28 March 2014

Behind The Story: Begini-Begitunya Novel LIMIT

Ketika tahu Penerbit Ice Cube bikin lomba menulis novel remaja, saya langsung tertarik. Saya harus ikut. Eh, tapi syaratnya harus dark, sad ending, galau... pokoknya yang sediiiih.

Di titik ini saya sempat ragu. Saya nggak terlalu suka menulis cerita yang sad ending. Dulu sih suka banget nulis yang seperti itu di cerpen-cerpen saya. Ada yang tewas karena OD narkoba, tabrakan dan tewas di tempat, korban konser yang rusuh, bunuh diri, sampai jadi koran mutilasi. Hei, itu DULU. Sudah lama saya tidak menutup cerita-cerita saya dengan kesedihan.

Alasan saya mungkin mengada-ada atau cemen banget. Saya takut hal-hal menyedihkan yang saya tulis itu menjadi kenyataan. :(  Saya takut terkena kutukan naskah. Hah, mengada-ada sekali, ya?

Setelah berpikir agak lama, akhirnya saya putuskan untuk ikut. Tentu dengan bergunung-gunung doa agar kesedihan itu tak menjadi nyata.




Mood Booster
Ide sudah ada. Outline per bab pun sudah jadi. Sekarang, saya butuh lagu yang cocok. Ini empat lagu yang sering banget saya dengarkan dalam proses penulisan novel LIMIT.


  • Don't Wanna Miss A Thing (Aerosmith). Soundtrack film Armageddon ini selalu berhasil bikin air mata saya bercucuran. Udah berkali-kali nonton film ini tapi masih teteup aja nangis. 
  • Truly (Lionel Richie). Lagu jaduuul yang masih teteup jleb di hati.
  • Cinta Sejati (Bunga Citra Lestari). Soundtrack film Ainun & Habibie. Romantis bangeeet.
  • Right Here Waiting (Richard Marx).Eizel Augusta di novel LIMIT suka sekali menyenandungkan lagu ini.

Semua sudah siap. Sekarang, mulai menulis. Dalam proses penulisan, saya sering konsultasi dengan teman saya yang indigo. Untuk latar belakang Bunda Keala yang auditor, saya konsul ke teman saya yang auditor (padahal cuma untuk bagian kecil di novel ini).

Naskah novel ini selesai dalam waktu kurang lebih sebulan. Oh tidak. Saya tidak setiap hari menulis. Ketika menulis naskah novel ini, saya juga sedang menulis naskah novel yang lain. Selain itu, tentu aja tetap kerja kejar setoran di mana-mana. Dapur tetap harus ngebul, Cin!



Menang dan Revisi
Suatu siang beberapa bulan kemudian, Mbak Nuri Dhea memberi kabar, LIMIT menjadi 1 dari 10 Naskah Pilihan Editor Ice Cube. Alhamdulillah.

Lalu, proses editing pun dimulai. Revisi-revisi. Judul LIMIT sempat akan diganti. Namun, saya menyodorkan argumen-argumen. Argumen saya diterima. Judul novel ini tetap LIMIT.

Pekan pertama Februari 2014, LIMIT terbit. 

Silakan Ngintip Isi Novel Limit di sini.
And then, tanggal 6 April 2014 nanti, LIMIT dan novel-novel seri BlueStroberi lainnya akan launching di JCC Senayan. Ketika Mbak Winda (editor Ice Cube) mengirim undangan launching pada awal Maret 2014, saya nggak serta-merta menyanggupi datang. Bukan apa-apa. Kondisi kesehatan saya belum 100% setelah Desember 2013 dan Februari 2014 sakit tifus.

Seminggu sebelum hari-H, barulah saya memutuskan akan datang ke acara tersebut. Insya Allah.


Ada yang mau foto bareng dengan saya? Mau book signing? *kedipcantik* Yuk ketemuan. :)


Baca Juga
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...