10 April 2016

Makanan Khas Aceh di Bandung



Siang itu, sepulang raker tiga hari di Hotel Ahadiat, saya memutuskan untuk mampir di Dapur Aceh. Tiba-tiba kangen makanan Aceh. Selain yaaa … emang perlu juga bawa oleh-oleh buat anak-anak setelah tiga hari saya tinggal. Kenapa makanan khas Aceh?

Gampang aja, sih. Saya suka makanan Aceh. Mungkin karena ketika kecil saya tinggal di Aceh, tepatnya di Banda Aceh. Jadilah saya perempuan Jawa kelahiran Bandung yang suka makanan Aceh. Yang saya paliiing suka itu adalah martabak Aceh, timphan, roti cane, dan bolu kering. Waktu kecil, sih, saya suka makan buah rumbia pakai pliek u + garam. Saya juga suka ngemil buah jamblang dan buah sentul.

Anak-anak juga  saya perkenalkan pada beberapa jenis makanan khas Aceh di Bandung dan mereka suka.


Makanan Aceh di Bandung

Di Bandung ada cukup banyak rumah makan atau warung makan khas Aceh. Yeaaah… nggak sebanyak rumah makan Padang, sih. Yang paling sering saya datangi adalah Dapur Aceh di Jl. Katamso (seberang PPI – Pusat Persenjataan Infanteri). Alasan sederhananya, sih, karena angkot yang sering saya tumpangi melewati jalan ini. 

Selain Dapur Aceh, saya juga suka ke Gampong Aceh di Dago. Nilai plus Gampong Aceh adalah tempatnya yang asik banget buat ngumpul. Strategis, tempatnya lapang, dan makanannya enak. Sayang, sekarang Gampong Aceh di Dago ini tinggal kenangan. Bangunannya pun sudah dirubuhkan. :( 

Bergeser dikit ke Buah Batu, di sana ada Cie Rasa Lom. Saya jarang ke sana. Atuh da jauh dari rumah.


Timphan, Kue Khas Aceh

Nah, ketika masuk ke Dapur Aceh siang itu, nggak pakai mikir saya langsung pesan tiga martabak Aceh untuk dibawa pulang. Setelah memesan martabak itu, saya langsung histeris *baiklah, itu lebay* ketika melihat timphan tertata rapi dalam sebuah box putih. Langsung saya membeli beberapa potong kue timphan untuk dibawa pulang. Emh… ada juga yang langsung saya makan di sana sembari menunggu martabak pesanan saya matang. 

Asal tahu saja, menemukan timphan tak semudah menemukan martabak Aceh atau mi Aceh. Di Bandung saya baru satu-dua kali menemukan rumah makan Aceh yang menjual kue khas ini. Di Jakarta saya pernah menemukannya di kawasan Pasar Minggu dan Blok M (tapi itu juga awal tahun 2000, ketika saya masih bekerja di Jakarta. Entah kalau sekarang).

Timphan, kue khas Aceh ini tidak selalu tersedia di warung makan atau rumah makan Aceh. Entah apa alasannya. Yang jelas, itu cukup menyedihkan bagi penggemar kue jajan pasar seperti saya. Di Dapur Aceh sendiri, sebungkus timphan dijual seharga Rp 2.500.

Kue khas Aceh yang saya kangeni itu berbahan dasar tepung ketan, pisang raja yang sudah matang, santan kental, dan gula. Untuk bagian isi, biasanya kelapa parut (bukan parutan kelapa, ya :D) dicampur gula pasir dan telur. 

Yang paling enak adalah jika kelapa parutnya masih muda (bukan kelapa tua yang biasa diparut untuk diambil santannya). Ada juga yang menggunakan nangka matang atau durian untuk campuran isi. Yang pasti aromanya jadi semriwing dan rasanya legit banget. Daun pisang pembungkusnya adalah daun pucuk yang masih berwarna hijau muda (bukan daun pisang berwarna hijau tua seperti yang biasa dipakai untuk membuat lontong, pepes, atau lepet). 

Timphan yang saya beli di Dapur Aceh siang itu hanya berisi kelapa parut (yang tidak terlalu muda) manis. Jadi lebih mirip unti pada kue-kue basah di tanah Jawa ini. Sedikit di bawah ekspektasi saya yang pernah satu dekade menetap di Tanah Rencong. Tapi kata putri saya yang kelahiran Bandung, sih, rasa timphan itu enak banget. Hehe … mungkin sudah ada penyesuaian dengan selera lokal, ya.
 
Timphan, si kue basah khas Aceh.

Timphan isi kelapa parut yang manis.

Meski begitu, cukuplah untuk mengobati rasa kangen saya pada kue khas Aceh yang satu itu. Lagi pula, martabak Aceh plus acar bawang di Dapur Aceh ini masih juara. 

Tertarik untuk mencicipi kue khas Aceh ini? Tak perlu jauh-jauh ke Aceh. Timphan juga di Bandung. Namun, kalau kebetulan sedang berkunjung ke Aceh, tak ada salahnya untuk mencicipi si manis legit ini langsung di daerah asalnya.

Rute Angkot

Kalau kamu angkoters, berikut panduan untuk mencapai Dapur Aceh milik Bang Faisal yang terletak di Jl. Katamso, Bandung, ini.
  •  Angkot yang lewat tepat di depan Dapur Aceh ini adalah angkot Cicaheum – Ledeng dan Ledeng Cicaheum; angkot Sadang Serang – St. Hall dan St. Hall -  Sadang Serang; angkot  Cicaheum – Kebon Kelapa via Binong dan angkot Kebon Kelapa – Cicaheum via Binong; angkot  Cicaheum – Kebon Kelapa via Aceh dan angkot Kebon Kelapa – Cicaheum via Aceh.
  • Dari arah Margahayu, naik angkot Margahayu – Ledeng. Turun di SMP 14. Sambung naik angkot Kebon Kelapa – Cicaheum via Binong (yang arah ke Cicaheum). Cuma sebentar naik angkotnya. Kalau mau jalan kaki juga boleh.
  • Dari arah Ciwastra (Buah Batu), naik angkot Ciwastra – Cicaheum. Turun di pertigaan Jln. Supratman – Jln. Katamso (depan PPI). Dari situ nyeberang, deh. Kalau berjalan kaki paling sekitar lima menit.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...