Saya Bahagia Menjadi Perempuan


Hari Kartini

Saya perempuan yang ketika perempuan lain berbinar-binar melihat tas kulit bermerek, baju berenda-berpayet-melambai-berkesan mewah, saya malah terpesona pada ransel cowok yang tampak gagah elegan, pada baju berwarna dominan hitam yang minim aplikasi.

Ketika perempuan lain heboh dengan seperangkat make up, saya cukup dengan bedak dan satu lipstik saja. Kalau belum habis, tak perlu beli yang baru.

Ketika perempuan lain sibuk mengurus kuku-kuku cantik dan kulit halus mereka di salon, saya menyandang ransel di bawah panas matahari, mengobrol dengan pelapak pinggir jalan, ditemani debu dan asap knalpot Mencari-cari buku dan majalah lawas yang akan saya jual lagi.

Ketika perempuan lain ribut ingin beli ini itu, saya lama berpikir: Apa saya benar-benar BUTUH ini itu? Kalau benar butuh, apa saya bisa membelinya tanpa berutang?

Ketika perempuan lain kumpul-kumpul ngerumpi, saya memilih pergi. Meski bukan seleb, saya tahu perihnya dijadikan bahan gunjingan.

Ketika perempan lain mulai membicarakan suami mereka (bahkan sampai ke urusan tempat tidur) dan suami orang lain, saya memilih menjauh.

Ketika perempuan lain ngotot menawar barang hingga semurah mungkin, saya berusaha tak menawar karena tak ingin menutup rezeki si pedagang dan membuatnya menangis dalam hati.

Ketika perempuan lain mendesak suami mereka untuk beli ini itu agar terlihat keren, saya mendesak diri saya mengalokasikan dana untuk pendidikan anak-anak.

Bagaimanapun, saya bahagia menjadi perempuan. Ya, dengan segala kelebihan dan kekurangan saya.

Selamat Hari Kartini.

Tidak ada komentar

Komentar dimoderasi dulu karena banyak spam. Terima kasih.