20 March 2017

Untuk Kamu yang Ingin Jadi Penulis Novel


Penulis Novel

Jadi Penulis Novel 

Kamu ingin jadi penulis novel? Saya nggak akan nanya kenapa kamu ingin jadi penulis novel (eh tapi boleh juga sih kalau kamu mau cerita kenapa punya keinginan seperti itu). 

Saya cuma ingin kamu tahu kenyataan ini. Kenyataan bahwa hidup tak seindah drama Korea.


Pengkhayal Tingkat Tinggi

Penulis novel sering dianggap sebagai pengkhayal. Tukang ngayal. Kalau ada teman kita yang ngomong nggak sesuai fakta, pernah nggak kasih komen, “Ngarang lo!” :D Nah, gitu juga dengan menulis novel.


Menulis novel dianggap cuma butuh kemampuan ngayal, lalu menuliskannya. “Ah, nulis novel kan gampang. Tinggal ngayal. Nggak perlu riset seperti bikin artikel ilmiah. Gue mesti baca banyak buku nih buat nulis satu artikel doang.”

Inhale.. exhale… inhale… exhale…. Bagus, Bu. Jangan mengejan dulu.

Hm… iya, sih. Ada yang seperti itu. Tapi ada juga yang TIDAK seperti itu. Sinta Yudisiasepengetahuan sayaadalah salah satu penulis yang rajin melakukan riset untuk novel-novelnya. Untuk novel Existere saja ia melakukan riset (literatur dan riset lapangan) selama 2,5 tahun.

Boleh narsis dikit, kan?  Saya riset (literatur) selama setahun plus konsultasi dengan psikolog untuk menulis novel Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya (terakhir cetak ulang tahun 2013).

Semua Dianggap Kisah Pribadimu

“Novel XYZ itu kisah Kakak sendiri, ya?”

Siap-siap aja dapat pertanyaan seperti itu. Faktanya, memang ada kok penulis novel yang menuliskan kisah hidupnya sendiri. Eung… ada atau banyak, ya? Hehe…. Tapi ada juga yang BUKAN menuliskan kisah hidupnya. Dia menulis novel berdasarkan observasi, riset, dan kontemplasi atas realitas.

Nggak salah sih pembaca nanya gitu. Nggak salah juga penulis novel menuliskan pengalaman hidupnya sendiri. 

Penulis sekelas J.K Rowling saja memasukkan pengalaman pribadinya ke novel serial Harry Potter. Bedanya, Rowling meramu ceritanya dengan banyak bumbu. Well, ada yang tahu bagian mana dari Harry Potter yang berangkat dari kisah hidup pribadi Rowling?




Karyamu Disebut Picisan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada beberapa arti “picisan”. Salah satunya adalah “bermutu rendah”. Jadi, novel picisan = novel bermutu rendah.

Sebagian kalangan menganggap novel selain karya sastra para pujangga besar adalah novel picisan. Novel teenlit, chicklit, dan sejenisnya kerap dipukul rata sebagai novel picisan.

Sabar, ya, Kakak :)

Tak Kompeten Membahas Tema Aktual

Penulis novel sering dianggap tak kompeten membahas tema-tema aktual ( di luar masalah kepenulisan). Sedikit saja bahasannya nggak sesuai dengan pandangan kaum tertentu, langsung deh diserbu hujatan. 

“Udah, nulis novel aja sana! Nggak usah sok-sokan ngebahas politik!”
“Ngapain penulis novel ngebahas masalah kesehatan? Hei helooo! Ini bukan novel!”

Padahal, nggak sedikit lho penulis novel yang punya profesi lain dan kompeten di bidang itu. Dari latar belakang pendidikan pun, nggak sedikit yang dari lulusan fakultas teknik, psikologi, komunikasi, kedokteran, hukum, biologi, matematika, dan sebagainya.

Ngapain Beli Novel!

“Ngapain beli novel? Cuma buang duit!”
“Ngapain baca novel? Wasting time banget!”
“Baca buku tuh yang bermutu, bukan baca novel!”
“Ngapain beli novel? Mending beli baju aja.”

Saya sering mendengar dan membaca komentar seperti itu. Pernah juga melihat seorang anak dimarahi ibunya karena minta dibelikan novel. Kata si ibu, mendingan beli baju aja biar kelihatan cantik.

Sejatinya, novel memiliki fungsi rekreatif, didaktif, religius, moralitas, dan estetis.1  Selain itu, sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Brain Connectivity menyebutkan bahwa membaca novel dapat meningkatkan kerja otak.

Penulis Novel


Masih berkeinginan menjadi penulis novel? Bagus! Sekarang kita mulai membaca, melakukan riset, mengasah empati dan kepekaan rasa, menulis yang terbaik. Ayo kita menuliskan kebaikan.

Terima kasih sudah membaca tulisan yang sarat dengan aroma sate padang curhat ini.



Catatan

1 Agustien S, Sri Mulyono, dan Sulistiono seperti dikutip oleh Andri Wicaksono,M.Pd., dalam buku Pengkajian Prosa Fiksi (Penerbit Garudhawaca, 2014).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...