29 November 2017

Menulis Novel Tentang Pengalaman Hidup



Menulis Novel Tentang Pengalaman HidupBeberapa hari lalu saya menulis status mengenai menulis novel dari pengalaman hidup sendiri di media sosial saya. Saya hanya ingin tahu, kenapa sih banyak orang ingin menovelkan kisah hidup mereka. 

Ternyata, ada beberapa alasan yang (mungkin) membuat seseorang berkeinginan menovelkan pengalaman hidupnya.


Menuliskan Pengalaman Hidup Karena…

  1. Paling inspiratif, paling menderita, paling memilukan, paling unik, dan paling-paling lainnya.
  2. Pengalaman hidup tiap orang berbeda.
  3. Berharap pengalaman hidupnya bisa menjadi bahan perenungan dan pelajaran bagi orang lain.
  4.  Kenang-kenangan buat anak cucu.
  5.  Pengalaman hidup adalah ide yang paling mudah didapat dan mudah digarap karena telah mengalaminya sendiri.
  6. Gagal move on dari cinta yang lalu *uhuks*
  7. Terapi.

Menulislah, Karena Usia Kita Terlalu Pendek

Bagi saya, sah-sah saja kalau ingin menuliskan pengalaman hidup sendiri menjadi sebuah novel. 

Saya sendiri berpaham bahwa usia kita terlalu pendek untuk mengalami semua hal yang mungkin terjadi dalam kehidupan. 

Dalam usia kita yang hanya sekitar 70 tahun, kita tidak bisa menjadi atlet panjat tebing yang juga pendaki gunung yang tersesat, sekaligus menjadi penderita penyakit langka, orang paling sehat di dunia, pengusaha yang 30 kali gagal baru kemudian sukses, guru di pedalaman Zimbabwe, dokter ahli anastesi, konselor pecandu narkoba, koki di kapal pesiar, pelatih lumba-lumba, menikah dengan cinta pertama, menikah karena dijodohkan, punya anak kembar identik lima orang, merasa sedih karena tak kunjung hamil, dan sebagainya.

Namun, kita bisa ikut mengalaminya dengan membaca pengalaman orang lain.

Mengapa Tidak Menuliskannya Sendiri?

Jika menurut kita pengalaman hidup itu memang pantas dinovelkan―apa pun alasannya―mengapa tidak menuliskannya sendiri?

Saya pernah mengedit naskah novel seorang ibu sepuh. Novel itu akan diterbitkannya sendiri dalam jumlah terbatas. Katanya, itu kenang-kenangan buat anak cucunya. 

Menulis Novel Tentang Pengalaman Hidup
Menulislah jika tidak ingin dilupakan.


Selain lebih puas, ada keuntungan lain yang kita dapatkan jika menuliskannya sendiri. Perasaan lega.  Lega karena unek-unek di hati sudah tertuang. Rasa takut, sedih, marah, gembira, bahagia, cemas…, bisa dituangkan dalam tulisan. 

Tidak bisa menulis?  Bisa dipelajari, kok. Biayanya juga terjangkau. 

Memang, menulis sendiri (apalagi baru memulai dari tahap belajar) tidak semudah meminta orang lain menuliskannya untuk kita. Ada usaha yang harus kita keluarkan. Ada waktu yang harus kita sediakan. Namun, ada kepuasan tak ternilai dalam setiap prosesnya.

Yuk, belajar menulis.

Menulis Novel Tentang Pengalaman Hidup
Kelas menulis online.



Salam,
Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...