18 February 2015

Ngapain Self Editing? Kan Ada Editor?

www.trianiretno.com - "Idiiih...! Ngapain self editing? Kan ada editor! Ngerepotin aja. Penulis, ya, nulis aja. Soal ngedit, biar nanti editor aja yang ngerjain edit-mengedit itu."

Punya pikiran seperti itu? Kalau ya, lebih baik cepat-cepat buang pikiran itu. Memang, di majalah, tabloid, koran, atau penerbit pasti ada editor. Salah satu tugasnya adalah mengedit naskah yang masuk (ya iyalah, masa jualan bakso?).

Naaah...! Kaaan...! Bakal diedit sama editor, kan? Jadi ngapain self editing?

Hei! Tunggu dulu...! Nggak semua naskah yang masuk diedit oleh editor. Naskah yang diedit, ya, yang udah lolos seleksi aja. Yang nggak lolos seleksi, ngapain diedit?


Kira-kira nih, ya, kalau ada dua naskah di depan kita. Yang pertama: rapi dan bersih, huruf besar dan kecil dipakai di tempat semestinya, tanda baca diletakkan sesuai dengan yang seharusnya, penuturannya pun enak dibaca.

Yang kedua: menggunakan huruf besar dan kecil yang acak-acakan, walaupun belum sampai masuk kelompok alay. Tanda baca dan paragraf ditabrak begitu saja. Kalimatnya muter-muter nggak jelas seperti benang kusut.


Kira-kira, mana yang mau kita baca duluan? Pasti yang pertama, kan? Pasti sudah males banget, deh, baca naskah yang kedua. Itu kalau cuma dua. Gimana kalau naskah yang harus dibaca ada 100, 500, 1.000, 2.000, 3.000, atau lebih banyak lagi?


Kalau hanya ada satu-dua kesalahan, wajar, deh. Kalau di keseluruhan naskah? Please, deh. Itu baru soal huruf dan tanda baca. Belum yang lain-lain.

Singkatnya, nih, kalau penulis saja tidak mau peduli pada tulisannya sendiri, untuk apa editor harus peduli? Penulis tetap nggak mau peduli? Tanggung risikonya sendiri, deh.
 

Ketika Penulis Tak Peduli


Saya pernah menemukan kasus seorang penulis yang tidak mau mengedit naskahnya. Memang naskah itu sudah dipastikan lolos karena merupakan bagian dari sebuah proyek tapi bukan berarti bisa menulis seenaknya. 


Sayangnya, si penulis tak mau mengedit tulisannya. Huruf besar kecil dan tanda baca yang tampak sepele ternyata membawa masalah karena terjadi di sepanjang puluhan lembar naskahnya.

Saya tahu persis karena naskah itu kemudian "dilempar" pada saya dengan pesan, "Selamat berjuang ya, Mbak."

Ucil dan Cing Cing aja mau belajar self editing. Masa kamu enggak? :D

Editan itu berstatis ASAP (as soon as possible) alias harus segera selesai. Jadi, selama 12 jam saya benar-benar "berjuang" mengedit naskah itu. Lewat jam delapan malam saya sudah mulai hang sampai-sampai saya tidak tahu lagi mana penulisan yang benar: MPR/DPR atau DPR/MPR. Dua-duanya terlihat begitu benar. Dua-duanya terlihat begitu salah.

Beberapa menit menjelang tengah malam, naskah itu selesai saya edit dan saya kirim kembali kepada pemberi order. Setelah itu saya tidur dan tidak menyentuh komputer hingga 36 jam berikutnya. Mabuk darat, laut, dan udara!
Bagaimana nasib penulis yang naskahnya saya edit itu? Apa boleh buat. Ia harus merelakan honornya dipotong sekitar 25%. Duuh...! Memangnya enak?


Minimalkan Kesalahan

Naskah kita sangat mungkin tidak 100% bersih dari kesalahan ketik. Namun, setidaknya bisa kita minimalkan, deh. Buka-buka lagi buku pelajaran Bahasa Indonesia semasa SD, SMP, SMA. Atau buka buku pedoman umum EYD dan dasar pembentukan istilah. Kalau nggak punya buku ini, googling aja (cari sumber yang kredibel, ya).

Pelajari lagi bagaimana menulis kalimat langsung, bagaimana penggunaan tanda baca, dan sebagainya. Nggak ada ruginya, kok.


Kalau naskah sudah bersih dari kesalahan seperti itu, apa naskah pasti akan di-acc?

Hehe... nggak juga. Banyak pertimbangan yang menentukan sebuah naskah di-acc atau ditolak. Misalnya tema, jalan cerita, dan potensi pasar. Tapi setidaknya kita telah mengusahakan yang terbaik.

Yuk, kita buang kebiasaan malas mengedit tulisan sendiri.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...