18 July 2014

Berkah Ramadhan, Terkabulnya Sebuah Doa

Berkah Ramadhan, Terkabulnya Sebuah Doa -- Bagi saya, Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda. Bukan karena kulit manggis sudah ada ekstraknya, bukan juga karena ada Piala Dunia. Karena ada Pilpres? Oooh...! Bukan juga.

Ramadhan kali ini berbeda karena bertepatan dengan masa pendaftaran siswa baru. Di Bandung masa Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) berlangsung pada tanggal 30 Juni - 5 Juli 2014.

Betuuul, pas hari-hari pertama berpuasa. Baru kali ini saya mengalami Ramadhan seperti ini. Lebih "seru" lagi, saya tak hanya harus mendaftarkan anak saya ke SMP, tapi juga mendaftarkan keponakan ke SMK.


Shalat Adalah Obat

Anak saya sudah jauh-jauh hari mengincar SMP 8 atau SMP 17 Bandung.  Eeh... ternyata dalam peraturan PPDB yang baru, kelurahan saya tidak mendapat insentif ke dua SMP tersebut. Bisa saja mendaftar ke SMP itu (tapi hanya salah satu, karena satu lagi harus yang terdekat dengan rumah) tapi tanpa insentif. Artinya, peluangnya akan lebih berat meskipun nilai UN-nya 27,65.

Ketika formulir pendaftaran dimasukkan ke SMP 17 pada tanggal 4 Juli, passing grade (PG) di sana sementara sudah menunjukkan angka 26,51. Bismillah. Maju terus pantang mundur. Ikhtiar saja dulu. Toh PG si Kakak masih di atas itu.






Selama masa PPDB itu, setiap jam saya memantau pergerakan PG di situs PPDB. Deg-degan luar biasa. Murotal ayat-ayat suci Al-Qur'an dari laptop untunglah bisa mengendalikan rasa deg-degan yang mulai menjurus pada stres itu. Shalat hajat sebelum sahur dan shalat dhuha pun menjadi obat. Bukankah Ramadhan adalah bulan suci, bulan penuh barokah, dan merupakan waktu mustajab terkabulnya doa?

"Ya Allah, jika bersekolah di SMP 17 itu baik bagi anak hamba, mudahkanlah. Jika bersekolah di SMP 17 itu akan menjadikannya lebih pintar, lebih baik, dan lebih saleha, bantulah ia. Jika bersekolah di SMP 17 itu baik bagi masa depannya, bagi pergaulannya, bagi agamanya, bagi dunia dan akhiratnya, lancarkanlah jalannya. Jika SMP 17 itu tidak baik baginya, Engkau Mahatahu yang terbaik. Jadikanlah kami ikhlas pada ketetapan-Mu...."

Begitu doa yang selalu saya panjatkan setiap selesai shalat, lengkap dengan tetesan air mata. Ya, saya memohon pada Allah. Merengek pada-Nya. Mengharapkan pertolongan dan perlindungan dari-Nya.

Hari ke-8 Ramadhan, saya terbangun karena suara panik anak saya. "Nggak bisa gitu! Nggak bisa gitu!"

Masih pukul dua dini hari. Biasanya saya baru mulai masak pada pukul 03.15 dan sahur pada pukul 04.00. Rupanya ia tak bisa tidur nyenyak. Akhirnya ia online dari hapenya, memantau pergerakan PPDB. Dini hari itu PG sementara sudah mencapai angka 27,60.

Puncak kehebohan terjadi sore harinya, ketika saya sedang sibuk dengan pekerjaan saya. PG sementara sudah melesat ke angka 27,66. Tetot! Anak saya tereliminasi.



Berkah Ramadhan

Namun, benar kata pepatah. Sebelum ajal, berpantang mati. Benar pula nasihat bijak, "Manusia berusaha, Allah yang menentukan". Sekitar 24 jam sebelum hasil PPDB diumumkan secara resmi, PG bergerak... turun! PG yang semula berada di angka 27,76 turun ke angka 27,51.



Status Facebook saya pada hari ke-11 Ramadhan
tentang PG yang bergerak turun


Seperti mimpi rasanya. Saya meluncur ke Twitter PPDB. Di sana ada penjelasan bahwa jika kuota untuk pendaftar dari luar kota, jalur prestasi, dan warga miskin tidak terpenuhi, maka sisa kuota akan dilimpahkan ke pendaftar dari jalur akademik. Itu sebabnya PG turun. Anak saya yang semula sudah berada di daftar calon siswa di SMP pilihan kedua pun otomatis naik lagi ke pilihan satu

Alhamdulillah. Berlebihankah jika saya katakan ini sebagai berkah Ramadhan?

Berakhir Indah

12 Ramadhan. Pengumuman resmi akan dilakukan pada pukul 14.00-16.00 WIB, serentak di semua sekolah. Sepuluh menit sebelum pukul dua siang, saya dan anak-anak (si bungsu saya bawa karena kali ini nggak ada yang bisa dititipi untuk menjaganya) sudah stand by di SMP 17 di Arcamanik. Pukul 14.45 urusan di sana selesai dan langsung meluncur ke SMK 9 di Jl. Soekarno Hatta.

Selesai dengan urusan pengumuman ini, barulah kami pulang ke rumah di Ujung Berung. Ups, ternyata azan Magrib berkumandang jauh sebelum kami tiba di rumah. Jadilah hari ke-12 Ramadhan itu kami berbuka puasa di sebuah warung kecil di Pasar Gede Bage bersama para pedagang. Semua orang di warung ini berpenampilan kucel dan berwajah lelah (termasuk kami bertiga yang sudah pontang-panting dari sekolah ke sekolah). Namun, itu tak mengurangi nikmatnya berbuka puasa. Teh botol dan bala-bala hangat gopekan pun terasa sangat sedap.


Urusan PPDB telah selesai. Tahun ajaran baru sudah dimulai pada tanggal 14 Juli. Masya Allah, ternyata sudah hari ke-16 Ramadhan. Lembar-lembar Al-Qur'an yang saya baca selama Ramadhan ini masih jauh dari kata khatam. Tarawih pun kadang tertinggal saking lelahnya mengurus sekolah baru anak dan ponakan, plus mencari nafkah. Semoga Allah menilai jerih payah saya ini sebagai ibadah. Aamiin.

Mudik ke Solo? Duh, nggak kepikir! Tenaga dan dana sudah terkuras untuk keperluan pendaftaran ke sekolah baru dan tahun ajaran baru. Mudiknya diganti dengan liburan di bulan biasa aja, deh. Nabung tenaga dan nabung uang dulu. Sekarang, mumpung Ramadhan belum berakhir: buruan nabung pahala!


***

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...