26 October 2015

Bijak Mengelola Keuangan



Alkisah, pada tahun 1999 seorang perempuan muda terpikat dengan sebuah buku tentang perencanaan keuangan, khususnya untuk pendidikan anak. Penulisnya masih muda, ganteng, dan terlihat cerdas.
Perempuan muda yang baru setahun tinggal dan bekerja di Jakarta itu berniat melakukan perencanaan seperti yang dibahas si penulis buku itu meski pusing melihat hitungannya. 

Niat tinggal niat. Setelah menikah dan mempunyai anak, rencana itu tak kunjung dapat diaplikasikan. Ada saja kendalanya.
Setelah sempat tenggelam bersama rumah tangganya yang hancur dan aset-asetnya yang melayang kabur, perempuan itu bangkit. Lebih-lebih karena ada dua anak yang menjadi tanggung jawabnya.
Berbekal tekad untuk menggapai masa depan yang lebih baik, perempuan itu mulai belajar bijak mengelola keuangannya yang tak seberapa. Yang dilakukannya pertama kali adalah membuat tabungan pendidikan.

Tahun Berlalu…

Tahun terus berlalu. Perempuan itu menekuni pekerjaannya sebagai penulis dan editor freelance, serta menjalankan usaha toko buku online.
Suatu siang di minggu ketiga bulan September, sebuah notifikasi muncul di Facebook perempuan itu. Undangan dari sebuah komunitas untuk hadir di acara jumpa blogger. Acara itu diadakan di Mozaik and Co Restaurant, Trans Studio Mal Bandung pada tanggal 3 Oktober 2015.
Perempuan itu sempat ragu sejenak ketika melihat tanggal acara. Ia ada pekerjaan di luar kota hingga tanggal 1 Oktober. Kalau tanggal 3 ikut acara yang diselenggarakan oleh PT Sun Life Financial Indonesia ini, apa si bungsu tidak akan ngambek karena ditinggal-tinggal terus? 

Namun, tema yang akan dibahas dalam acara itu sungguh menarik minatnya: "Yuk Kelola Keuangan dengan Bijak". Nama narasumber yang tercantum di sana membuat perempuan itu tak sanggup mengucapkan kata tidak. Si narasumber adalah penulis buku yang dibacanya tahun 1999. Safir Senduk.


Banner Jumpa Blogger Sun Life.




Orang yang Paling Kaya

Tepat pukul 12.00, perempuan itu tiba di Mozaik & Co Restaurant. Ia tak datang sendiri. Si bungsu yang masih kangen, ikut bersamanya. Tentu saja dengan segunung janji bahwa selama acara berlangsung ia akan bersikap manis, tidak nakal, tidak rewel, tidak berulah macam-macam. Meski begitu, perempuan itu tetap bersikap antisipatif. Ia memilih kursi di bagian tengah pinggir dekat tangga untuk memudahkan mobilitasnya.
Belajar mengelola keuangan sambil momong anak :D

Acara dimulai setelah makan siang bersama. Ibu Elin Waty, Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia, memperkenalkan Sun Life pada para blogger. Ternyata, Sun Life sudah berusia 1,5 abad. Tepatnya, Sun Life lahir di Kanada tahun 1865. Di Indonesia sendiri, Sun Life sudah eksis sejak tahun 1995.

Beragam prestasi  ditorehkan oleh PT Sun Life Financial Indonesia. Di antaranya adalah Top 2 Asuransi Jiwa Kategori Asset Rp 5-15 Triliun dalam ajang Insurance Consumer Choice Awards 2015 dan Best Family Takaful Provider Indonesia 2015 dalam ajang Global Banking and Finance Review Awards.
Selain itu, per Juni 2015 tingkat Risk Based Capital (RBC) PT Sun Life Financial Indonesia pun jauh di atas batas minimal yang ditentukan oleh pemerintah, yaitu 664% (konvensial, ketentuan pemerintah 120%) dan 120% (syariah, ketentuan pemerintah 30%).
Omong-omong tentang syariah, Sun Life Financial Indonesia memiliki empat produk syariah, yaitu Asuransi Brilliance Hasanah Fortune Plus, Asuransi Brilliance Amanah, Brilliance Hasanah Sejahtera, dan Brilliance Hasanah Protection Plus.

Ibu Elin Waty, Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia.


Setelah Ibu Elin Waty, giliran Safir Senduk berbagi ilmu tentang pengelolaan keuangan. Sang perencana keuangan yang siang itu mengenakan kemeja pink, langsung membetot perhatian hadirin. Begitu energik dan komunikatif.
Tanpa banyak basa-basi, Safir Senduk mengajukan satu pertanyaan: “Siapa yang paling kaya, karyawan, profesional, atau pengusaha?”
Beberapa peserta memberikan jawaban yang ditimpali dengan canda oleh Safir Sanduk. Ternyata, yang paling kaya bukanlah karyawan, profesional, atau pengusaha. Yang paling kaya adalah yang memiliki aset dan investasi paling banyak. Bisa jadi karyawan, bisa jadi profesional, bisa jadi pula pengusaha.

Safir Senduk berbagi ilmu tentang pengelolaan keuangan.
 

Mengelola Keuangan

Ada satu hal penting dalam mengelola keuangan, yaitu mengatur cashflow. Cashflow ini adalah arus keluar masuk uang dari penghasilan yang didapat. Tanpa pengelolaan yang benar, uang akan datang dan pergi begitu saja.
Dengan cepat dan seolah tak memberi kesempatan pada peserta untuk kehilangan fokus, Safir Senduk masuk ke pembahasan mengenai macam-macam cashflow.
  1. Miliki investasi sebanyak mungkin.
  2. Siapkan dana untuk masa depan.
  3. Atur pengeluaran.
Aha! Ini dia. Perempuan itu semakin serius mendengarkan.

Miliki Investasi Sebanyak Mungkin

Gaji besar. Siapa yang tak mau? Terbayang, dong, berbagai kesenangan yang bisa dirasakan dengan gaji besar itu. Namun ternyata, gaji besar tidak bisa diandalkan untuk hidup sejahtera. Yang lebih penting adalah aset yang dimiliki.
Jangan salah, loh. Gaji besar nggak otomatis berarti punya aset banyak dan investasi di mana-mana. Misalnya gaji 10 juta per bulan tapi pengeluaran untuk konsumsi juga 10 juta. Nah tuh, abis juga kan gajinya untuk memenuhi keinginan? Mana yang untuk aset dan investasi? Supaya bisa hidup sejahtera, minimal 10 persen dari penghasilan harus dialokasikan untuk investasi. Pertanyaannya sekarang, investasi apa yang bagus?
Nah ini! investasi apa? Perempuan itu semakin serius menyimak. Ia ingin tahu apakah pilihannya selama beberapa tahun ini sudah tepat. Ia sendiri sih merasa masih ada yang kurang. Bagaimana menurut Safir Senduk?
Menurut perencana keuangan yang memiliki sertifikasi CFP (Certified Financial Planner) ini, dalam investasi tidak ada yang bagus untuk semua orang karena tergantung pada karakter masing-masing. Perilaku berinvestasi orang yang dominan otak kanan juga berbeda loh dengan orang yang dominan otak kiri.
Doeeeng! Perempuan itu teringat kala ia membuka DPLK beberapa tahun lalu. Ketika itu ia diminta mengisi kuesioner untuk mengetahui tipe investor seperti apa dirinya dan investasi apa yang cocok untuknya. Hm… begitu rupanya. 


Alokasikan penghasilan untuk investasi.


Meski demikian, ada tiga jenis investasi dengan nilai plus yang lebih banyak daripada yang lain. 

Pertama, saham yaitu surat tanda kepemilikan pada perusahaan. Dengan berinvestasi saham berarti kita memiliki bisnis tanpa harus membangun dari awal dan tanpa terlibat di dalamnya. Keuntungan yang diperoleh dari investasi jenis ini ada dua macam: deviden dan capital gain (menjual dengan harga lebih tinggi).
Kedua, investasi melalui manajer investasi. Ada dua macam investasi jenis ini, yaitu reksadana dan unit link. Tidak perlu pusing memikirkan cara mengelolanya. Uang yang kita tanamkan di investasi jenis ini akan dikelola oleh pihak ketiga yang disebut dengan manajer investasi. Supaya aman, pilih manajer investasi yang memiliki reputasi baik, berprestasi, dan masa lalunya bagus.  PT Sun Life Financial Indonesia merupakan salah satu pemain dalam investasi jenis ini.
Ketiga, properti (rumah tinggal, apartemen, rumah susun, toko, kios). Akan lebih menguntungkan jika properti itu disewakan secara bulanan pada banyak penyewa. Bentuk yang paling bagus dari investasi jenis ini adalah rumah kos.
Huuuft... perempuan itu menarik napas panjang. Ia pernah ditawari berinvestasi saham tetapi menolak karena tidak paham. Investasi rumah kos? Wah, itu mimpinya. Ia rajin sekali mencari informasi tentang rumah kos. Sayang, statusnya sebagai penulis membuatnya sulit memperoleh KPR. Beli tunai? Huffft… yang terbeli baru gantungan kunci untuk kunci-kunci rumah kosnya nanti. Hehehe…. Penjelasan Safir Senduk ini membuat semangat perempuan itu berkobar lagi. Semangat untuk mewujudkan mimpinya memiliki rumah kos.
Satu hal yang mesti diwaspadai dalam berinvestasi ini adalah investasi bodong. Investasi seperti ini biasanya ditandai dengan bunga yang sangat tinggi, janji uang tunai setiap bulan, jaminan tidak akan rugi, bonus jika bisa mendapat anggota baru, dan skema yang mustahil.

Siapkan Dana Untuk Masa Depan

Masa depan bisa direncanakan dari sekarang. Salah satunya dengan mempersiapkan dana untuk pos-pos pengeluaran besar di masa depan.
Ada lima pos di masa depan yang harus disiapkan, yaitu menikah, rumah dan isinya, sekolah anak, pensiun, serta liburan.
Perempuan itu nyengir, merasa disentil. Selama ini ia belum pernah mengalokasikan dana untuk liburan. Untuuuung pas pembahasan ini jagoan ciliknya sedang asyik di ruang sebelah, duduk-duduk di vespa dan minum es teh manis. Selamaaat. Nggak ada bocah bawel yang langsung menuntut, “Kapan kita liburan, Mi?”

Atur Pengeluaran

Yang harus dijadikan pedoman utama di sini adalah jangan sampai pengeluaran melebihi yang semestinya. Kalau kata pepatah, sih, jangan sampai besar pasak daripada tiang.
Safir Senduk memberikan lima tip untuk mengatur pengeluaran ini.
  1. Ketahui di mana borosnya, lalu kurangi pelan-pelan. Laki-laki dan perempuan ternyata sama aja, loh, borosnya. Laki-laki tuh belanjanya jarang tapi sekali belanja… jebret! Habisnya besaaaar.
  2. Kendalikan keinginan. Ada tiga macam pengeluaran: wajib (jika tidak dibayar, akan ada sanksi/denda), butuh (jika tidak dibayar tidak ada sanksi tapi ada yang tak terpenuhi), dan ingin (naaah… ini tidak ada batasnya. Makanya harus dikendalikan).
  3. Lakukan prioritas pada pengeluaran. Persentasenya begini: maksimal 30% untuk membayar cicilan utang (tapi kalau ada cicilan properti, boleh sampai 40%), minimal 10% untuk tabungan dan investasi, maksimal 10% untuk premi asuransi (boleh lebih kalau ada unsur tabungannya), dan maksimal 50% untuk biaya hidup.
  4. Miliki asuransi. Asuransi ini seperti payung, tidak menjamin hujan tidak akan turun tapi menjamin kita tidak basah jika hujan turun.
  5. Hati-hati dengan sale! Hiyaaahhhhaaha… bener banget itu. Dan ajaibnya, di negara tercinta ini kok ya selaluuuuu aja ada sale. Midnight sale, year end sale, holiday sale, back to school sale… dan pisang sale, hihi…. Yang terakhir ini mah salah satu oleh-oleh khas Bandung.
Hati-hati dengan sale! :D

"Hidup itu indah. Yang bikin ribet itu tagihan-tagihannya."
~ Safir Senduk~



Berburu Tanda Tangan

Selesai presentasi dan tanya jawab, pendiri Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk dan Rekan ini pindah ke ruangan sebelah. Acara kembali dipegang oleh MC cantik, Wina Adimiharja. Tak mau membuang kesempatan, perempuan itu (bukan MC yang cantik jelita itu tentunya, hehe…) bergegas menyusul ke ruangan sebelah. Mau konsultasi lebih lanjut? Hehehe… maunya sih begitu.
Setelah bertemu, perempuan itu langsung menyodorkan buku berkaver biru yang dibelinya tahun 1999. Buku perdana sang perencana keuangan yang ketika itu masih berusia 25 tahun. Dengan ramah beliau menandatangani buku itu dan berbincang sejenak. Ups, hampir lupa. Foto bareng!

Akhirnya, ketemu langsung dengan Safir Senduk :)
 
Baru saja selesai berfoto, terdengar suara MC memanggil Safir Senduk untuk kembali ke pentas. Ada kuis, pembagian doorprize, plus pengumuman pemenang live tweet competition.
Perempuan itu tak mendapat satu hadiah pun. Namun, itu tak mengurangi kepuasannya. Puas karena mendapat sekarung ilmu dalam acara Jumpa Blogger yang diadakan oleh Sun Life Financial Indonesia. Perempuan itu adalah saya.
*** 

Update Desember 2015: Tulisan ini menjadi juara 1 Lomba Blog
Sun Life Financial Indonesia - Blogger Bandung 2015
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...