengan makan dan makan lagi tanpa memperhatikan komposisi gula dari makanan itu. 

Belum cukup dengan hidangan pembuka yang serba manis, menu makan malam pun tak kalah hebat. Porsinya menggunung, sarat dengan muatan karbohidrat dan protein. Bisa dibayangkan, dong, akibatnya jika hal tersebut terjadi selama satu bulan? Yup, berat badan justru akan melambung meskipun siang harinya berpuasa.




Konsumsi Air Putih Dengan Pola 242


Agar berat badan tidak melambung, sebaiknya kita lebih memperhatikan makanan dan minuman yang kita konsumsi.  Daripada menyantap kolak yang sarat dengan gula dan santan setiap waktu berbuka, lebih baik mengawali berbuka dengan meminum segelas air putih hangat. Lambung kita yang seharian kosong dan tenang beristirahat, tak akan kaget. Setelah itu, barulah menyantap takjil secukupnya. Misalnya beberapa butir kurma, sepotong kue, atau semangkuk kecil puding.


Konsumsi cukup air putih agar badan tetap fit selama berpuasa.

Bukan hal aneh, karena kebanyakan makan ini-itu, kita justru menjadi kurang minum. Perut kita sudah keburu penuh dengan beraneka makanan. Padahal, tubuh kita membutuhkan air dengan jumlah yang sama seperti ketika kita tidak sedang berpuasa, yaitu dua liter sehari. Apabila terus berlanjut, kurang minum ini dapat menyebabkan dehidrasi. Pada tahap ringan, dehidrasi akan menimbulkan rasa haus yang sangat, kehilangan citarasa, dan timbul perasaan tidak nyaman. Pada tahap lanjut, dehidrasi dapat menurunkan volume dan tekanan darah, serta mengakibatkan gagal ginjal.

Berpuasa bukan menjadi alasan untuk tidak minum dalam jumlah yang cukup. Untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan cairan selama berpuasa, AQUA menyarankan kita minum air putih dengan pola 242.

  • 2 gelas ketika berbuka puasa,
  • 4 gelas pada malam hari, dan
  • 2 gelas saat sahur.


2 gelas saat berbuka, 4 gelas pada malam hari, 2 gelas saat sahur.



Dengan pola 242 ini, kebutuhan tubuh akan dua liter air minum setiap hari menjadi terpenuhi. Bonusnya, berat tubuh tidak akan mudah melambung karena air putih bebas pemanis. 
 


Cara Seru Menikmati Air Putih

Ih, tapi kan bosan kalau minum air putih terus!” 


Hehe… mau protes seperti itu? Kalau bosan, bisa kita siasati kok. Misalnya,
  •  Infused water. Pada sore hari, masukkan irisan buah-buahan ke dalam sebotol air putih.  Misalnya irisan buah stroberi dan jeruk. Simpan di dalam kulkas. Infused water ini bisa kita minum pada malam hari seusai shalat tarawih. Segar dan bebas pemanis yang bisa menggoda jarum timbangan untuk terus bergerak ke kanan.

  • Jeniper hangat.  Jeruk nipis peras yang hangat ini bisa diminum setelah kita bangun tidur untuk makan sahur. Lebih baik diminum ketika perut dalam keadaan kosong. Meski terasa asam di lidah, jeruk nipis ini justru bersifat basa di lambung. Sifat basa ini akan membantu menetralkan asam lambung.


Jeniper hangat juga oke.



Intinya, Pengendalian Diri
Mengendalikan diri dari hawa nafsu negatif tidak hanya pada siang hari saat berpuasa tetapi juga setelah azan Magrib berkumandang. Salah satu bentuk pengendalian diri ini tampak dari perilaku kita ketika makan. Apabila kita kalap dan menyantap makanan sebanyak-banyaknya saat berbuka, berarti kita masih harus lebih banyak berlatih mengendalikan hawa nafsu.

Daripada menghabiskan uang untuk menyediakan segunung makanan lezat untuk kita santap sendiri (atau bersama keluarga kita), lebih mulia jika kita gunakan uang itu untuk membeli minuman dan makanan yang bergizi agar bisa dinikmati bersama anak-anak yatim atau kaum dhuafa. Insya Allah, berat badan lebih terkendali dan juga lebih bernilai pahala.



***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...