Cerita-Cerita Horor di Bandung





Cerita-Cerita Horor di Bandung -- Di akun Facebook, saya kadang menulis status tentang kejadian horor yang saya alami. Jadi aja banyak yang nanya, “Teh Eno bisa ngeliat yang tak kasatmata, ya?”
Nggak, saya nggak bisa lihat yang tak kasatmata, kecuali kalau sedang apes.
Saya tahu mereka ada dari “ulah iseng” mereka. Seperti tiba-tiba muncul gambar di dinding, pot bunga pindah ke kusen jendela, atau barang yang hilang begitu aja di depan mata. Saya nggak melihat pelakunya.

Sekarang saya mau cerita tentang beberapa keapesan saya di kota tempat tinggal saya. Bandung.

Penumpang Misterius di Angkot

Siang itu saya dan anak-anak hendak ke pameran di Manggala Siliwangi. Kejadiannya udah agak lama. Belum musim transportasi online waktu itu. Jadi ke mana-mana naik angkot.


Ke pameran itu pun kami naik angkot. Di dekat Surapati Core kami turun untuk berganti angkot.
Setelah menunggu beberapa menit, angkot yang ditunggu pun datang. Kursi di samping pak kusir kosong. Di belakang (tepat di depan pintu) ada dua orang perempuan muda.
Semula saya bermaksud duduk di belakang aja. Tapi si bungsu merengek pengen duduk di depan.
Kakaknya yang udah naik ke belakang pun turun lagi, lalu pindah ke depan. Waktu itu si bungsu masih kecil, bisa dipangku.
Angkot melaju lagi. Nggak berhenti-henti, apalagi ngetem-ngetem. Berjalan konstan aja. Penumpang di belakang nggak ada yang turun, juga nggak ada calon penumpang yang nyetop angkot.
cerita-cerita-horor-di-bandung
Foto: Shutterstock.

Sekitar 30-40 menit, angkot yang kami tumpang tiba di depan Manggala Siiwangi. Saya membayar ongkos, lalu turun, dan … bengong.
Bangku penumpang di belakang kosong. Nggak ada siapa-siapa di sana.  Dua perempuan tadi pun nggak ada.

 Baca Juga: Mendadak Horor

“Nggak ada siapa-siapa,” kata si bungsu ketika saya tanya apa ketika akan naik angkot dia melihat penumpang di belakang.
Saya dan si sulung berpandangan. Nggak mungkin dua perempuan itu loncat dari angkot yang sedang melaju di jalan raya yang ramai, kan?

Siapa di ATM Sebelah?

Yang ini kejadian tahun 2016, lupa bulannya. Waktu itu saya otw pulang setelah hunting buku untuk lapak online saya.
Karena sudah kehabisan ongkos (biasa, kalap belanja!), saya mampir ke ATM di sebuah kampus.
Sudah menjelang Magrib waktu itu. Pelataran kampus sepi. Tapi di dekat portal masuk ada satpam.
Pintu di ruang ATM berbunyi pelan ketika saya buka. Mungkin engselnya perlu diberi pelumas.
Ada tiga mesin ATM di sana. Kosong semua. Saya memilih yang paling kiri.
Saat sedang menunggu uang keluar, saya menoleh ke kanan. Ada seorang perempuan di depan mesin ATM yang tengah, tepat di sebelah saya.
cerita-cerita-horor-di-bandung
Foto: Shutterstock
 
Mesin ATM di depan saya mengeluarkan uang. Saya mengambil uang dan kartu ATM. Saat itu saya baru sadar, tidak ada orang di mesin ATM di sebelah saya. Hanya saya dan udara dingin.
Pintu kaca berbunyi pelan ketika saya buka dari dalam. Eh? Kenapa nggak kedengeran bunyi pintu ketika orang tadi masuk dan keluar dari ruang ATM?
Bahkan, kenapa nggak ada suara apa-apa dari mesin ATM di tengah ketika orang itu di sana?
Pelataran kampus masih sepi. Dan sayup-sayup terdengar kumandang azan Magrib….


Bayangan Hitam di Sebuah Plaza

Siang itu saya memutuskan bahwa diam menulis di rumah bukan pilihan yang bagus. Jadi, saya pergi ke sebuah plaza.
Nggak ada niat belanja sih. Cuma wasting time. Jalan-jalan merilekskan isi kepala. Kebetulan waktu itu sedang ada deadline naskah buku.
Lalu saya masuk ke sebuah minimarket (lebih besar daripada Alfamart atau Indomaret, tapi lebih kecil daripada supermarket). Mau lihat-lihat buku yang dijual di sana.
Wuuush!
Sekelebat bayangan hitam lewat di belakang saya, dari arah kanan ke kiri. Saya menoleh, celingukan. Sepi.
Baru saja saya kembali membaca blurb sebuah buku, bayangan hitam itu berkelabat lagi. Dan lagi. Wuuush! Wuuush!
Oh, cukup!
cerita-cerita-horor-di-bandung
Foto: Shutterstock.
 
“Kamu siapa sih? Nggak usah lewat-lewat deh. Aku tuh udah bosen banget digangguin gini. Mau kamu tuh apa?” Saya ngomel sendiri ketika merasa sosok hitam itu ada di dekat saya.
Sunyi.
Saya juga nggak berniat nunggu jawaban. Segera saya pergi ke bagian lain toko itu. Mengambil beberapa camilan dan es krim. Lalu ke kasir.
“Teh, kalau tugas sampai malam di sini nggak ada yang ngeganggu?” saya memberi isyarat dengan jari tangan ketika mengatakan “ngeganggu”.
Si teteh kasir stop motion sejenak.
“Saya aja siang-siang kok diganggu, ya.”
“Eung … iya, Teh,” sahut si teteh kasir. “Kadang-kadang. Tapi manajer toko suka bikin pengajian di sini biar aman.”
Nah loh! Ternyata bukan cuma perasaan saya.
“Di sebelah sana ya, Teh?” saya menunjuk ke arah rak-rak buku.
Si teteh kasir mengangguk. “Iya. Tempatnya sih di gudang. Tapi dia suka lewat-lewat situ. Nggak jahat kok.”
Sekarang plaza itu sudah berubah menjadi sebuah town square. Semoga lebih aman dan “bersih”.

Noni Belanda di Koridor Sekolah

Kalau ini bukan saya yang melihat, tapi saya ada di sana waktu itu. Saya sedang beruntung (atau sedang bebal) karena nggak merasakan dan melihat yang aneh-aneh.
Kami sedang menyusuri koridor sebuah SMA untuk menemui seorang guru. Sunyi. Memang sedang jam pelajaran.
Tiba-tiba, orang di sebelah saya merapatkan tubuh pada saya. Juga menggenggam tangan saya kuat-kuat.
“Ada apa?” Saya tahu, ada yang nggak beres.
“Nggak. Nanti aja,” jawabnya dengan pandangan mengarah ke lantai.
Kejadian serupa terulang ketika kami akan pulang dan  melewati taman. Dia tetap tak mau mengatakan apa-apa. Hanya mencengkeram tangan saya dan memaksa saya untuk bergegas.
cerita-cerita-horor-di-bandung
Foto: Shutterstock.
 
Wajahnya sudah pucat ketika kami keluar dari sekolah itu. Pusing, katanya.
“Ada perempuan bule di koridor. Bajunya putih. Rambutnya pirang panjang. Cantik tapi pucat kayak tembok. Dia masuk ke ruangan yang ada di koridor. Deket lemari piala-piala,” katanya. “Trus di ruangan deket taman ada laki-laki. Berdarah-darah.”
Saya menarik napas panjang. Dulu saya bersekolah di sana. Dan saya bersyukur karena tak pernah melihat mereka yang tak kasatmata di gedung itu.

Mereka Tak Menunggu Malam

Kita sering beranggapan “mereka” hanya ada di tempat sepi, rumah tua, dan muncul pada malam hari.
Nggak juga. Mereka ada di mana-mana dan nggak perlu menunggu malam untuk menampakkan diri.
Teman-teman yang apes melihat “mereka”, semoga selalu dalam perlindungan Allah. Bagi yang tak bisa melihat “mereka”, bersyukurlah. Nggak usah punya keinginan untuk bisa melihat “mereka”.
 (kapan-kapan dilanjutkan, kalau inget)

Salam,

Triani Retno A
Penulis Buku Indonesia
Editor Freelance
Blogger Indonesia
Blogger Bandung
Previous
« Prev Post

Related Posts

Cerita-Cerita Horor di Bandung
4/ 5
Oleh

15 comments:

  1. Hiyaaaa, lebih horor dari film horor ini hahaha... By the way, aku cuma berani nonton film horor kalau siang. Kalau malem ga di bioskop ga di rumah mah ogah. Takut ada yang nyamperin. Nah kalau disamperin gitu sih belum pernah, kecuali sektitar tahun 2003an gitu, aku liat sosok pocong (belakangnya sih bukan mukanya) di sekitar lintasan kereta Maleber dini hari jam 3an. Shock abis

    ReplyDelete
  2. Aih... Nyesel bacanya malam Jumat 😕

    ReplyDelete
  3. duh mba serem hahaha ngeri gimana gitu bacanya apalagi yang pas di ATM soalna mba sendirian :p

    ReplyDelete
  4. @Efi Fitriyyah : Hihi....aku siang dan malem angger nggak berani nonton film horor. Hidupku sendri udah cukup horor #eh

    ReplyDelete
  5. @herva yulyanti : dan aku masih lumayan sering mampir ke ATM itu. Untungnya gak digangguin lagi.

    ReplyDelete
  6. @Qadriea Warastra : :D :D Lagi mau nyantai sepulang kerja malah nemu yang horor ya :D

    ReplyDelete
  7. @liza permasih : Lebih dominan serem apa gila, Za? :D

    ReplyDelete
  8. waaah salah nih malem-malem buka Blog nya teh Eno, besok pagi balik lagi aaah hahaha

    ReplyDelete
  9. @Demia Kamil : Hihihi.... Baca pagi, malamnya terbayang-bayang. :D

    ReplyDelete
  10. @Dita Arina Astrianda : Mendampingi yang bisa 'melihat" aja udah lumayan bikin stres, padahal. Apalagi "melihat" sendiri ya.

    ReplyDelete
  11. Itu yang di tempat teh Eno lihat-lihat buku ngeri pisan huhu. Walaupun gak jahat tapi kan bikin merinding dan kaget ya. Aku pernah dua kali mengalami apes macem teh Eno di ATM sama angkot itu. Tapi enggak sedeket itu sih munculnya, di depan pintu pagar kosan sama di area taman kampus. Dan ngalamin benda pindah-pindah juga tempatnya beberapa kali atau tiba-tiba menghilang lalu muncul lagi setelah aku tinggal pergi dulu (diisengin). Lagi apes aja suka keinget terus, jadi aku sama sekali tidak punya keinginan untuk melihat mereka dengan sengaja teh :)

    ReplyDelete
  12. Huwaaa Alhamdulillah bacanya sore2. Gitu aja masih merinding. Gak kebayang sih yg di angkot gitu. Hiiyyy

    ReplyDelete
  13. Pun, Teteh semoga dalam lindungan Allah selalu ❤️ Aamiin

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon maaf, komentar dengan link hidup dan broken link akan saya hapus :)