10 July 2014

Satu Koridor Banyak Cerita


Alkisah, pada tahun 90-an, seorang ABG yang baru lulus SMP tiba di kota Bandung untuk melanjutkan sekolah.  Si ABG yang baru datang dari Medan itu pergi ke SMAN 3 Bandung dan mendaftar di sana.

Di sekolah yang terletak di Jl. Belitung No. 8 itu, si ABG kece mengalami love at the first sight. Pada kakak kelas yang ganteng? Oooh… bukan, Sodara-sodara! ABG kece itu jatuh cinta pada koridor sekolahnya!

Di mata dan pikiran si ABG absurd itu, koridor besar di gedung peninggalan Belanda itu sangat-sangat keren. Imajinasinya langsung mengembara ke mana-mana.

Beruntung banget, ABG berkacamata minus itu ditempatkan di kelas 1-11 yang terletak di sisi koridor, berseberangan dengan perpustakaan. Tiga kelas yang berada di koridor itu (kelas 1-9, 1-10, dan 1-11) dijuluki kelas akuarium karena kedua sisi panjangnya berjendela kaca besar-besar. Persis akuarium.


Dengan kelas mirip akuarium itu, dia bisa lirik-lirik cowok-cowok kece yang mondar-mandir di koridor utama itu. Yup, koridor itu memang sangat strategis. Kakak-kakas kelas dan sesama kelas 1 yang mau ke lab pasti melewati koridor itu dari kelas mereka di gedung lama. 

Foto diambil dari:
Di sebelah kiri koriodor adalah SMA 5, di sebelah kanan adalah SMA 3

Yang suka lewat di koridor itu nggak cuma anak-anak SMAN 3 tempat si ABG bertubuh kurus itu bersekolah, tapi juga anak-anak SMAN 5 Bandung. Betul banget! Dua sekolah top ini berlokasi di alamat yang sama, hanya dipisahkan (atau disatukan, ya?) oleh koridor panjang milik bersama.


Teenlit dan Unyu Forever
Sekian tahun kemudian, ABG itu menjadi seorang penulis. Kalo berani ngintip KTP-nya, bakal ketahuan kalo ABG yang waktu tiba di Bandung itu berlogat Medan banget, sekarang udah nggak ABG lagi. Tapi, dia dengan bangga mengatakan ada jiwa ABG terjebak dalam dirinya. Bahasa sederhananya, dia merasa tetap berjiwa ABG, nggak peduli apa kata KTP-nya.

Entah mana yang benar. Karena suka menulis novel teenlit makanya dia merasa unyu-unyu forever, atau karena merasa tetap ABG unyu makanya dia suka banget nulis novel teenlit.

Sebenernya sih dia nggak cuma nulis teenlit. Maklumlah, dia kan rada kemaruk. Semua dia tulis. Prinsipnya  “Kalo emang bisa, kenapa enggak?”. Tapi, dia paling nyaman menulis teenlit. Alasannya simpel banget. “Soalnya sesuai dengan usia gue, sih.”

Dia memang suka sekali menulis novel yang tokohnya anak-anak SMA. Koridor yang bikin dia jatuh cinta itu ada dalam beberapa karyanya, di antaranya novel Smile Aku Naksir Kamu (2012), Kayla Twitter Kemping (2013), Limit (2014), Dimensi (2014), dan serial Genk Kompor.


Sudah kenal dengan penulis absurd yang suka banget pada koridor itu, kan? Yup. Saya. :D

Di novel ini ada adegan Kayla sedang duduk di pinggir koridor SMA 303 Bandung,
membaca rentetan tweet Dion yang bikin dia deg-degan.


Di novel ini ada adegan Sofie ngelirik-lirik si kece Juan
yang sering ngelewatin koridor di depan kelas X-8 SMA Tunas Mandiri Bandung.

Kalau di novel Limit ini, koridor SMA 79 Bandung jadi tempat buat Keala
bertemu Eizel, kakak kelasnya.

Kalau di novel ini, koridor SMA 215 Bandung jadi tempat pertemuan Zhafira 
dengan seseorang yang berasal dari awal abad 20.

Di serial Genk Kompor ini, ada Eno yang hobi banget mondar-mandir
di koridor SMA 1006 Jakarta. Eno menganggap koridor sekolahnya itu adalah
tempat paling romantis dan imajinatif.  #ComingSoon: Genk Kompor 3.

***



 
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...