13 February 2015

Googling Nama Sendiri


Kadang-kadang, saya nyari nama saya sendiri di Google. Biasanya kalau sedang senggang, iseng, dan koneksi internet lancar. Narsis? Hehehe... nggak segitunya, sih. Awalnya benar-benar cuma karena iseng yang terkontaminasi virus kepo. Apa, sih, yang diomongin tentang saya di dunia maya?


Yang Saya Dapatkan
Ternyata, keisengan saya googling nama sendiri itu memberikan banyak hasil yang menyenangkan. Nggak percaya? Nih temuan saya.

1. Buku saya ada dalam daftar koleksi perpustakaan-perpustakaan.

Oh, so sweet.... Ternyata, yang mengoleksi buku-buku saya bukan hanya perpustakaan-perpustakaan di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Alhamdulillah. Senangnyaaa.

  
Buku-buku saya di perpustakaan.
Atas: Buku 100 Masjid Terindah di Indonesia (buku editan) di Perpustakaan Wailalak University Thailand.
Bawah: Dari Do It Menjadi Duit (sebagai co-writer Ibu Yanty Isa) di Perpustakaan Kab, Luwu Timur.


2.Buku saya dijadikan bahan penelitian skripsi.
Speechless rasanya. Ada mahasiswa dari berbagai kampus yang menghubungi saya, mengatakan sedang meneliti novel saya untuk skripsi mereka. Tapi ada juga yang nggak bilang-bilang. Tahu-tahu saya menemukan versi digitalnya. Langsung saya unduh, dong. Woooow, ini masukan berharga. Sayang banget kalau saya sampai nggak punya dokumentasinya. Selain skripsi, ada juga yang menjadikan novel-novel saya sebagai bahasan dalam makalah. 

Novel saya yang paling sering dijadikan bahan penelitian untuk skripsi adalah Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya. Ternyata kisah tentang anak yang mengalami KDRT ini berhasil menyita perhatian. Semoga nanti ada produser film yang naksir novel ini juga. Ehm.

Aduh, ini bukan saya nggak pakai kerudung. Ini Asty Ananta, satu dari dua seleb yang mengendors novel
Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya. (satu seleb lagi adalah Shahnaz Haque-Ramadhan)

 
Yang saya tahu, ada juga yang meneliti novel pertama saya, Bukan Jilbab Semusim, dan novel Kayla Twitter Kemping.



    
3. Buku saya diresensi atau sekadar dikomentari.
Beberapa blogger suka menautkan link resensinya itu ke Twitter atau Facebook saya. Tapi ada juga yang tidak. Rasanya surprise saja melihat buku saya diresensi oleh pembaca yang sama sekali tidak saya kenal.

Resensinya macam-macam. Ada yang informatif, ada yang berpegang pada prinsip keseimbangan, ada yang berfokus pada kekurangan, ada yang spoiler alias membocorkan poin-poin penting dalam buku, ada yang totally meringkas, ada yang malah banyakan curhatnya, ada yang... yeah, macem-macem, deh.

Resensi-resensi temuan itu saya kopas ke blog ini (tapi nggak semua. Yang spoiler ya enggak, lah). Tentu saja dengan mencantumkan link ke blog asalnya. Bukan apa-apa. Dulu-dulu sih saya cuma baca, berterima kasih, lalu menyebarkan link itu. Udah, gitu aja. Ternyata... di kemudian hari beberapa link itu nggak bisa dibuka lagi. Haduuuh... nyesel rasanya.


4. Banyak toko buku online yang menjual buku saya.
Ayooo... yang males ke toko buku karena macet atau tinggal jauh dari toko buku, bisa beli online lho. Tinggal pilih mau toko buku online mana yang paling sreg di hati.


www.pengenbuku.net dan www.belbuk.com, salah dua toko online yang menjual buku-bukuku.

5. Tahu berapa banyak orang yang namanya mirip-mirip dengan saya.
Hehehe... rupanya nama saya bukan nama yang sangat unik. Banyak yang mirip-mirip dengan saya. Ternyata banyak juga remaja yang bernama Triani (atau Triany) dan Retno. Ehm, berarti nama saya nggak jadul-jadul amat, kan? Hehehe....

"Nama kembar yang tertukar" yang sering saya temukan adalah seorang akademisi dan politisi bernama Retno Triani Johan, yang masih terhitung cucu Bung Karno. Nama boleh mirip banget, tapi jenis tulisan seperti bumi dan langit. Aih, seru kali, ya, kalau suatu waktu kami bertemu di dunia nyata. Lain kalau saya googling nama pena saya, Teera. Biasanya yang muncul nama-nama orang dari luar Indonesia. 

6. Didokumentasikan.
Beberapa tahun lalu saya pernah menemukan cerpen saya yang dimuat di koran (Tribun Jabar) kemudian diketik ulang oleh seseorang dan dimasukkan ke web (tentu tetap dengan mencantumkan nama saya) bersama cerpen-cerpen yang dinilai bermuatan sastra. Cuma, yaaa, itu dia. Ketika itu saya nggak terpikir untuk me-screen shoot, menyimpan link postingan itu, atau mengkopas isinya.



Mau Googling Juga?
Gimana, mau mencoba googling nama sendiri juga? Kalem aja. Nggak bakal dibilang narsis, kok. 

Efeknya? Bisa menumbuhkan lagi semangat menulis yang sedang redup, juga bisa menumbuhkan self esteem positif. Efek sampingnya, bisa agak-agak gimanaaa gitu kalo pas nemu postingan yang melulu menyoroti kekurangan karya kita, bahkan sampai ke aspek yang nggak relevan. Hehehe.... Tapi kalem aja. Nggak usah sampai berpikiran akan meninggalkan dunia persilatan kata-kata.

***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...