“Jangan lupa bawa dry food, Teh.” Seorang teman online berpesan melalui Facebook saya.
Saat itu saya yang sedang mendata barang-barang apa saja yang perlu saya bawa ke Tanah Suci. Umroh selama kurang lebih sembilan hari tentu perlu perbekalan cukup, kan? Minimal jangan sampai kurang pakaian dalam dan luar yang bersih, deh.
Belum lagi ketika saya akan umroh di pertengahan Januari 2020 itu, ternyata cuaca di Tanah Suci sedang dingin-dinginnya. Travel yang akan memberangkatkan kami sudah memberi peringatan tentang hal tersebut agar kami bersiap-siap.
Jadi saya memasukkan serbuk jahe instan, tolak angin cair, jaket/sweater tebal, ekstra kaus kaki, dan minyak herbal untuk menghangatkan tubuh ke catatan saya.
Sambil mencatat berbagai keperluan, saya sesekali membuka Facebook dan membaca komentar teman-teman di status saya. Dan saya menemukan komentar tentang dry food alias makanan kering untuk kucing itu.
Saya tahu, teman online saya itu juga penyayang kucing. Sama seperti saya. Tapi ... kenapa sampai bawa dry food ke Tanah Suci?
“Di sana banyak kucing, Teh,” balasnya lagi, disertai emoji kucing tertawa.
Waaah ... ini sungguh info baru untuk saya.
Kucing di Madinah
![]() |
| Kucing di Masjid Nabaw. |
Pesan teman saya itu ternyata benar adanya. Malam hari setelah berbelanja sedikit oleh-oleh di Bin Dawood bersama teman-teman sekamar, saya melihat mereka.
Kucing-kucing Madinah! Mereka dengan santainya berjalan-jalan di pelataran Masjid Nabawi. Tidak ada orang yang mengusir mereka. Tidak ada yang melempar mereka dengan batu atau menyiram mereka dengan air.
Kucing-kucing gemuk itu tampak tenang menikmati malam di masjid.
Saya mengeluarkan bungkusan berisi dry food dari ransel kecil yang selalu saya bawa, lalu mendekati kucing-kucing itu.
Saya tak ingat untuk mencari tahu bagaimana orang-orang Arab memanggil kucing. Jadi, saya pakai saja cara memanggil kucing di Indonesia. ”Pus ... Pusss ....”
Ada yang berhenti dan memperhatikan saya, ada yang mendekati dan mengendus-endus saya, tapi ada juga yang hanya melirik sebentar kemudian melenggang pergi.
Kalau melihat tubuh mereka yang gemoy-gemoy, sepertinya mereka tidak ada masalah soal makan, alias bukan kucing stray kelaparan seperti yang banyak berkeliaran di Indonesia.
Keesokan harinya, ketika saya berdiam di pelataran Masjid Nabawi sambil menunggu waktu shalat Zuhur, seekor kucing datang mendekat lalu duduk di dekat saya.
Dia tidak mengganggu, juga tidak rusuh seperti kucing-kucing di rumah saya. Dia hanya duduk manis sambil sesekali menjilati badannya.
Tentu saja bukan hanya saya pawrent di sana. Suatu kali, ketika akan keluar dari Masjid Nabawi seusai shalat, saya berhenti sejenak untuk menyapa seekor kucing.
Hampir bersamaan, dua wanita lain juga berhenti untuk melakukan hal yang sama. Kami hanya bertukar senyum. Mau menyapa juga bingung pakai bahasa apa. Mungkin pakai bahasa kucing saja. Meowmeowmeow meow meowmeow meow....
Baca Juga: Belanja Oleh-Oleh di Madinah
Kucing di Mekah
![]() |
| Kucing di Mekah. |
Kucing yang saya temui di Mekah tak sebanyak di Madinah. Saya bertemu mereka saat berjalan kaki dari Hotel Hilton ke Masjidil Haram.
Ada dua ekor kucing dewasa, juga seekor induk kucing kembang telon (alias belang tiga) dan dua anaknya. Salah satu kitten itu berwarna putih oranye.
Namun, kucing-kucing di Mekah ini tidak seperti kucing-kucing di Madinah. Mereka lebih susah didekati. Yang kitten sih mau bermain-main di ujung gamis saya. Induknya pun mau memakan dry food yang saya berikan. Namun, ketika akan dielus, mereka malah lari.
Seperti vibes kotanya yang berbeda, ternyata karakter kucing-kucingnya juga berbeda.
Baca Juga: Memelihara Kucing Mesti Siap Ini
Seusai thawaf wada pada dini hari tanggal 22 Januari 2020, kami meninggalkan Mekah dan menuju Bandara Jeddah. Dalam perjalanan, kami singgah di Masjid Qishash, Jeddah, untuk shalat Subuh.
Belum lama turun dari bus, sudah terlihat kucing-kucing berkeliaran di sekitar masjid.
“Ada yang bawa dry food?” tanya seorang anggota rombongan.
“Ada, tapi tinggal sedikit,” sahut saya.
Untungnya kucing-kucing itu memang tidak kelaparan. Tubuh mereka pun tampak berisi. Di salah satu sisi luar masjid terlihat ada dry food dalam jumlah cukup banyak.
Kucing-kucing di Masjid Qishash ini jinak-jinak, bahkan ada yang mengikuti ke mana-mana. Menunggu di tempat wudhu, juga ikut masuk ke masjid. Ah, manis sekali.
Dalam ajaran Islam,kucing adalah hewan yang suci tetapi haram dimakan, juga haram diperjualbelikan.
Ada beberapa hadits Rasulullah terkait kucing, di antaranya:
“Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita.” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Malik.)
Yang najis dari kucing adalah kotorannya. Kucingnya sendiri mah tidak najis. Mungkin karena itulah kucing-kucing di Mekah dan Madinah tampak sehat, bersih, terawat, dan tak diusir jika berada di area masjid.
Jika Teman-teman ke Tanah Suci, jangan lupa bawa sedikit dry food sebagai oleh-oleh buat kucing-kucing di sana, ya. Namun, pastikan makanan tersebut tak sampai mengotori lingkungan.
Kucing di Jeddah
![]() |
| Kucing di Jeddah. |
Seusai thawaf wada pada dini hari tanggal 22 Januari 2020, kami meninggalkan Mekah dan menuju Bandara Jeddah. Dalam perjalanan, kami singgah di Masjid Qishash, Jeddah, untuk shalat Subuh.
Belum lama turun dari bus, sudah terlihat kucing-kucing berkeliaran di sekitar masjid.
“Ada yang bawa dry food?” tanya seorang anggota rombongan.
“Ada, tapi tinggal sedikit,” sahut saya.
Untungnya kucing-kucing itu memang tidak kelaparan. Tubuh mereka pun tampak berisi. Di salah satu sisi luar masjid terlihat ada dry food dalam jumlah cukup banyak.
Kucing-kucing di Masjid Qishash ini jinak-jinak, bahkan ada yang mengikuti ke mana-mana. Menunggu di tempat wudhu, juga ikut masuk ke masjid. Ah, manis sekali.
Penutup
![]() |
| Kucing di dalam masjid. |
Dalam ajaran Islam,kucing adalah hewan yang suci tetapi haram dimakan, juga haram diperjualbelikan.
Ada beberapa hadits Rasulullah terkait kucing, di antaranya:
“Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita.” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Malik.)
Yang najis dari kucing adalah kotorannya. Kucingnya sendiri mah tidak najis. Mungkin karena itulah kucing-kucing di Mekah dan Madinah tampak sehat, bersih, terawat, dan tak diusir jika berada di area masjid.
Jika Teman-teman ke Tanah Suci, jangan lupa bawa sedikit dry food sebagai oleh-oleh buat kucing-kucing di sana, ya. Namun, pastikan makanan tersebut tak sampai mengotori lingkungan.








Terima kasih sudah mampir di blog saya.
BalasHapus