27 January 2015

Pengalaman Mengedit Cerita Horor (1)

Ketika membaca novel horor, saya sering bertanya-tanya dalam hati. Itu editornya takut nggak, ya, ngedit naskah seram begitu? Kan bacanya nggak cuma sekali. Apa si editor itu pernah mengalami yang saya alami?

Yup, jauh sebelum menulis noomic Cermin dan The Shy, saya pernah mengedit sebuah naskah horor hasil proyek antologi yang diadakan oleh Indie Publishing. Scary Moments. Semula keterlibatan saya di sana adalah sebagai peserta yang lolos audisi pada tahun 2010.

Hasil audisi itu lama tak terdengar kabarnya. Saya juga nggak nanya-nanya karena sepengalaman saya menulis di berbagai penerbit, memang butuh waktu cukup lama hingga sebuah buku bisa terbit.


Dicari: Editor Pemberani

Suatu hari di bulan Maret 2011. Status Dani Ardiansyah--pemilik Indie Publishing--membuat saya mengerutkan kening. "Dicari editor pemberani untuk mengedit kisah-kisah seram hasil audisi Scary Moments. Editor sebelumnya ketakutan dan menyerah karena selalu bermimpi buruk."


Scary Moments. Tulisan saya juga lolos audisi. Jadi, tidak ada editornya? Kalau begitu, kapan terbitnya?

Iseng saya mengomentari status itu. Dari berbalas komen, akhirnya 100 naskah seram itu meluncur ke e-mail saya. Saya buka. Wah, benar. Baru beberapa halaman awal yang diedit. Kata-kata kuntilanak, pocong, darah, jin, dan arwah gentayangan muncul berkali-kali sejak halaman pertama.

Merindingkah saya? Ya. Pada dasarnya saya penakut. Apalagi suasana di rumah juga cukup mendukung. Tidak berlebihan jika di Komat-Kamit Penerbit, Indie Publishing menulis, "...environment mistis yang secara alami memang sudah 'akrab' dengan editor, bahkan sebelum naskah ini ia tangani."

Bismillah. Niat saya baik. Saya tidak ingin buku ini terkatung-katung terlalu lama. Ada seratus orang (termasuk saya) yang menitipkan naskahnya di sini. Saya tahu, kita tak hidup sendiri di dunia ini. Ada "mereka" yang berbeda dimensi. Kita berbagi tempat dengan mereka.



Diganggu!
Saya mulai mengedit. Biasanya saya bekerja mulai pukul satu dini hari. Khusus naskah ini, saya bekerja mulai pukul delapan pagi hingga setengah jam menjelang Maghrib di ruang tamu atau di teras. Dengan catatan: rumah tidak dalam keadaan sepi!

Sebelum tidur, saya membuka naskah lain. Kebetulan saat itu saya dan lima teman dekat (Nando, Abe, Erin, Deny, dan Sandi) sedang menggarap serial Genk Kompor yang termasuk kategori lucu. Bagi saya, serial kocak ini menjadi "pencuci otak" yang ampuh supaya cerita-cerita seram di Scary Moments itu tak terbawa ke alam mimpi.


Alhamdulillah, mimpi buruk itu tak datang. Namun, bukan berarti tak ada gangguan. Dua kali sosok putih berkelebat menembus pintu di dekat tempat saya biasa duduk. Laptop yang saya tinggalkan dalam keadaan mati dan tertutup, tiba-tiba terbuka. "Sesuatu" sedang asyik nge-game di sana. Lalu sebuah suara tanpa wujud menyapa halus di dekat saya, "Assalamu'alaikum."

Aiiih! Kabuuur! Eh, tapi mau kabur ke mana, yak? Apa boleh kabur ke hatimu? :D


 ***

Setelah Scary Moments (yang terbit menjadi Scary Moments 1 dan Scary Moments 2), saya masih beberapa kali lagi mengedit naskah horor di penerbit yang berbeda. Daaan...formula saya tetap sama: kerjakan pada siang hari saat rumah sedang ramai. Hehehe...biarin, deh, dibilang penakut juga.

Karena tahu "perjuangan tak biasa" ketika mengedit naskah horor, saya kasih empat jempol buat novel-novel horor yang ceritanya keren dan minim typo. Penulis dan editornya pasti sama-sama pemberani.


Scary Moments 2



Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...