22 November 2012

Behind The Story Novel FOOLOVE

Lama tidak menerbitkan novel, tiba-tiba...tarrraaa...! Novel teenlit FOOLOVE memecahkan kebekuan itu. Serius, buku solo selalu memberi sensasi berbeda dibandingkan buku antologi. Selalu tercium lebih semriwing....

Ide untuk menulis FOOLOVE ini sebenernya udah dari awal 2009 (lupa tepatnya). Tapi seperti kebanyakan naskahku yang lain, ide itu sering nggak langsung kutulis. Kubiarkan aja dulu di buku catatan yang imut dan kusut (karena sering dibolak-balik). 



Akhir 2009, baru deh mulai kutulis. Kemudian, kukirim ke penerbit Lingkar Pena Publishing House (LPPH) awal 2010 dan terbit akhir Juni 2011.


Kenapa Foolove?


Semula novel ini kuberi judul PEPESBUKAN, dari kata PESBUK (Fesbuk dengan huruf P). Bukan tanpa alasan. Setting lokasi teenlit ini adalah Bandung. Tahu sendirilah, lidah orang Sunda sering belibet ketika mengucapkan huruf f, v, dan p. Maka, fesbuk pun menjadi pesbuk. Pepesbukan, pesbuk-pesbukan, hobi kedua tokoh utama dalam teenlit ini: Ayla Navisha dan Vania Aryani.

Namun ternyata, Mas dan Mbak di LPPH langsung lapar ketika melihat "pepesbukan". Langsung terbayang pepes ayam, pepes ikan, pepes tahu, hingga nasi pepes yang yummy. Hihihi.... Lalu, digantilah judulnya menjadi FOOLOVE dengan pertimbangan kisah cinta yang fool alias enggak banget yang dialami salah satu tokoh utama.


Untung  diganti, ya. Nggak kebayang deh kalo puasa-puasa gini aku sibuk promo pepesbukan. Bisa-bisa bikin orang jadi lapar. Kemarin aja waktu ngisi acara di SMP Salman Al Farisi Bandung dan aku nyebut kata pepesbukan, ada yang nyeletuk, "Whuaaa... jadi lapar...! Pengen pepes ayaaam...!"


Pemilihan tema pun bukan tanpa alasan. Alasan pertama, jelas, karena aku suka fesbukan. Meski nggak selalu komen, aku suka baca-baca status teman-teman FB. Kadang lihat-lihat profil dan foto mereka juga. Lalu kutemukan hal-hal yang bikin tertegun. Banyak ABG unyu di FB. Begitu unyu-nya sampai semua data dibeberkan di info profil FB. Mulai dari alamat e-mail, nomor hp/telepon, alamat rumah, alamat sekolah, dsb.
Berita-berita di TV pun sering bikin prihatin. Tak sedikit remaja putri yang digombali, ditipu, hingga dibawa lari oleh "cowok keren" yang dikenalnya di FB.

Tapi... jangan berpikir novel ini jadi seperti penyuluhan KB eh FB. Novel ini tetap novel remaja yang ceria tralala. Ceria tapi berisi. Nggak cuma bercerita tentang kelemotan Ayla dalam Matematika, kegilaan Ayla pada FB, dan pertemanan Ayla-Vania-Dika. Nggak cuma tentang Ayla yang diem-diem naksir seseorang, nggak cuma tentang Dika yang terang-terangann naksir Ayla, tapi juga tentang bahaya FB, tentang kesetiakawanan, hingga tentang autis.



SMA 35 Bandung

Jika pernah tinggal di Bandung, pernah (atau masih) bersekolah di SMA atau SMA 5 Bandung,  pasti familier dengan lokasi-lokasi dalam novel teenlit ini. Yoghurt Cisangkuy,Gado-Gado Teuku Angkasa, Tobucil, Dago, Pasir Kaliki, Taman Lalu Lintas, hingga Taman Maluku.

Lalu, SMA 35 tempat Ayla, Dika, dan Vania bersekolah? Tidak ada SMA 35 di Bandung, yang ada adalah SMA 3 dan SMA 5 Bandung yang berada dalam satu kompleks.

Yup, aku mengambil setting tempat di sekolahku dulu. SMA 3 Bandung. Ada hantu Laura (aslinya sih Nancy), cermin besar di dekat ruang piket, dan koridor. Entah kenapa, aku suka sekali pada koridor di sekolahku itu. Masa SMA memang menyenangkan, ya? *abaikan nilai ulangan yang jungkir balik*


 ***

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...