Jadi Co-Writer Saya, Dong

jasa co-writer

"Mbak, jadi co-writer saya, dong. Saya mau sekalian belajar nulis buku."

"Mbak, jadi co-writer saya, ya. Nanti royalti bagi dua aja. Kan Mbak udah kenal banyak penerbit, nanti pasti gampang masukin naskah. Kalau sama Mbak pasti bagus, kan sekalian dengan self editing."

   

Co-Writer Tidak Gratis

Saya beberapa kali mendapat permintaan seperti itu. Tapi tak jarang setelah beberapa kali obrol-obrol, orang-orang itu menghilang. Mungkin karena sedang sangat sibuk, mungkin juga karena kesal pada saya.

Saya bukannya tidak mau jadi co-writer (CW). Jadi ghostwriter (GW) pun saya mau. Tapi untuk menjadi ghostwriter dan co-writer ini saya memilih dibayar tunai. Pakai uang, tentu saja, bukan pakai daun kering atau sate seratus tusuk. 

Astaga! Itu becandaan jadul dari penonton film horor zaman baheula. "Baaang... sate seratus tusuuuk, Baaaang...." Yakinlah, GW itu manusia biasa yang punya skill menulis, bukan pemesan sate yang ternyata berpunggung bolong.

"Oh, mesti bayar ya, Mbak? Kira-kira bisa lima ratus ribu nggak?"

Satu buku? Lima ratus ribu? Terus terang, jawaban saya adalah, "Tidak bisa." Bagi saya menulis bukan sekadar hobi tetapi juga sebuah profesi. Sudah selayaknya profesi sebagai penulis buku itu dihargai secara pantas, kan? 

Menulis membutuhkan keseriusan, ketekunan, keterampilan. Menulis juga membutuhkan waktu, tenaga, dan modal. Butuh berpikir, butuh riset, butuh membaca. Yes, menulis membutuhkan modal. Siapa Bilang Menulis Tudak Butuh Modal?

buku keajaiban cinta rasul
Saya co-writer di buku Keajaiban Cinta Rasul ini. Pertama terbit indie di Indie Pro Publishing,
kemudian diterbitkan oleh Inteam Publishing, Malaysia.
 
Kalau cuma punya dana Rp500.000, saya lebih menyarankan ia untuk menulis sendiri saja atau ikut pelatihan menulis. Setelah ikut pelatihan, menulis sendiri. Saya pribadi merekomendasikan beberapa kelas menulis dalam Belajar Menulis pada Ahlinya

"Kok mesti bayar sih, Mbak? Menulis itu kan amal jariah, ladang pahala. Nggak pantes masang harga buat menulis."

Iya, ada yang marah-marahin saya begitu setelah tahu menggunakan jasa saya sebagai co-writer tidak gratis. Ladang pahala? Membayar upah orang sebelum keringatnya kering juga ladang pahala, lho :)

Bagi dua royalti juga bukan ide menarik, apalagi ditambahi embel-embel dia ingin belajar nulis + self editing gratisan dan saya pula yang harus mencari penerbit.


Sudah Punya Jam Terbang  

Menjadi ghostwiter dan co-writer tentu tidak asal-asalan. Tidak asal comot orang. GW dan CW bukan orang yang baru belajar menulis, bukan orang yang tidak pede dengan hasil tulisannya. 

Ghostwriter dan Co-writer adalah orang yang sudah memiliki jam terbang dalam dunia menulis. Bisa penulis, jurnalis, atau editor. GW dan CW juga harus memiliki keterampilan menulis yang baik dan mampu menyunting tulisan. 

Dengan keterampilan dan portofolio seperti itu, masa sih mau membayar Rp500.000 untuk satu naskah setebal 100 halaman atau bahkan lebih?

jasa co-writer
Ini sih novel sendiri. Lagi narsis aja :D
Berminat menjadikan saya CW khusus untuk naskah nonfiksi? Ada produk atau jasa yang perlu di-review? Silakan kontak saya di email: kerjasamatria@gmail.com.

Terima kasih.

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com

No comments

Komentar dimoderasi dulu ya karena banyaknya spam. Terima kasih sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari tulisan di blog ini :)